Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Indocement. Foto: IST

Indocement. Foto: IST

Indocement Paling Diuntungkan

Selasa, 26 Januari 2021 | 04:29 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Permintaan semen yang diyakini meningkat sejalan dengan pemulihan ekonomi, serta kenaikan rata-rata harga jual bakal menopang kinerja keuangan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) tahun ini. Adapun posisi kas bersih yang besar dan rasio dividen mencapai 100% juga menjadi sentimen positif terhadap pergerakan harga saham perseroan dan masih menjadi pilihan teratas di sektor semen.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, volume penjualan semen Indocement pada 2020 sebanyak 16,19 juta ton atau turun dibandingkan realisasi 2019 yang sebanyak 18,1 juta ton. Namun, realisasi itu sudah sesuai dengan proyeksi BRI Danareksa Sekuritas atau setara dengan 101% dari perkiraan.

Penurunan volume penjualan semen sejalan dengan penurunan konsumsi semen nasional sebesar 10,4% menjadi 62,74 juta ton pada 2020. Penurunan penjualan semen Indocement di Jawa Barat mencapai 14,2%, Jawa Tengah mencapai 20,2%, dan Sumatera sekitar 10,6%.

Penurunan penjualan semen nasional dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain pelemahan ekonomi nasional, penundaan pembangunan proyek infrastruktur, dan penerapan pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19.

“Meski terjadi penurunan volume penjualan, perseroan justru masih berhasil mencetak peningkatan pangsa pasar menjadi 25,8% pada 2020 dibandingkan realisasi tahun 2019 sebesar 25,5%,” tulis Maria dalam risetnya.

Pabrik semen Indocement. Foto: Defrizal
Pabrik semen Indocement. Foto: Defrizal

Tahun ini, menurut dia, Indocement berpeluang menjual sebanyak 16,6 juta ton atau bertumbuh 3,6% dari tahun lalu. Begitu juga dengan ratarata harga semen diperkirakan naik 2% tahun ini.

Sebab itu, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham INTP dengan target harga Rp 18.100. INTP masih menjadi pilihan teratas untuk saham sektor semen, seiring dengan ekspektasi minimnya dampak negatif kehadiran dua produsen semen di Indonesia terhadap kinerja perseroan.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang peningkatan kinerja keuangan perseroan tahun ini. Maria menyebutkan, pertumbuhan laba bersih Indocement tahun ini menjadi Rp 1,72 triliun dibandingkan perkiraan tahun lalu Rp 1,48 triliun.

Pendapatan juga diperkirakan naik menjadi Rp 15,03 triliun dibandingkan estimasi tahun 2020 senilai Rp 14,19 triliun.

Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan bahwa outlook Indocement juga didukung upaya manajemen untuk mengintensifkan pemasaran dengan mulai menerapkan sales force automatization (SFA) sejak 2019. Sistem ini diharapkan mencakup penjualan seluruh semen perseroan di Pulau Jawa tahun 2020 dan di luar Jawa tahun 2021.

Perseroan juga berniat memperkuat brand semen Rajawali untuk membidik pasar lapis dua untuk bersaing dengan merek semen baru, seperti Singa Merah di Jawa Timur dan Semen Grobogan di Jawa Tengah. Indocement tidak akan mengorbankan merek Tiga Roda untuk melawan persaingan pasar di brand lapis dua.

Perseroan juga akan diuntungkan oleh pembentukan lembaga pengelola investasi (LPI) atau sovereign wealth fund (SWF) yang diharapkan berdampak positif terhadap investasi di sektor infrastruktur dan secara tidak langsung mendongkrak permintaan semen nasional tahun ini.

indocement
indocement

Sementara itu, tim riset Sinarmas Sekuritas merevisi naik target harga saham INTP menjadi Rp 17.800 dengan rekomendasi beli. Target harga tersebut merefleksikan kuatnya pemulihan permintaan semen di Jawa, peningkatan margin keuntungan, dan neraca keuangan yang kuat ditambah rasio dividen 100%.

“Kami memperkirakan Indocement akan menjadi produsen yang paling diuntungkan, abapila pembatasan sosial di Jawa dicabut. Perseroan juga didukung kondisi industri semen nasional yang cenderung lebih sehat dengan perkiraan peningkatan permintan,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Kondisi industri yang sehat, ungkap dia, tercermin dari keberhasilan menaikkan harga jual berkisar 2,3% tahun lalu di tengah kondisi pasar semen belum pulih. Meski harga jual dinaikkan, Indocement mampu untuk mempertahankan pangsa pasar.

“Kami memperkirakan peningkatan harga jual semen juga bakal kembali dilakukan perseroan tahun ini berkisar 2,7% dan tahun 2022 sekitaar 3%. Peningkatan harga jual diharapkan berimbas terhadap pertumbuhan pendapatan dan laba bersih,” tulisnya.

Perseroan juga didukung neraca keuangan yang sehat dengan posisi kas bersih senilai Rp 6,8 triliun atau setara dengan 12,8% dari kapitalisasi pasar saham Indocement hingga kuartal III-2020. Indocement juga tercatat sebagai perusahaan dengan rasio dividen besar, yaitu mencapai 100% dari total laba bersih.

Kondisi ini mendorong Sinarmas Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham INTP dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 17.800. Target harga tersebut juga mempertimbangkan perkiraan peningkatan laba bersih Indocement menjadi Rp 1,79 triliun tahun ini dibandingkan perkiraan tahun lalu Rp 1,67 triliun. Pendapatan bersih perseroan juga diharapkan naik menjadi Rp 16,03 triliun dari estimasi tahun 2020 senilai Rp 14,7 triliun.

Tumbuh 4%

Pabrik Indocement. Foto: DEFRIZAL
Pabrik Indocement. Foto: DEFRIZAL

Tahun ini, Indocement menargetkan pertumbuhan volume penjualan sebesar 4% dibandingkan pencapaian tahun lalu. Hal ini sejalan dengan berbagai faktor positif yang menopang industri semen nasional, mulai dari suku bunga rendah hingga pembentukan SWF.

Sekretaris Perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Antonius Marcos menjelaskan, tahun ini, perseroan memperkirakan peningkatan daya beli masyarakat terhadap produk properti, seiring suku  bunga yang rendah. Kondisi itu bakal mendorong permintaan semen.

“Ditambah dengan SWF, ini menjadi kabar baik bagi industri,” kata dia kepada Investor Daily.

Dia menegaskan, faktor positif tersebut menjadi alasan bagi perseroan untuk menargetkan peningkatan volume penjualan di atas perkiraan pertumbuhan industri semen pada 2021 yang berkisar 1-2%. Untuk mengejar target tersebut, perseroan berencana melakukan perluasan pasar dengan menyasar negaranegara tujuan ekspor yang potensial, antara lain Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia dan beberapa negara tetangga lainnya.

“Di dalam negeri, kami tetap fokus pada pasar utama, yaitu wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek),” tuturnya.

Dari segi anggaran, menurut Antonius, perseroan masih melakukan finalisasi. Meski demikian, belanja modal (capital expenditure/capex) 2021 akan dibiayai dari kas internal yang saat ini mencapai Rp 7 triliun.

“Kami tidak memiliki utang atau zero debt. Itu menjadi salah satu keunggulan kami,” ujar dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN