Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Proyek Harum Energy. Foto: DEFRIZAL

Proyek Harum Energy. Foto: DEFRIZAL

Harum Energy Borong Lagi Saham Nickel Mines

Senin, 17 Mei 2021 | 22:18 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Harum Energy Tbk (HRUM) kembali menambah investasinya dengan memborong saham Nickel Mines Ltd, perusahaan publik di Australia, senilai Aus$ 45,03 juta atau setara Rp 499 miliar. Dengan tambahan investasi itu, Harum Energy kini memiliki 6,73% saham Nickel Mines.

Direktur Utama Harum Energy Ray A. Gunara menjelaskan, investasi dilakukan pada 12 Mei 2021. Pada periode itu, Harum Energy membeli sebanyak 51,25 juta saham Nickel Mines. “Per tanggal 12 Mei 2021, Harum Energy memiliki 6,73% dari seluruh modal ditempatkan dalam Nickel Mines," jelas Ray dalam keterangan tertulis, Senin (17/5).

Adapun pada Mei 2020, Harum Energy tercatat membeli 68,53 juta saham Nickel Mines dengan nilai transaksi sebesar Aus$ 34,26 juta. Dengan pembelian tersebut, Harum Energy memiliki 3,22% saham Nickel Mines.

Lalu, pada Juni 2020, Harum Energy membeli lagi 10,55 juta saham Nickel Mines senilai Aus$ 5,27 juta. Dengan pembelian itu, saham yang sebelumnya dibeli Harum Energy mencapai 79,08 juta saham atau sebanyak 3,72%. Terakhir, pada Desember 2020, Harum Energy membeli lagi 39,08 juta saham Nickel Mines senilai Aus$ 36,74 juta.

Secara total, sepanjang 2020, Harum Energy sudah membeli 118,17 juta saham Nickel Mines dengan total transaksi sebesar Aus$ 76,28 juta. Dengan pembelian saham tersebut, Harum Energy mengantongi 4,7% saham Nickel Mines.

Pembelian saham tersebut merupakan upaya Harum Energy mendiversifikasikan usaha perseroan ke sektor non-batu bara. Kendati Nickel Mines adalah perusahaan yang tercatat di bursa efek luar negeri, namun seluruh operasinya berada di Indonesia. Nickel Mines merupakan perusahaan yang bergerak di bisnis tambang yang memproduksi nickel pig iron (NPI), salah satu bahan utama dalam produksi baja tahan karat (stainless steel).

Nickel Mines memegang kepemilikan 60% di proyek Hengjaya Nickel dan Ranger Nickel. Keduanya mengoperasikan pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang memproduksi NPI di Indonesia Morowali Industrial Park.

Selain membeli saham Nickel Mines, Harum Energy membeli saham perusahaan tambang lainnya. Pada awal 2021, perseroan melakukan dua akuisisi tambang nikel. Pertama, pada 28 Januari 2021, Harum Energy melalui entitas usahanya, PT Tanito Harum Nickel, mengakuisisi 51% atau 24.287 saham perusahaan tambang nikel, PT Position, senilai US$ 80,32 juta. Setelah akuisisi tersebut, Tanito Harum Nickel mengakuisisi lagi 24,5% atau 259.603 saham perusahaan pemurnian nikel, PT Infei Metal Industry, dengan nilai US$ 68,6 juta.

Dengan adanya akuisisi ini, perseroan berharap bisa berdampak positif terhadap kinerja perseroan. Akan tetapi, dampak dari akuisisi dua perusahaan nikel ini baru akan dirasakan pada tahun depan. Pasalnya, tambang nikel yang diakuisisi baru beroperasi pada tahun 2022.

Kinerja

Hingga kuartal I-2021, Harum Energy membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 17,61 juta. Laba tersebut meningkat sekitar 2.044% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 821,37 ribu.

Harum Energy bisa membukukan peningkatan laba, meski pendapatan pada tercatat menurun 6,71% dari US$ 61,19 juta pada kuartal I-2020 menjadi US$ 57,08 juta pada kuartal I-2021. Sebab, Harum Energy memperoleh pendapatan lainnya sebesar US$ 9,27 juta pada kuartal I-2021.

Perseroan juga mencatat peningkatan aset sebesar 19,36% menjadi US$ 595,26 juta pada kuartal I-2021. Sebelumnya pada akhir 2020, Harum Energy membukukan aset sebesar US$ 498,7 juta. Peningkatan aset ini ditopang oleh aset lancar sebesar US$ 195,6 juta dan aset tidak lancar sebesar US$ 399,65 juta.

Sementara, liabilitas juga ikut meningkat menjadi US$ 118,78 juta. Peningkatan liabilitas ini karena peningkatan liabilitas jangka panjang sebesar US$ 86,74 juta yang berasal dari pinjaman bank sebesar US$ 67,81 juta.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN