Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Proyek Harum Energy. Foto: DEFRIZAL

Proyek Harum Energy. Foto: DEFRIZAL

Harum Energy Akuisisi Tambang Nikel US$ 80,32 Juta

Selasa, 2 Februari 2021 | 05:40 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Harum Energy Tbk (HRUM) melalui anak usahanya, PT Tanito Harum Nickel, mengakuisisi perusahaan nikel, PT Position, senilai US$ 80,32 juta. Perseroan memborong 24.287 saham milik Aquila Nickel Ptd Ltd atau setara 51% dari seluruh modal Position.

Direktur Utama Harum Energy Ray A. Gunara mengatakan, tujuan dari transaksi yang dilakukan perseroan adalah mengembangkan dan memperluas kegiatan usaha di bidang pertambangan. “Tidak ada dampak material dari pembelian saham tersebut terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan dan kelangsungan usaha perseroan,” jelas dia dalam keterangan tertulis, Senin (1/2).

Manajemen perseroan belum menjelaskan secara spesifik latar belakang Position. Namun, sebagai gambaran umum, Aquila Nickel merupakan salah satu portofolio investasi Solway Investment Group, perusahaan investasi global yang berkantor pusat di Swiss. Perusahaan fokus pada bisnis pertambangan dan logam. Portofolio investasi perusahaan memiliki pabrik dan tambang logam di Guatemala, Ukraina, Rusia, Indonesia, dan Makedonia.

Berdasarkan website Solway, proyek Aquila di Indonesia berlokasi di Halmahera, yang diperkirakan memiliki sumber daya lebih 120 juta ton bijih dry saprolite dengan kadar nikel rata-rata 1,58%, serta lebih 80 juta ton bijih dry limonite dengan kadar nikel 1,15% dan kobalt 0,15%.

Akuisisi Position ini menambah akusisi yang dilakukan Harum Energy setidaknya dalam enam bulan terakhir. Pada Juni 2020, Harum Energy sempat memborong 39 juta saham perusahaan tambang nikel asal Australia, Nickel Mines Ltd, sebesar Aus$ 34,26 juta. Setelah pembelian tersebut, manajemen Harum berencana akan meningkatkan porsi kepemilikan saham di perusahaan tersebut.

Pembelian saham Nickel Mines merupakan upaya Harum Energy mendiversifikasikan usaha perseroan ke sektor non-batu bara. Kendati Nickel Mines adalah perusahaan yang tercatat di bursa efek luar negeri, namun seluruh operasinya berada di Indonesia.

Nickel Mines adalah perusahaan publik asal Australia yang bergerak di bisnis tambang yang memproduksi nickel pig iron (NPI), salah satu bahan utama dalam produksi baja tahan karat (stainless steel). Nickel Mines memegang kepemilikan 60% di proyek Hengjaya Nickel dan Ranger Nickel, keduanya mengoperasikan pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang memproduksi NPI di Indonesia Morowali Industrial Park.

Manajemen menilai, Nickel Mines merupakan investasi yang sangat prospektif sehingga perseroan akan mempertimbangkan untuk menambah kepemilikan saham. “Tapi mengenai jumlah saham, saat pembelian, dan harga pembelian akan sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar. Seperti yang telah kami informasikan di laporan keuangan dan laporan-laporan kami yang lain, harga saham Nickel Mines sudah jauh lebih tinggi dibandingkan harga saham pada saat kami melakukan akuisisi saham tersebut. Hal ini akan menjadi pertimbangan bagi kami untuk melakukan investasi di Nickel Mines,” ungkap manajemen Harum Energy, baru-baru ini.

Hingga kuartal III-2020, Harum Energy membukukan laba bersih sebesar US$ 25,73 juta atau naik 60,41% dibandingkan periode sama tahun 2019 yang mencatatkan laba bersih sebesar US$ 16,04 juta. Total pendapatan perseroan pada akhir kuartal III-2020 tercatat sebesar US$ 136,14 juta atau turun 32% dibandingkan periode sama tahun 2019 yang sebesar US$ 200,28 juta.

Adapun beban pokok pendapatan dan beban langsung tercatat sebesar US$ 98,72 juta atau turun 33,33% dibandingkan akhir kuartal III-2019 yang sebesar US$ 147,89 juta. Alhasil, perseroan membukukan laba kotor pada akhir kuartal III-2020 sebesar US$ 37,41 juta atau turun 28,57% dibandingkan periode sama tahun 2019 yang sebesar US$ 52,38 juta.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN