Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investasi, Foto: perseroan

Investasi, Foto: perseroan

Ini Strategi Investasi di Tengah Kondisi Pasar Volatil

Jumat, 10 Juni 2022 | 05:00 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Krizia Maulana mengatakan pasar finansial global masih menunjukkan kondisi yang volatil. Namun di sisi lain, sentimen dari dalam negeri menunjukkan optimisme atas proses pemulihan perekonomian Indonesia di 2022. Dua kondisi yang berbeda ini mempengaruhi strategi investor agar tujuan finansial masa depan mereka dapat tetap tercapai. Lalu apa strateginya?

Krizia menjelaskan, saat ini, tekanan dari global masih besar pengaruhnya ke pasar finansial domestik. Ada tiga faktor utama yang masih mempengaruhi pasar global yaitu tekanan inflasi, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi. Risalah FOMC di bulan Mei mengindikasikan sikap Fed yang lebih fleksibel terhadap arah kebijakan moneter, dimana front loading kenaikan suku bunga memberi fleksibilitas untuk melakukan perubahan kebijakan tergantung kondisi yang ada.

Advertisement

“Pasar finansial menginterprestasikan hal ini sebagai indikasi The Fed dapat mengubah laju kenaikan suku bunga tergantung pada kondisi ekonomi setelah rencana kenaikan bunga sebesar 50 bps di Juni dan Juli 2022,” ungkapnya.

Baca juga: Pasar Saham di Bulan Juni, Simak Saran dari Mirae

Walaupun sejauh ini kondisi ekonomi AS masih tetap suportif, lanjutnya, namun indeks keyakinan konsumen dan bisnis AS yang menjadi indikator tren aktivitas ekonomi mengalami penurunan. Kondisi ini mendukung pandangan Fed yang lebih fleksibel, mengambil keputusan kebijakan berdasarkan perkembangan ekonomi ke depannya.

Sementara di Asia, Krizia mengatakan perbaikan kasus Covid, pelonggaran pembatasan, dan stimulus yang digelontorkan oleh pemerintah Tiongkok menjadi katalis penting untuk mendukung sentimen yang lebih positif di Asia. Kondisi makroekonomi Asia tertopang oleh kinerja ekspor yang kuat didukung oleh ekspor barang elektronik dan komoditas sumber daya alam. “Sehingga berdampak positif bagi stabilitas makroekonomi dari sisi transaksi berjalan dan nilai tukar,” tambahnya.

Disisi lain, Krizia menyebut, meski ada risiko dari pasar global, kabar positif datang dari dalam negeri. Ada enam faktor yang mendukung sinyal penguatan perekonomian Indonesia, yaitu inflasi yang relatif terkendali, posisi Indonesia sebagai net eksportir komoditas, ekspansi ekonomi Indonesia, peran penting new economy, valuasi aset finansial yang menarik, dan kepemilikan asing yang cenderung rendah.

“Kondisi global yang volatil mengakibatkan perekonomian tidak pasti dan tentunya memiliki risiko tersendiri. Di sisi lain, beragam faktor dari dalam negeri masih menjanjikan potensi pertumbuhan bagi aset investasi di pasar modal,” paparnya.

Baca juga: OECD Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Inflasi Jadi Sorotan

Dalam jangka panjang, pasar saham masih memberikan potensi keuntungan yang menarik, terlebih kondisi pasar domestik juga mendukung. Walau demikian, portofolio investor sebaiknya tetap terdiversifikasi. Penambahan alokasi investasi pada aset dengan korelasi yang rendah dan risiko yang relatif rendah, seperti reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana pasar uang, juga tetap perlu dilakukan untuk mengantisipasi kondisi pasar global yang volatil.

Krizia menjelaskan, investor yang ingin memanfaatkan peluang pertumbuhan pasar domestik dapat memanfaatkan reksa dana saham. Sebagai gambaran, dalam setahun terakhir, sejak akhir April 2021 hingga akhir April 2022, reksa dana Manulife Greater Indonesia Fund (MGIF) mencatatkan kinerja 22,0%. Sementara reksa dana Manulife Saham Andalan (MSA) mencatatkan kinerja 26,6%, dan reksa dana Manulife Dana Saham (MDS) mencatatkan kinerja 16,7% pada periode yang sama.

“Jumlah porsi penempatan investasi pada reksa dana saham, pasar uang, maupun pendapatan tetap tentunya harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing investor memperhatikan faktor seperti tujuan investasi, jangka waktu investasi dan kebutuhan likuiditas yang berkaitan erat dengan toleransi risiko,”tutupnya.(C01)

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN