Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan produksi emas. Foto: PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)

Kegiatan produksi emas. Foto: PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)

Ini Ambisi Archi, setelah Sahamnya Tercatat di BEI

Rabu, 23 Juni 2021 | 22:05 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), perusahaan tambang emas milik Grup Rajawali yang dikendalikan Peter Sondakh, berambisi menjadi perusahaan terintegrasi (integrated player) hingga ke hilir, setelah perseroan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selama ini, Archi hanya fokus pada produksi emas (pure gold player).

Direktur Keuangan Archi Indonesia Adam Jaya Putra menjelaskan, melihat emiten yang tercatat di BEI, saat ini hanya Archi yang hampir 100% pendapatannya dari produksi emas. “Hanya 2% inflow dari perak, itu kecil sekali," kata dia dalam wawancara khusus dengan Investor Daily, Rabu (23/6).

Adam menegaskan, saham Archi bisa menjadi pure gold stock atau saham yang murni dari produksi emas, sehingga bisa melengkapi portofolio investor. Apalagi, di tengah ketidakpastian seperti saat ini, emas bisa menjadi diversifikasi investasi dan lindung nilai bagi portofolio investor. Sebab pergerakan harga emas bisa meningkat, apabila terjadi ketidakpastian di pasar. “Dengan hal itu pula, saat ini Archi belum berencana melirik komoditas lain," ujar dia.

Dengan konsisten pada produksi emas ini, Archi berharap bisa menjadi pemimpin pasar di produksi emas. Menurut Adam, saat ini tambang Martabe menjadi tambang yang menghasilkan cadangan emas terbesar. Namun, Archi juga sedang berusaha meningkatkan cadangan emas melalui kegiatan eksplorasi. Pada 2020, Archi memiliki cadangan bijih emas sebesar 3,9 juta ons atau bertambah dari 2014 yang mencapai 2 juta ons. “Dengan penambahan cadangan emas melalui eksplorasi sudah bisa menjadi yang terbesar," kata dia.

Archi memiliki lokasi tambang di Provinsi Sulawesi Utara, yakni Tambang Emas Toka Tidung. Di lokasi tersebut, Archi baru melakukan eksplorasi dan penambangan sekitar 10% dari luas keseluruhan yang mencapai 40 ribu hektare (ha). Archi berencana untuk mendorong kegiatan eksplorasi tambang ke area proyek Near-mine, Western Corridor, dan Greenfields. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh pakar industri Energy and Mineral Technology International dan diverifikasi oleh SRK Consulting Group, kegiatan eksplorasi pada proyek tersebut bisa cadangan bijih emas baru sebanyak 5,3-13 juta ons.

Selain menjadi market leader, Archi berencana mengembangkan hilirisasi di produksi emas. Adam mengungkapkan, pihaknya berencana membangun refinery (kilang) untuk mengolah bijih emas menjadi emas murni. Selama ini, Archi mengolah bijih emas yang dibeli dari pihak ketiga menjadi emas murni melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan kemudian mengekspornya ke luar negeri.

Archi sebetulnya bisa saja mengolah bijih emas menjadi emas murni secara mandiri dan menjualnya di dalam negeri. Atau, Antam bisa saja membeli bahan baku emas dari Archi tanpa harus mengimpor dari luar negeri. Namun, hal itu tidak dilakukan karena terkendala perpajakan. “Ketika peraturan sudah bisa diselaraskan antara pajak untuk ekspor dan domestik sama, dan make sense buat kami. Kami bisa buat refinery sendiri,” jelas dia.

Adapun untuk membuat refinery, menurut Adam, itu bukan merupakan hal yang kompleks. Sejauh ini, Archi sudah mencari vendor dan kontraktor untuk refinery. Dana yang sudah disiapkan juga tidak besar, yakni sekitar US$ 5 juta. “Dengan membentuk refinery sendiri, kami lebih bisa mengoptimalkan penjualan emas ke sektor ritel," ujar Adam.

Selain refinery, ekspansi lain yang akan dilakukan Archi adalah meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan bijih emas dari 3,6 juta ton per tahun pada akhir 2020 menjadi 8 juta ton per tahun pada akhir 2025. Untuk mendukung itu, Archi menyiapkan belanja modal sebesar US$ 84 juta.

Listing di BEI

Archi akan mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 28 Juni 2021. Masa penawaran umum berlangsung pada 22-24 Juni melalui sistem elektronik. Menurut Adam, sejauh ini minat investor cukup tinggi terhadap saham ARCI. Penawaran yang masuk sudah melebihi penjatahan. “Ada beberapa kali oversubscribed, tapi tidak bisa di-disclose,” kata dia.

Mengenai pengurangan jumlah saham yang dilepas ke publik, Adam menjelaskan bahwa itu bukan karena kondisi pasar modal saat ini atau minat investor yang rendah. Sebanyak 15% saham yang dilepas ke publik disebabkan karena pertimbangan pemilik terhadap perkembangan harga emas yang cukup baik tahun ini.

“Dari awal memang tidak pernah sampai 20%, namun karena memang harus align dengan yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beberapa waktu lalu," ungkap dia. Archi melepas 3,72 miliar (15%) saham ke publik. Dengan harga IPO sebesar Rp 750 per saham, perseroan bakal memperoleh dana Rp 2,79 triliun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN