Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kinerja IHSG akhir pekan bulan Mei (29/5/2020). Sumber: BSTV

Kinerja IHSG akhir pekan bulan Mei (29/5/2020). Sumber: BSTV

IHSG Naik 0,79% pada Mei, 9 Saham Diakumulasi Asing

Listyorini, Minggu, 31 Mei 2020 | 08:47 WIB

JAKARTA, Investor.id – Selama Mei, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tercatat menguat 0,79% atau 37,43 poin dari posisi 4.716,40 pada 30 April menjadi 4.753,61 pada 29 Mei, mengakhiri perdagangan bulan ini.

Berdasarkan data RTI, dalam sebulan ini investor asing masih mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp 7,2 triliun. Namun di semua pasar (all market termasuk pasar negosiasi) asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 6,44 triliun.

Selama Mei, IHSG bergerak dengan volatilitas sangat tinggi. Sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan indeks adalah ketegangan hubungan antara AS-Tiongkok, informasi seputar vaksin virus corona (Covid-19), dan stimulus yang diluncurkan pemerintah serta bank sentral.

IHSG mengalami penguatan tajam pada minggu-minggu terakhir bulan Mei, mengikuti pergerakan indeks saham dunia. Faktor pemicunya adalah optimisme pembukaan kembali bisnis di sejumlah negara yang diharapkan bisa mempercepat pemulihan ekonomi.

Dari dalam negeri, saham perbankan pada akhir bulan mengalami penguatan tajam karena pelaku pasar merespons positif stimulus dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memberikan relaksasi likuiditas bagi bank.

Relaksasi tersebut berupa pengaturan kewajiban pemenuhan Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) bagi bank BUKU III, BUKU IV, dan bank asing dengan minimal 85% hingga 31 Maret 2021. Bank wajib menyusun rencana tindak untuk mengembalikan pemenuhan LCR dan NSFR menjadi 100% paling lambat 30 April 2021.

Faktor dalam negeri lainnya adalah inflasi yang terkendali pada Mei. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, proyeksi inflasi Mei di luar data historis yang selama ini terjadi, mengingat tahun-tahun sebelumnya setiap periode Ramadhan dan Idul Fitri selalu terjadi inflasi cukup tinggi. Menurut data BI, hingga pekan keempat Mei 2020 terjadi inflasi sebesar 0,09% month-to-month (MoM) dan 2,21% year-on-year (YoY).

Net Buy Asing

Meski di pasar reguler asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 7, 2 triliun, ada sembilan (9) saham yang selama Mei diburu asing. Berdasarkan data RTI, inilah saham-saham yang mencatatkan net buy asing selama bulan Mei.

1. PT Bank Permata Tbk (BNLI) mencatatkan net buy Rp 16,68 triliun, terkait aksi korporasi akuisisi BNLI oleh Bangkok Bank Public Company Limited sebanyak 89,12% dengan nilai sekitar Rp 37 triliun.

2. PT Unilever Tbk (UNVR) selama Mei mencatatkan net buy asing Rp 324,57 miliar.

3. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencatatkan net buy Rp 290,37 miliar.

4. PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) dengan net buy sebesar Rp 221,99 miliar.

5. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dengan net buy Rp 170,55 miliar.

6. PT Bank Tabungan Pensiun Nasional Syariah (BTPS) dengan net buy Rp 111,89 miliar.

7. PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dengan net buy Rp 90.33 miliar.

8. PT Astra Agro Lestari (AALI) dengan net buy Rp 40,83 miliar.

9. PT Media Nusantara Tbk (MNCN) dengan net buy sebesar Rp 91,8 miliar.

Ke depan, faktor global diprediksi masih berpengaruh terhadap pergerakan IHSG, seperti ketegangan hubungan AS-Tiongkok, pembukaan kembali bisnis di sejumlah negara, dan hasil uji coba vaksin.

Dari dalam negeri, bulan Juni, faktor yang menjadi fokus investor adalah keputusan sejumlah daerah yang akan melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), serta realisasi program buyback saham dari sejumlah emiten.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, per 27 Mei, program buyback tanpa harus melalui RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) baru mencapai Rp 1,57 triliun atau setara 8,1% dari komitmen total nilai buyback saham Rp 19,45 triliun.

Menurut dia, emiten BUMN yang mulai mengeksekusi buyback saham berjumlah tujuh perusahaan, sedangkan swasta berjumlah 40 emiten.

Buyback saham bertujuan untuk stabilitas pasar karena harga anjlok akibat pandemi virus corona. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.2/POJK.04/2013 memang mengizinkan emiten melaksanakan program buyback tanpa melalui RUPS.
 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN