Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan menghitung uang rupiah untuk ditukarkan ke dolar AS di salah satu tempat penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan menghitung uang rupiah untuk ditukarkan ke dolar AS di salah satu tempat penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Keputusan BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 3,5% Berhasil Angkat Rupiah

Kamis, 20 Januari 2022 | 16:52 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Langkah Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5% pada Rapat Dewan Gubernur 19 dan 20 Januari 2022 disambut positif oleh pelaku pasar. Keputusan itu juga berhasil mengangkat rupiah yang sudah loyo sejak beberapa hari ke belakang ini.

Dalam perdagangan Kamis (20/1) sore ini, rupiah ditutup menguat 23 poin walaupun sebelumnya sempat menguat 24 poin di level Rp 14.341 dari penutupan sebelumnya di level Rp 14.364. “Sedangkan untuk perdagangan  Jumat besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka  berfluktuatif namun  ditutup menguat  di rentang Rp 14.320-14.380,” kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Kamis (20/1).

Baca juga: Rupiah Awal Tahun Melemah, BI Ungkap Pemicunya

Adapun, suku bunga acuan bertahan di 3,5% sejak Februari 2021 atau hampir setahun. Ini adalah suku bunga acuan terendah dalam sejarah Indonesia merdeka. Namun tidak akan selamanya BI mempertahankan bunga acuan. Pelaku pasar memperkirakan BI 7 Day Reverse Repo Rate akan mulai naik pada pertengahan 2022, sebanyak 50 basis poin. Namun kenaikan ini akan tergantung dari perkembangan inflasi domestik.

Sedangkan, dolar AS melemah pada hari Kamis karena reli minggu ini dalam imbal hasil Treasury AS berhenti didorong oleh harga komoditas yang tinggi dan berlanjutnya optimisme tentang pertumbuhan ekonomi global di masa depan. The Fed secara luas diperkirakan akan memperketat kebijakan moneter pada kecepatan yang jauh lebih cepat dari yang diperkirakan sebulan lalu untuk mengekang inflasi yang terus tinggi. Inflasi ini sekarang menjadi ancaman terbesar bagi ekonomi AS pada 2022, menurut ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Baca juga: Tren Pelemahan Rupiah Diprediksi Masih Akan Berlanjut

Investor sekarang menunggu keputusan kebijakan Fed berikutnya, yang akan diturunkan pada 26 Januari. Keputusan kebijakan dari bank sentral di Indonesia, Malaysia, Norwegia, Turki, dan Ukraina akan jatuh tempo di kemudian hari.

Pada komoditas lainnya, harga minyak mentah berada dalam tren yang meningkat dan berkontribusi terhadap kekhawatiran inflasi.

 

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN