Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ilustrasi minyak
sumber: Antara

ilustrasi minyak sumber: Antara

Kekhawatiran Pasokan Mereda, Harga Minyak Turun 2,5 %

Kamis, 19 Mei 2022 | 07:15 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

HOUSTON, investor.id - Harga minyak turun 2,5% pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), membalikkan kenaikan awal. Hal ini karena kekhawatiran para pedagang tentang krisis pasokan mereda. Setelah data pemerintah menunjukkan penyulingan Amerika Serikat (AS) meningkatkan produksi, dan minyak mentah berjangka mengikuti Wall Street yang lebih rendah.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli merosot US$ 2,82 atau 2,5%, menjadi menetap di US$ 109,11 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni jatuh US$ 2,81 atau 2,5%, menjadi ditutup di US$ 109,59 per barel.

“Kedua harga acuan minyak melepaskan kenaikan awal US$ 2-3 per barel, menyusul perubahan sentimen risiko karena pasar ekuitas jatuh,” kata analis UBS Giovanni Staunovo dikutip dari Antara, Kamis (19/5/2022).

Brent tetap pada diskon yang tidak biasa untuk WTI sehari setelah menetap di bawah patokan AS untuk pertama kalinya sejak Mei 2020. Para pedagang dan analis mengutip permintaan ekspor yang kuat dan pengetatan stok minyak mentah AS.

Baca juga: Phintraco Sekuritas: IHSG Lanjutkan Rebound, Perhatikan Saham-saham Blue Chip

Persediaan minyak mentah AS turun 3,4 juta barel pekan lalu, data pemerintah menunjukkan, penarikan yang tidak terduga, karena penyulingan meningkatkan produksi sebagai tanggapan terhadap persediaan produk yang ketat dan ekspor yang mendekati rekor yang telah memaksa harga solar dan bensin AS ke level rekor.

Harga bensin AS turun 5%, dua hari setelah menyentuh rekor tertinggi. Penggunaan kapasitas di Pesisir Timur dan Pesisir Teluk (Gulf Coast) berada di atas 95% menempatkan kilang-kilang tersebut mendekati tingkat pengoperasian setinggi mungkin.

"Sementara di muka itu, laporan itu luar biasa bullish, mereka (penyuling) berlomba untuk menempatkan lebih banyak produk olahan di pasar ... jelas ada tanggapan penyulingan," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC.

Dolar menguat dan saham global mundur di tengah kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi dan kenaikan inflasi.

Sentimen bearish juga mengikuti laporan bahwa Amerika Serikat berencana untuk melonggarkan sanksi terhadap Venezuela dan mengizinkan Chevron Corp untuk menegosiasikan lisensi minyak dengan produsen negara PDVSA.

Baca juga: Artha Sekuritas: IHSG Menguat, Cermati Delapan Saham Pilihan Ini

"Persepsi bahwa kami bisa melihat lebih banyak pasokan Venezuela datang ke pasar, bersama dengan pasar ekuitas, itu menyebabkan beberapa aksi ambil untung dalam koreksi teknis yang sangat dibutuhkan dalam minyak mentah," kata Dennis Kissler, Wakil Presiden senior untuk perdagangan di BOK Financial.

Kegagalan Uni Eropa untuk membujuk Hongaria mencabut hak vetonya atas usulan embargo minyak Rusia menambah tekanan harga, meskipun beberapa diplomat mengharapkan kesepakatan tentang larangan bertahap pada pertemuan puncak akhir Mei.

Kekhawatiran pasokan yang sedang berlangsung tetap mendukung. Produksi minyak mentah Rusia pada April turun hampir 9% dari bulan sebelumnya, sebuah laporan internal OPEC+ menunjukkan pada Selasa (17/5/2022), karena sanksi Barat terhadap Moskow membatasi ekspor.

Pada sisi permintaan, harapan pelonggaran lockdown lebih lanjut di Tiongkok mendorong ekspektasi pemulihan. Pihak berwenang mengizinkan 864 lembaga keuangan Shanghai untuk memulai kembali operasi mereka, kata sumber, dan Tiongkok telah melonggarkan beberapa aturan tes Covid-19 untuk AS dan pelancong lainnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN