Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Proyek Harum Energy. Foto: DEFRIZAL

Proyek Harum Energy. Foto: DEFRIZAL

Harum Energy Tarik Pinjaman Sindikasi US$ 69 Juta

Selasa, 6 April 2021 | 18:02 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id -  PT Harum Energy Tbk (HRUM) menarik pinjaman sindikasi senilai US$ 69 juta. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk mendanai akuisisi perusahaan nikel pada Februari silam.

Berdasarkan laporan keuangan untuk periode akhir 2020, Harum Energy memperoleh pinjaman sindikasi pada 30 Desember 2011 dengan total US$ 270 juta. Pinjaman sindikasi ini berasal dari DBS Bank Ltd, United Overseas Bank Limited, Oversea-Chinese Banking Corporation Limited, The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd (Cabang Singapura), PT Bank ANZ Indonesia dan The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd (Cabang Jakarta).

Namun pada Desember 2013, perseroan memperpanjang tenor pinjaman selama 36 bulan dan fasilitas pinjaman diamandemen menjadi US$ 200 juta. Setelah perubahan itu, Harum Energy beberapa kali melakukan perubahan lagi hingga puncaknya pada 8 Oktober 2020.

Adapun pada 8 Oktober 2020, perusahaan memperpanjang fasilitas pinjaman hingga 30 Juni 2023 dan maksimum pinjaman diturunkan menjadi US$ 125 juta. Tingkat bunga dari pinjaman ini ditetapkan sebesar Libor + 2,18% per tahun (offshore) dan Libor + 2,38% (onshore).

Hingga akhir 2020, Harum Energy belum menggunakan fasilitas pinjaman tersebut. Namun pada 17 Februari 2021, Harum Energy menarik sebesar US$ 69 juta dari total US$ 125 juta pinjaman sindikasi tersebut. Adapun penarikan pinjaman ini bertujuan untuk mendanai akuisisi tambang nikel yang dilakukan perseroan.

"Pinjaman digunakan untuk membiayai akuisisi 24,5% saham Infei Metal Industry, perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan nikel," jelas Direktur Utama Harum Energy Ray Antonio Gunara dalam keterangan tertulis kepada Investor Daily, Selasa (6/4).

Pada awal 2021 silam, Harum Energy merealiasikan dua akuisisi tambang nikel. Pertama adalah pada 28 Januari 2021, Harum Energy melalui entitas usahanya, PT Tanito Harum Nickel mengakuisisi 51% atau 24.287 saham perusahaan tambang nikel, PT Position senilai US$ 80,32 juta. Setelah akuisisi tersebut, Tanito Harum Nickel mengakuisisi lagi 24,5% atau 259.603 saham perusahaan permunian nikel, PT Infei Metal Industry dengan nilai US$ 68,6 juta.

Ray menyampaikan, setelah akuisisi tersebut, pihaknya belum akan melakukan akuisisi lagi dalam waktu dekat. "Namun perusahaan akan terus menjajaki peluang akuisisi tambang nikel lain untuk meningkatkan jumlah sumber daya yang dapat dikelola," jelas Ray.

Dengan akuisisi ini, kinerja keuangan perseroan diharapkan bertumbuh. Hanya saja dampaknya diperkirakan baru terlihat tahun depan. Pasalnya, tambang nikel yang diakuisisi baru beroperasi pada tahun 2022.

Sebelumnya, pada 2020, Harum Energy juga mengakuisisi perusahaan tambang nikel lainnya, yakni Nickel Mines Ltd. Akuisisi perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Australia ini dilakukan pada Mei, Juni dan Desember 2020 dengan nilai total saham yang diakuisisi sebesar 118,17 juta saham atau 4,07% saham Nickel Mines. Nilai total dari akuisisi Nickel Mines mencapai US$ 53,49 juta. Pembelian saham Nickel Mines merupakan upaya Harum Energy mendiversifikasikan usaha perseroan ke sektor non-batu bara.

Sementara hingga akhir 2020, Harum Energy mencatat perolehan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 59 juta. Nilai ini meningkat 218,91% dibandingkan akhir 2019 yang mencapai US$ 18,5 juta.

Pertumbuhan laba ini bisa diperoleh, meski pada akhir 2020 Harum Energy membukukan penurunan pendapatan sebesar 39,9% dari US$ 262,59 juta pada akhir 2019 menjadi US$ 157,81 juta pada akhir 2020. Namun penurunan pendapatan ini bisa ditutupi oleh penurunan beban pokok pendapatan yang menurun 41,25% menjadi US$ 114,58 juta dari US$ 195,06 juta pada akhir 2019.

 

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN