Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di depan layar pergerakan saham, gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Uthan AR

Pengunjung berada di depan layar pergerakan saham, gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Uthan AR

DIBAYANGI KONFLIK AS-IRAN

IHSG Masih Berpeluang Menguat

Senin, 6 Januari 2020 | 07:25 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih menguat pada pekan kedua awal 2020. Kendati demikian, investor tetap harus mewaspadai memanasnya tensi geopolitik menyusul serangan Amerika Serikat yang membunuh jenderal Iran.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menjelaskan, panasnya tensi di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran bakal terjadinya serangan balasan oleh Iran, pascaterbunuhnya Jenderal Iran Qassem Soleimani dalam serangan udara AS.

“Meningkatnya kekhawatiran akan ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan minyak dan membuat harga minyak naik,” ujarnya kepada Investor Daily, Jakarta, akhir pekan lalu.

Meski demikian, lanjut dia, sentimentersebut diimbangi oleh optimism pasar terhadap penandatanganan fase pertama kesepakatan dagang AS dengan Tiongkok pada 15 Januari mendatang.

Kesepakatan dagang ini menunjukkan kemajuan perdamaian di antara kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu “Optimisme itu juga mendorong produksi di pabrik-pabrik Tiongkok dan tumbuhnya aktivitas manufaktur di negara tersebut dalam dua bulan terakhir.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV

Di sisi lain, indeks Dow Jones AS juga terlihat mengalami break all time high,” papar dia.

Selain itu, keputusan bank sentral Tiongkok yang melonggarkan kebijakan moneter bisa menjadi sentiment positif di pasar keuangan. Bank sentral Tiongkok juga akan menggunakan suku bunga pinjaman sebagai patokan baru untuk menentukan suku bunga mengambang. Hal ini diyakini akan menurunkan biaya pinjaman, yang pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi mereka.

“Di luar sentimen tersebut, investor masih memantau kelanjutan proses Brexit. Pelaku pasar menantikan kemampuan Inggris untuk mencapai kesepakatan perdagangan baru dengan Eropa,” tuturnya.

Dari dalam negeri, lanjut dia, investor akan memperhatikan pertumbuhan ekonomi 2019 yang diperkirakan hanya 4,9-5,04%. Rendahnya pertumbuhan ekonomi ini terindikasi dari rendahnya tingkat inflasi hingga Desember 2019 yang sebesar 2,72% secara tahunan (year on year).

“Meski begitu, di satu sisi, rendahnya inflasi memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk melanjutkan penurunan suku bunga. Apalagi, bila angka pertumbuhan ekonomi terus mengecewakan,” kata dia.

Kembalinya Minat Investor

Pintu masuk Bursa Efek Indonesia., Jakarta. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Pintu masuk Bursa Efek Indonesia., Jakarta. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Dengan berbagai sentimen tersebut, Hans mengatakan, IHSG akan berpeluang menguat dengan support di level 6.263 sampai 6.219 dan resistance di level 6.337 sampai 6.348.

Dia menyarankan pelaku pasar melakukan sell on strength (SOS) ketika harga saham menguat. “Hal ini untuk mengantisipasi koreksi akibat kenaikan IHSG yang sudah cukup tinggi,” ungkap dia.

Sementara itu, pada Jumat pekan lalu, IHSG ditutup menguat 0,64% ke level 6.323,46. Penguatan indeks dipengaruhi oleh penguatan kelompok saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ 45 yang naik 0,93% ke posisi 1.021,48. Sebanyak 8 miliar saham tercatat diperdagangkan dengan nilai Rp 5,73 triliun Jumat lalu.

Ada 204 saham menguat harganya, 186 melemah, dan 155 saham lainnya stagnan. Investor asing mencatatkan aksi beli bersih saham sebesar Rp 773,73 miliar di pasar reguler, negosiasi, dan transaksi. Rinciannya, pembelian senilai sekitar Rp 1,9 triliun dan penjualan jual Rp 1,2 triliun.

Pada kesempatan terpisah, analis PT Philip Sekuritas Anugerah Zamzami juga menilai IHSG akan berpeluang menguat pekan ini. Menurut Zamzami, sentimen positif yang memengaruhi penguatan tersebut adalah kembalinya minat investor asing di pasar saham dalam dua hari pertama di tahun 2020.

“Investor juga menanti rilis data consumer confidence. Selain itu, data cadangan devisa (yang diperkirakan BI naik),” ungkap dia.

Dengan adanya sentimen positif tersebut, Zamzami memperkirakan IHSG bisa melaju ke level resistance di 6.340. Kendati demikian, dia masih melihat adanya kekhawatiran investor akan naiknya tensi geopolitik antara Iran dan AS yang bisa menahan laju IHSG.

Di tengah penguatan IHSG, lanjut Zamzami, pihaknya merekomendasikan beberapa saham dari sektor konstruksi, pertambangan emas, perbankan, dan industri rokok.

Saham- saham tersebut adalah PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) dengan target harga Rp 1.280 per unit, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dengan target harga Rp 2.250, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dengan target harga Rp 1.650, dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) dengan target harga Rp 1.800.

Berikutnya, saham PT Merdeka Copper Tbk (MDKA) dengan target harga Rp 1.220, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengam target harga Rp 900, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dengan target harga Rp 55.000, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dengan target harga Rp 2.250, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan target harga Rp 7.900, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan target harga Rp 4.500.

Sementara itu, analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG akan menguat, dengan pergerakan di level 6.270-6.340 pekan ini. Rencana penandatanganan kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok serta data indeks keyakinan konsumen di dalam negeri diproyeksikan menjadi sentimen positif yang mendorong penguatan IHSG.

Dengan penguatan IHSG itu, Herditya merekomendasikan saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dengan target harga Rp 310-330.

Selain itu, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan target harga Rp 1.230-1.300 dan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) dengan target harga Rp 320-330.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN