Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah menandatangani

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah menandatangani

Gencar Hilirisasi, Bukit Asam Ekspansi Rp 3,8 Triliun

Jumat, 12 Maret 2021 | 17:57 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 3,8 triliun tahun ini. Dana tersebut akan diamnfaatkan untuk menopang proyek hiliriasi dan diversifikasi bisnis perseroan. Sedangkan produksi dan penjualan batubara ditargetkan masing-masing sebanyak 29,5 juta ton dan 30,7 juta ton selama 2021.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan, belanja modal 2021 dipastikan lebih tinggi dari realisasi capex 2020 sebesar Rp 1,3 triliun. Perseroan berharap program vaksinasi Covid-19 bisa berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi, sehingga berdampak positif terhadap permintaan batu bara di pasar ekspor maupun domestik.

“Harga batu bara menunjukkan perbaikan dari September 2020 hingga Februari 2021. Kami juga akan meningkatkan diversifikasi usaha tahun ini, terutama proyek hilirisasi batu bara,” jelas dia saat pemaparan kinerja secara virtual, Jumat (12/3).

Proyek prioritas yang dijalankan Bukit Asam adalah kerjasama dengan Air Products and Chemicals Ic bersama PT Pertamina (Perseron) untuk hilirisasi batu batu bara menjadi dymethil ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Pihaknya menyakini proyek DME ini bisa commercial operation date (COD) pada 2024.

Selanjutnya, proyek diversifikasi lain yang tengah disiapkan Bukit Asam adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Proyek PLTS akan dikembangkan di bandara, yang merupakan bentuk kolaborasi dengan Angkasa Pura II. Selain itu, PLTS juga akan dibangun di lahan pascatambang perseroan, yakni Ombilin, Sumatera Barat. PLTS di Ombilin direncanakan berkapasitas 200 megawatt (MW).

“Mengenai PLTS ini, kami mencari teknologi yang paling efisiensi. Kami melakukan studi dengan PLN untuk melengkapi studi-studi sebelumya supaya ada biaya yang efektif bagi Bukit Asam dan PLN,” kata Arfiyan.

Adapun strategi efisiensi masih menjadi fokus perseroan pada 2021, mengingat strategi ini mampu membantu posisi bottom line. Bukit Asam tercatat membukukan laba bersih Rp 2,38 triliun pada 2020, turun 41,2% dibanding 2019 sebesar Rp 4,05 triliun. Sementara pendapatan perseroan turut terpangkas 20,28% menjadi Rp17,3 triliun pada 2020, dari Rp 21,7 triliun pada 2019.

Menurut Arfiyan, tanpa efisiensi sulit bagi perseroan mencapai laba pada 2020. Pasalnya, perseroan mengalami tekanan penjualan, yang ditambah lagi dengan faktor pelemahan harga batu bara selama 2020.

Menurut Arviyan, pihaknya mencatat penghematan operasional sebesar Rp 825 miliar pada tahun lalu. Dari sisi kinerja operasional, Bukit Asam mencatatkan penjualan sebesar 26,1 juta ton batubara pada tahun lalu. Realisasi tersebut sebenarnya menurun dari 2019 yang sebesar 27,79 juta ton. Namun, realisasi penjualan ini 5% lebih tinggi dari target yang dipasang pada 2020, yakni sebesar 24,86 juta ton.

Lebih lanjut, perseroan berhasil memproduksi 24,84 juta ton batubara sepanjang 2020, menurun 14,5% dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 29,07 juta ton. Realisasi produksi ini hampir mencapai target yang ditetapkan sesuai RKAP Perubahan Tahun 2020 sebesar 25,1 juta ton. “Tahun lalu semua sektor terkena dampak pandemi Covid-19, terutama energi karena negara tujuan ekspor menerapkan lockdown, terutama Tiongkok dan India,” kata dia.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN