Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Mas akan IPO sebanyak 15% saham

Bank Mas akan IPO sebanyak 15% saham

Harga IPO Bank Mas Rp 3.360

Kamis, 24 Juni 2021 | 22:26 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Multiartha Sentosa Tbk atau Bank Mas yang merupakan bagian dari Wings Group menetapkan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sebesar Rp3.360. Pencatatan saham Bank Mas di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 Juni 2021.

Berdasarkan keterbukaan informasi pada Rabu (23/6), perseroan berencana melepas 186,17 juta saham ke publik atau mewakili 15% dari modal yang ditempatkan dan disetor perseroan. Dengan demikian, dana yang bisa diraihBank Mas dari IPO ini sebesar Rp 625,55 miliar.

Bersamaan dengan pelaksanaan IPO, perseroan juga menerbitkan 186,17 juta Waran Seri I atau 17,65%dari modal yang ditempatkan dan disetor perusahaan. Harga pelaksanaan dari Waran Seri I adalah Rp 3.500 sehingga total dana yang bisa diraih dari Waran Seri I adalah Rp 651,61 miliar. Perseroan juga mengalokasikan 1,26 juta atau 0,68% untuk program employee stock allocation (ESA).

Sesuai rencana, Bank Mas akan melakukan masa penawaran awal pada 7-15 Juni 2021. Kemudian, perseroan berharap mendapatkan pernyataan efektif pada 22 Juni 2021.

Lalu, masa penawaran umum pada 24-28 Juni 2021, distribusi secara elektronik pada 29 Juni 2021 dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 Juni 2021. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek dari IPO adalah PT BCA Sekuritas.

Adapun dana dari IPO akan digunakan untuk memperkuat permodalan. Hal ini sesuai dengan POJK No.12/POJK.03/2020 tentang pemenuhan modal inti minimal Rp 3 triliun. Sebagai bagian dari penguatan modal itu, perseroan akan menggunakan 85% dari dana IPO untuk penyaluran kredit.

Sementara 15% lainnya untuk pengembangan digital banking yang akan dilaksanakan pada 2021-2022. Dalam pengembangan digital banking ini, perseroan masih dalam tahap melakukan pemilihan vendor.

Setelah tahap ini selesai, perseroan akan mulai mengembangkan digital banking berupa pengembangan layanan self-service pada kantor bank, customer onboarding, serta pengembangan layanan vir tual account, QR code debit, dan cardless cash withdrawal  

Adapun Bank Mas merupakan bagian dari Wings Group. Pada 2013, Wings Group melalui PT Lumbung Artakencana mengakuisisi kepemilikan dua pemegang saham Bank Mas, yakni PT Danabina Sentana dan PT Multi Anekadana Sakti. Saat ini, Danabina Sentana menggenggam 70% kepemilikan di Bank Mas dan Multi Anekadana memiliki 25% saham lainnya. Sedangkan 5% sisanya dimiliki oleh PT Halim Sakti. Setelah IPO, kepemilikan Danabina Sentana akan berkurang menjadi 59,5% dan Multi Anekadana menjadi 21,25%.

Sementara Halim Sakti menjadi 4,25%. Sisanya akan dimiliki masyarakat 14,85% dan karyawan 0,15%.

Kemudian, setelah pelaksanaan IPO, pelaksanaan ESA dan Waran Seri I, kepemilikan Danabina Sentana akan berkurang menjadi 51,74%. Multi Anekadana menjadi 18,48%, masyarakat 12,95%, karyawan 0,09% dan pemegang Waran Seri I 13,04%.

Investment Information Head PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Roger menjelaskan, minat perbankan, terutama bank kecil untuk melakukan IPO tahun ini memang cukup tinggi. Hal ini dipicu oleh kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai peningkatan modal inti secara bertahap menjadi Rp 3 triliun sebelum Desember 2022. Namun terlepas dari tingginya minat itu, perbankan tahun ini menghadapi beberapa kendala yang bisa mempengaruhi harga sahamnya.

“Kendala ini lantaran pandemi Covid-19 yang berdampak pada kualitas kredit (non performing loan/NPL) dan pengetatan pencadangan dalam memperkuat manajemen risiko,” ujar dia kepada Investor Daily, Rabu (23/6).

Namun di balik kendala itu, ada beberapa sentimen positif yang bisa menunjang saham bank. Salah satunya adalah banyaknya aksi korporasi seperti rights issue yang dilakukan bank untuk memperkuat modalnya.

Adapun saham bank yang menurut Roger cukup menarik tahun ini adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). Saham BBRI dinilai menarik karena langkah perusahan yang akan menjadi holding ultramikro dan rencana rights issue. Sementara BBTN menjadi menarik karena kinerjanya yang cukup positif.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN