Menu
Sign in
@ Contact
Search
Sawit TBS. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Sawit TBS. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Harga CPO Naik

Rabu, 17 Agustus 2022 | 06:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives naik pada perdagangan Selasa (16/8/2022). Setelah pada perdagangan di awal pekan mengalami anjlok dalam.  

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Selasa (16/8/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman September 2022 naik 62 Ringgit Malaysia menjadi 4.156 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Oktober 2022 terkerek 45 Ringgit Malaysia menjadi 4.170 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman November 2022 menguat 44 Ringgit Malaysia menjadi 4.182 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Desember 2022 terdongkrak 28 Ringgit Malaysia menjadi 4.200 Ringgit Malaysia per ton.

Baca juga:Lama Tak Terdengar, Begini Update Bisnis Sawit Grup Bakrie (UNSP)

Serta, kontrak pengiriman Januari 2023 naik 28 Ringgit Malaysia menjadi 4.246 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Februari 2023 meningkat 28 Ringgit Malaysia menjadi 4.287 Ringgit Malaysia per ton.

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, pergerakan harga CPO pekan ini akan sangat bergantung pada rilisnya data penting pada awal pekan antara lain bea keluar CPO Indonesia untuk paruh kedua Agustus. “Serta, data ekspor CPO Malaysia untuk paruh pertama Agustus,” ungaknya kepada Investor Daily, belum lama ini.  

Yoga menjelaskan, dari Indonesia antara lain keputusan bea keluar CPO Indonesia untuk paruh kedua Agustus dan perkembangan terkait kebijakan DMO serta B40. Sementara dari Malaysia antara lain rilisnya data ekspor CPO Malaysia untuk paruh pertama Agustus serta perkembangan isu tenaga kerja.

Baca juga: Astra Agro (AALI) Tabur Rp 497 Miliar di Kebun Sawit, untuk Apa?

Yoga menambahkan tren pergerakan harga minyak nabati, terutama minyak kedelai, mempertimbangkan sentimen yang ada saat ini yaitu cuaca buruk di negara produsen utama seperti AS dan Brasil, maka harga berpotensi bergerak bullish. “Meski demikian, ada sentimen yang berpotensi membuat harga terkoreksi, yaitu dari situasi ekspor melalui jalur Laut Hitam yang kembali pulih,” jelasnya.

Lebih lanjut Yoga mengatakan, untuk sentimen yang dipantau antara lain perkembangan situasi ekspor Ukraina melalui jalur Laut Hitam dan juga sinyal dimulainya perang tarif baru antara AS dan Tiongkok.

“Untuk potensi resistance minyak kedelai berada di kisaran harga US$ 650-700 per ton. Apabila menemui katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju support di kisaran harga US$ 400 - 350 per ton,” tutup Yoga.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com