Menu
Sign in
@ Contact
Search
Gojek, unit bisnis GoTo. (IST)

Gojek, unit bisnis GoTo. (IST)

GOTO On Track untuk Capai Profit, Begini Penjelasannya

Kamis, 29 September 2022 | 20:11 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Cara menilai perusahaan teknologi seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berbeda dengan perusahaan pada umumnya. Hal ini yang membuat perusahaan ekosistem digital terbesar di Indonesia ini dinilai positif, meskipun masih mengalami rugi bersih pada pos bottom line.

Direktur PT Indovesta Utama Mandiri, Rivan Kurniawan menjelaskan cara menilai perusahaan teknologi memang masih merupakan hal baru. Maka dibutuhkan edukasi, sehingga bisa lebih bijaksana dalam menilainya, terutama sebagai pertimbangan investor dalam berinvestasi.

”Kita bisa lihat meskipun GOTO masih mencatatkan rugi bersih secara bottom line, akan tetapi dengan rugi EBITDA margin dan persentase Contribution Margin (CM) yang semakin kecil maka GOTO sudah di jalur yang tepat untuk mencapai profit,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari video edukasi yang juga diunggah di akun YouTube Rivan Kurniawan, Kamis (29/9/2022).

Baca juga: Macquarie: Saham GOTO Outperform

Karena itu, perlu memahami matriks apa saja yang digunakan untuk memahami perusahaan teknologi seperti GOTO. Matriks pertama dikenal sebagai Gross Transaction Value (GTV). ”Di perusahaan lain ada juga yang menggunakan istilah GMV (Gross Merchandise Value) atau TPV (Total Processing Value). Pengertiannya mirip-mirip meskipun ada perbedaan sedikit,” terangnya.

Secara sederhana, kata dia, GTV di GOTO adalah total transaksi yang diproses dalam ekosistem GOTO. Khusus pada kuartal II-2022 saja, GTV GOTO tercatat meningkat 39% menjadi sebesar Rp151 triliun dibandingkan semester I-2021. Secara total, pada pertengahan tahun ini, GTV GOTO tercatat sebesar Rp 290,5 triliun atau naik 42% dari Rp 204,3 triliun pada pertengahan tahun sebelumnya.

GTV ini turut mendorong peningkatan pendapatan bruto GOTO yang naik signifikan yaitu hampir 100% dari Rp 5,37 triliun pada semester I-2021 menjadi Rp 10,73 triliun pada semester I-2022. Adapun pendapatan bersih naik 73,3% dari Rp 1,96 triliun menjadi Rp 3,39 triliun.

Matriks penting lainnya dalam menilai perusahaan teknologi terutama dalam hal ini GOTO adalah Contribution Margin (CM). Secara sederhana CM adalah perhitungan dari revenue (pendapatan) setelah dikurangi biaya-biaya variabel atau variable expenses dari GOTO.

Baca juga: Layanan Tokoscore Bisa Dongkrak Pendapatan GOTO

”Apa bedanya CM dengan Operating Profit Margin yang sudah lebih familiar? Variable cost yang dimaksud di sini tidak sama dengan operating expenses atau beban bisnis. Beban bisnis terdiri atas variable cost dan non-variable cost dimana variable cost adalah beban-beban yang akan meningkat seirama dengan peningkatan skala bisnis GOTO. Misalnya biaya jasa IT, biaya pemrosesan, biaya marketing atau advertising, atau biaya promosi,” ulasnya.

Hasil dari matriks CM ini bisa memperlihatkan kepada investor apakah sumber pendapatan (revenue stream) dari GOTO bisa tumbuh melampaui Variable Cost (VC) ke depannya. Saat ini, terdapat tiga segmen bisnis sebagai revenue stream GOTO yaitu segmen bisnis on-demand, e-Commerce, dan Financial Technology (Fintech).

”Jika CM GOTO ke depannya positif, maka hal ini menandakan VC yang dikeluarkan oleh perusahaan sudah lebih kecil daripada pendapatan yang berhasil didapatkan perusahaan. Membuktikan perusahaan sudah bisa scale-up semua lini bisnisnya secara lebih efisien,” kata Rivan, yang juga aktif sebagai Indonesia Value Investor.

Dalam laporan keuangan GOTO pada semester I 2022, secara persentase, CM terhadap GTV sudah meningkat 47 basis poin (bps) menjadi minus 1,3% dibandingkan minus 1,8% pada semester I tahun sebelumnya.

Baca juga: Tarif Ojol Lebih Tinggi dari Ketentuan? Ini lho Penyebabnya

”Kenapa membandingkan CM terhadap GTV adalah supaya kita bisa mengukur seberapa besar GOTO bisa memonetisasi bisnis mereka di dalam ekosistem GOTO. Kondisi CM GOTO yang masih negatif sekarang menandakan bahwa sebenarnya bisnis GOTO memang masih merugi jika dibandingkan VC yang sudah dikeluarkan,” tuturnya.

Faktanya, pada setengah tahun ini, GOTO memang masih tercatat rugi bersih sebesar Rp 13,64 triliun atau meningkat 117% dibandingkan rugi bersih Rp 6,28 triliun pada setengah tahun pada 2021. Meskipun, pembengkakan kerugian ini juga sebagai akibat mulai dikonsolidasikannya kinerja Gojek dan Tokopedia pasca merger kedalam laporan keuangan GOTO.

Meski begitu, kata Rivan, mulai mengecilnya persentase CM terhadap GTV ini memperlihatkan bahwa GOTO sedang berada di jalur yang positif.

Dalam earnings call-nya, GOTO memprediksi CM secara keseluruhan akan menyentuh angka positif pada kuartal I-2024. Akan dimulai dari positifnya CM terhadap GTV dari segmen bisnis on-demand pada kuartal I-2023. Disusul, segmen bisnis e-Commerce pada kuartal IV-2023.

”Tapi perlu tahu juga CM yang nantinya positif bukan berarti bottom line perusahaan akan langsung hijau,” kata Rivan.

Baca juga: Traveloka Raih Pendanaan dari INA dan BlackRock Cs Rp 4,5 Triliun

Sebab itu, perlu dipahami juga matriks lainnya yaitu EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization). Dalam dua kuartal berturut-turut yaitu kuartal I dan II tahun 2022, GOTO mampu memperkecil rugi EBITDA dari negatif 4,6% pada kuartal IV-2021 menjadi negatif 3,4% pada kuartal I-2022, dan negatif 2,8% pada kuartal II-2022.

”Artinya lini (segmen) bisnis GOTO semakin efisien dan monetisasi pada segmen on-demand, e-Commerce juga semakin meningkat seiring kenaikan persentase take rate,” jelasnya.

Di segmen bisnis on-demand misalnya, GOTO mencatatkan take rate sebesar 21,6% pada semester I-2022 dibandingkan 19,9% pada semester I-2021. Begitu juga di segmen bisnis e-Commerce, take rate-nya meningkat menjadi 3,1% pada setengah tahun ini dibandingkan 2,4% pada setengah tahun sebelumnya.

Baca juga: Shopee PHK Karyawan, Bukalapak dan JD.ID?

Pada matriks EBITDA, GOTO menggunakan metode EBITDA yang disesuaikan atau adjusted EBITDA. Beberapa faktor yang akan mendukung pertumbuhan GOTO terutama dari sisi CM dan EBITDA marginnya, kata Rivan, salah satunya datang dari sinergi cross selling platform seperti diperlihatkan antara Gojek dengan Tokopedia.

Dimulai dari GoSend yang bisa digunakan di Tokopedia sebagai layanan jasa kirimnya, sehingga meningkatkan permintaan on-demand gojek secara signifikan. Disusul, pembayaran lewat Gopay. Lalu, GoFood yang jadi layanan terbaru di Tokopedia.

Selain itu adalah dari pilar bisnis Fintech yang dimiliki GOTO. Baru-baru ini, perseroan merilis inovasi berupa GoPayLater Cicil di Tokopedia. Selanjutnya, GOTO mulai fokus meningkatkan value added services. Salah satu layanan data Credit Scoring. ”Terakhir, dari GTV GOTO yang masih terus tumbuh agresif,” tutupnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com