Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi kesepakatan bisnis. Foto: Gerd Altmann (Pixabay)

Ilustrasi kesepakatan bisnis. Foto: Gerd Altmann (Pixabay)

Jelang Lebaran, Harga SUN Berpotensi Naik

Senin, 10 Mei 2021 | 06:32 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, Investor.id - Harga Surat Utang Negara (SUN) diproyeksikan naik sepanjang pekan ini. Instrumen investasi ini tetap diminati pelaku pasar, meskipun menjelang libur Lebaran.

Head of Economic Research PT Pemeringkat Efek Indonesia Fikri C Permana mengatakan, saat ini tingkat imbal hasil obligasi negara memang masih mengalami penurunan. Hanya saja, penguatan yield tetap terbuka di tengah masih tingginya penduduk terkena pandemi Covid-19, seperti dari India dan beberapa negara lainya.

Sentimen lainya, yang patut menjadi perhatian para pelaku pasar adalah tingkat Jobless yang turun. “Menteri Keuangan Amerika Serikat AS Janet Yellen yang hawkish mendukung kenaikan suku bunga acuan, hal itu berpotensi sebabkan overheating economy,” jelasnya saat dihubungi Investor Daily.

Fikri melanjutkan, yield untuk periode 10 tahun akan bergerak ke 6,4%. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, yakni hanya terkoreksi 0,74% dari prediksi para analis sebelumnya di 1%.

Sementara itu pasca lebaran, minat pasar pada instrumen investasi ini diperkirakan masih tinggi, Fikri mengatakan, biasanya setelah lebaran pemerintah menerbitkan lelang dengan target indikatif mencapai Rp 30-40 triliun. Target ini akan mudah terpenuhi, bahkan oversubscribed.

Adapun investor perbankan, diperkirakan tetap menjadi pembeli dominan, karena memiliki likuiditas yang besar dan cost of fund yang rendah. Disamping itu, saat ini BPJS mulai switching ke SUN atau fixed income yang diharapkan mendorong permintaan lebih banyak.

Secara terpisah analis Pilarmas Sekuritas Nico M Demus mengatakan, pekan ini, imbal hasil obligasi berpotensi mengalami penurunan dengan rentang sebagai berikut, 5 tahun 5,55%– 5,65%, 10 tahun 6,40% – 6,50%, 15 tahun 6,30% – 6,40% dan 20 tahun 7,10% – 7,25%.

Pergerakan harga akan dipengaruhi oleh distribusi vaksin dan pemulihan perekonomian yang menjadi tolok ukur bagi pelaku pasar dan investor untuk berinvestasi di Indonesia. Masuknya capital inflow yang cukup besar baru-baru ini membuat rupiah tetap bertahan di level yang lebih nyaman.

“Namun perhatikan, bahwa ini tidak mudah karena gelombang ke 2 dari Corona mulai menghantui sikap dan keputusan dari pelaku pasar dan investor. Berhati hati merupakan salah satu langkah terbaik,” jelas dia.

Faktor global, harga surat utang juga akan dipengaruhi oleh hasil dari Consumer Confidence Index dan NFIB Small Business Optimism yang diproyeksikan naik, kemudian dari zona Eropa yakni data ZEW survey Expectations dan juga Sentix Investor Confidence.

Negara tirai bambu, yakni Tiongkok, data Money Supply M0, M1, M2 tahunan, lalu CPI dan PPI secara tahunan mencatatkan peningkatan menjadi hal yang disarankan untuk dicermati. Sedangkan, Leading Index CI diproyeksi naik, sebaliknya Money Stock M2, M3 YoY dari Jepang saat ini diprediksi menurun. Beragam sentimen ini akan turut mempengaruhi pergerakan harga surat utang yang juga menjadi pertimbangan bagi pelaku pasar untuk berinvestasi.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN