Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bisnis sawit. Foto: PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).

Bisnis sawit. Foto: PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).

Integrasi Bisnis Jadi Keunggulan Sawit Sumbermas

Jumat, 15 Januari 2021 | 04:31 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) memiliki beberapa kelebihan yang bisa menjadi katalis positif terhadap kontinuitas pertumbuhan kinerja keuangan perseroan. Sawit Sumbermas juga diuntungkan oleh tren kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny dalam risetnya mengungkapkan, Sawit Sumbermas mengelola bisnis secara terintegrasi, mulai dari perkebunan sawit hingga kompleks bisnis turunan sawit.

Selain itu, seluruh perkebunan kelapa sawit perseroan terkelola dengan baik dan berada di lokasi strategis. Hal ini menjadi nilai lebih bagi perseroan dibandingkan emiten sawit lainnya.

Sawit Sumbermas juga memiliki pabrik kelapa sawit, pabrik olein, sterin, dan PFAD dengan kapasitas terpakai baru mencapai 50% dari total kapasitas terpasang yang mencapai 855 ribu ton per tahun. Pabrik tersebut dikelola perseroan melalui PT Citra Borneo Utama.

Dengan kapasitas yangbesar tersebut, perseroan memilikipeluang untuk bertumbuh lebih cepat di tengah tren kenaikan harga CPO.

Beberapa keunggulan tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target kinerja keuangan Sawit Sumbermas tahun 2020- 2021. Perkiraan pendapatan tahun 2020 dinaikkan menjadi Rp 3,84 triliun dibandingkan perkiraan semula Rp 3,72 triliiun.

Begitu juga dengan perkiraan laba bersih perseroan dinaikkan dari Rp 351 miliar menjadi Rp 517 miliar. Sementara, proyeksi pendapatan perseroan tahun 2021 dinaikkan dari Rp 4,24 triliun menjadi Rp 4,3 triliun.

Proyeksi laba bersih juga dinaikkan dari Rp 600 miliar menjadi Rp 690 miliar. Perseroan diperkirakan mampu menaikkan margin keuntungan bersih menjadi 16% pada 2021.

Produksi CPO Sawit Sumbermas
Produksi CPO Sawit Sumbermas

Sebab itu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham SSMS dengan target harga Rp 1.450. Target harga tersebut mempertimbangkan upaya penambahan luas lahan perkebunan guna mendukung pabrik perseroan.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Sawit Sumbermas Swasti Kartikaningtyas mengatakan, pihaknya akan fokus pada peningkatan kinerja dengan mengejar target produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebanyak 600 ribu metrik ton (MT). Target tersebut diharapkan menghasilkan laba bersih sebesar Rp 400 miliar pada 2020.

Menurut dia, perseroan berupaya memaksimalkan kapasitas produksi yang dimiliki untuk mewujudkan target tersebut. Apabila dibandingkan dengan capaian produksi CPO tahun 2019 yang sebanyak 435.940 MT, target produksi CPO 2020 setara dengan pertumbuhan 37%.

Hingga September 2020, perseroan telah merealisasikan produksi CPO sebanyak 319.533 MT. Perseroan juga berhasil memproduksi intisawit sebanyak 61.610 MT dan palm kernel oil (PKO) sebesar 16.541 MT.

Prospek CPO

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, produksi CPO Malaysia diperkirakan meningkat 3% menjadi 17,5 juta ton pada 2021 dan bisa tumbuh 5% menjadi 18,4 juta ton pada 2022.

Target volume produksi tersebut telah memfaktorkan La Nina hingga awal tahun 2021. Menurut dia, peningkatan produksi tersebut akan berdampak pada perkiraan pertumbuhan volume ekspor CPO Malaysia menjadi 18,3 juta ton pada 2021 dan sebanyak 19,4 juta ton pada 2022, dibandingkan dengan perkiraan ekspor CPO Malaysia tahun 2020 sebanyak 17,4 juta ton. Hal ini bisa menjadi risiko baru terkait harga jual produk komoditas tersebut pada 2021.

Adapun impor CPO India diperkirakan meningkat sekitar 8% menjadi 6,2 juta ton pada 2021 dan diharapkan kembali naik sekitar 7% menjadi 6,7 juta ton pada 2022.

Sementara itu, permintaan impor CPO Tiongkok diperkirakan naik 7% menjadi 6,9 juta ton pada 2021 dan tahun 2022 diprediksi meningkat 5% menjadi 7,2 juta ton.

“Peningkatan permintaan ini diharapkan bisa mengimbangi kenaikan ekspor CPO Malaysia, sehingga berdampak pada kestabilan harga jual,” tulis Andy dalam risetnya. Di dalam negeri, kondisinya berbeda. Volume produksi CPO Indonesia diperkirakan turun menjadi 42 juta ton pada 2021 dari perkiraan semula 43 juta ton. Volume produksi tahun 2022 diperkirakan naik tipis menjadi 42,5 juta ton.

“Peningkatan volume produksi tahun 2022 tersebut memang bisa menaikkan risiko terhadap harga jual CPO dalam jangka pendek, apalagi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia,” jelas dia.

Dari sisi permintaan CPO dalam negeri, Andy menyebutkan ada tiga tantangan utama. Pertama, Indonesia kembali menerapkan pungutan ekspor CPO untuk mendukung program biodiesel di dalam negeri. Kedua, Indonesia kemungkinan menghentikan sementara program biodiesel B40 tahun 2021 akibat kenaikan harga CPO.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN