Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi bisnis. Foto: Adam Radosavljevic (Pixabay)

Ilustrasi bisnis. Foto: Adam Radosavljevic (Pixabay)

Jelang Pemulihan Ekonomi, Korporasi Amankan Pendanaan

Rabu, 14 Oktober 2020 | 10:31 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Danareksa Research Institute menilai, korporasi melihat sinyal perbaikan ekonomi pada pertengahan 2021 hingga 2022, seiring pemulihan pandemi Covid-19. Menyambut sentimen tersebut, korporasi mulai menyiapkan solusi pendanaan dan pengembangan layanan.

Vice President Director PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMAS) Gunawan Effendi mengatakan, perseroan yang bergerak di bidang pembiayaan sangat terpukul dengan adanya penyebaran virus corona. "Nasabah yang meminta restrukturisasi meningkat sementara likuiditas terbatas," ungkap dia dalam laporan Danareksa Research Institute. Berdasarkan round table discussion yang dilakukan Danareksa Research Institute bersama direksi dalam CFO Club Indonesia, pandemi Covid-19 sangat berdampak kepada kinerja perusahaan.

Sementara itu, penjualan kendaraan juga menurun akibat pandemi ini. Gunawan memprediksi, penjualan kendaraan akan bertumbuh sama dengan tahun 2019 dalam 3-5 tahun lagi.

Begitu juga dengan Prudential Indonesia. Chief Financial Officer (CFO) Prudential Indonesia Nick Holder mengatakan, penjualan polis asuransi baru menurun sekitar 40%. Penurunan juga terjadi untuk pembaruan polis asuransi.

Namun, penurunan tidak terjadi di Petromine Energy Trading. Financial Director Bakrie International Pte Ltd, Bakrie Petroleum International Pte Ltd, dan PT Petromine Energy Trading Yuanita Rohali mengatakan, bisnis perseroan bersifat jangka panjang sehingga volume penjualan cukup terjaga. Margin perseroan juga masih cukup baik, seiring hedging bahan baku dan harga komoditas yang menurun. Kendati demikian, perseroan harus memberikan dukungan term pembayaran yang diperpanjang. "Namun secara keseluruhan kinerja kami tetap baik," terang dia.

Dengan melihat dampak dan masih lamanya proses pemulihan, korporasi mulai mencari solusi dari segi pendanaan dan pengembangan layanan. Gunawan menilai, pemulihan akibat pandemi Covid-19 masih cukup lama karena harus ada solusi global. Oleh karena itu, pihaknya terlebih dahulu mengamankan pendanaan melalui diversifikasi dari domestik dan pasar global.

Di sisi lain, Yuanita mengungkapkan, pihaknya melihat pandemi Covid-19 akan berakhir pada pertengahan hingga akhir 2021. Untuk itu, perusahaan akan menunda belanja modal untuk ekspansi bisnis dan menyeleksi secara ketat penempatan excess cash. "Kami juga akan memperpanjang siklus pembayaran untuk membantu pelanggan," terang dia.

Kemudian, Global Business Service Head and Director BASF Group Indonesia and the Philippines Prawira Atmadja juga melihat pandemi Covid-19 akan berakhir tahun depan. Maka dari itu, perusahaan akan memonitor arus kas dan forex dengan lebih ketat. Perusahaan juga akan melanjutkan pengembangan digital untuk menunjang bisnis perusahaan.

Managing Director, Country Head of Indonesia dan Practice Leader Southeast Asia TMF Group Alfian Christian berharap, di tengah pandemi Covid-19 ini, pemerintah lebih fleksibel dalam menerapkan layanan publik. Misalnya untuk instansi pajak dan hukum bisa menggunakan fasilitas video conference untuk memitigasi penyebaran virus corona.

Dia juga berharap banyak dari adanya Omnibus Law agar bisa mendukung perusahaan asing yang akan merelokasi bisnisnya ke Indonesia. Pasalnya, investor asing tersebut sangat tertarik dengan pasar Indonesia, namun terbentur dengan regulasi Indonesia yang belum sefleksibel Malaysia dan Filipina.

Obligasi Korporasi

Sebagai bagian dari diversifikasi pendanaan, korporasi ini juga akan condong untuk menerbitkan obligasi. Danareksa Research Institute memprediksi, penerbitan obligasi korporasi akan mulai marak pada kuartal III-2020.

Peningkatan obligasi korporasi ini sejalan dengan peningkatan kinerja korporasi. Dibandingkan kuartal II-2020, penerbitan obligasi korporasi mencapai 696%. "Peningkatan ini sejalan dengan peningkatan kinerja korporasi dibandingkan kuartal II-2020, namun terbatas pada high grade corporation karena risiko yang masih relatif tinggi," kata dia.

Obligasi korporasi pada kuartal III-2020 ini akan didominasi oleh obligasi dengan tenor tiga tahun dan satu tahun. Sementara obligasi dengan tenor lima tahun dan di atas lima tahun hanya berkontribusi kecil. Sementara dilihat dari sektor ekonomi, obligasi korporasi akan didominasi oleh institusi keuangan yakni sebanyak 60,47%. Sedangkan sektor perbankan dan non-bank berkontribusi masinig-masing 5,35% dan 34,17%.

Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat, sebanyak 30 emiten dari berbagai sektor tengah menyiapkan penawaran surat utang senilai Rp 38,59 triliun. Dengan penerbitan surat utang tersebut, total nilai penerbitan obligasi sepanjang tahun ini tetap diprediksi pada level moderat Rp 100 triliun.

Pefindo mencatat, hingga 30 September 2020, sektor konstruksi menjadi yang paling tinggi dari sisi nilai emisi surat utang. Sebanyak lima perusahaan kontruksi menargetkan dana Rp 5,3 triliun, kemudian sektor pembiayaan sebanyak dua perusahaan dengan target Rp 4,4 triliun, dan empat bank mengincar emisi hingga Rp 3,95 triliun.

Selanjutnya, tiga perusahaan manufaktur membidik emisi Rp 1,8 triliun, dua emiten yang merupakan induk dari beberapa perusahaan mengincar dana Rp 1,38 triliun, dan dua perusahaan properti merancang penerbitan surat utang Rp 1,25 triliun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN