Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebuah foto yang diterbitkan oleh kantor media pasukan operasi gabungan militer Irak di halaman Facebook resmi mereka menunjukkan sebuah kendaraan hancur setelah serangan udara AS di kompleks bandara internasional Baghdad, Irak, Jumat (3/1/2020) waktu setempat.Garda Revolusi Iran mengonfirmasi, salah satu komandannya, Mayor Jenderal Qasem Soleimani yang menjabat sebagai komandan Pasukan Quds pada Garda Revolusi Iran, tewas dalam peristiwa tersebut. Foto:IRAQI MILITER / AFP

Sebuah foto yang diterbitkan oleh kantor media pasukan operasi gabungan militer Irak di halaman Facebook resmi mereka menunjukkan sebuah kendaraan hancur setelah serangan udara AS di kompleks bandara internasional Baghdad, Irak, Jumat (3/1/2020) waktu setempat.Garda Revolusi Iran mengonfirmasi, salah satu komandannya, Mayor Jenderal Qasem Soleimani yang menjabat sebagai komandan Pasukan Quds pada Garda Revolusi Iran, tewas dalam peristiwa tersebut. Foto:IRAQI MILITER / AFP

Ketegangan Geopolitik Tidak Merisaukan Pelaku Pasar

Senin, 6 Januari 2020 | 23:39 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id  – Setelah mengawali perdagangan 2020 dengan penguatan, pasar saham global cenderung melemah pada akhir perdagangan pekan lalu. Ketegangan geopolitik yang dipicu serangan militer Amerika Serikat (AS) yang menewaskan jenderal Iran langsung melonjakkan harga minyak mentah.

Instrumen safe haven seperti obligasi pemerintah dan emas juga langsung diserbu para investor. Namun situasinya belum merisaukan pelaku pasar, terbukti dengan terbatasnya pelemahan di pasar saham, karena sejumlah faktor lain tetap menjaga sentimen positif.

Harga minyak mentah melonjak sekitar 3% pada Jumat (3/1), setelah AS menewaskan jenderal Iran dengan drone, setibanya di bandara internasional Baghdad, Irak pada pagi harinya. Peristiwa ini memicu kekhawatiran akan meletusnya konflik baru di Timur Tengah.

Ilustrasi minyak mentah
Ilustrasi minyak mentah

Terlebih Iran mengancam akan melancarkan pembalasan. Tapi pasar saham global ditutup beragam menyusul pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani tersebut. Oxford Economics berpendapat bahwa pembunuhan Soleimani meningkatkan risiko-risiko geopolitik. Bahkan dapat memicu konfrontasi langsung antara AS dan Iran. Tapi Cailin Birch, ekonom global dari Economist Intelligence Unit (EIU) mengatakan kepada AFP, kekhawatiran yang dirasakan bukan dari potensi terganggunya pasokan minyak Iran. Tapi lebih kepada potensi meluasnya konflik jika menarik juga Irak, Arab Saudi, dan Negara lainnya di Teluk

“Risiko lain adalah Iran dapat saja melancarkan serangan ke kapal-kapal (militer) AS yang berada di kawasan. Hal ini dapat mengganggu pasokan minyak mentah bawah laut dan membuat harga terus naik,” tutur Birch.

Harga minyak mentah sempat mencetak rekor kenaikan pada September 2019. Setelah dua fasilitas minyak Arab Saudi diserang drone, sehingga produksi minyak Saudi sempat terpangkas hingga separuhnya. Tapi Birch berpendapat, ketegangan geopolitik yang terbaru tidak akan sampai memicu perang. Kenaikan harga pada Jumat, tambah dia, sejauh ini tidak berdampak luas.

Tidak Lama

Para pialang sedang bekerja bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York City, Amerika Serikat (AS) pada 16 September 2019. (Foto: Spencer Platt / Getty Images / AFP)
Para pialang sedang bekerja bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York City, AS. Foto: Spencer Platt / Getty Images / AFP

Pasar saham Eropa ditutup beragam pada Jumat. Sedangkan Wall Street turun dari rekor-rekor di sesi sebelumnya. Walau sepanjang sesi Wall Street berada di zona merah, tapi penurunannya moderat. Hal ini menunjukkan bahwa para investor menganggap ketegangan geopolitik ini tidak akan berlangsung lama. Sebagaimana terjadi pada peristiwa- peristiwa kekerasan sebelumnya di tempat-tempat lainnya yang juga rawan konflik di dunia.

“Seperti peristiwan-peristiwa geopolitik sebelumnya, dinamika pasar tidak terpengaruh. Para investor tetap positif karena perekonomian lebih baik dari perkiraan, perang dagang mereda, dan The Fed tetap suportif,” ujar Gregori Volokhine, analis dari Meeschaert Financial Services.

Walau begitu, ketegangan geopolitik tetap akan membebani pergerakan saham sepanjang pekan ini. Para investor bakal menduga-duga apakah ketegangan di Timteng akan menjadi katalis atas perkiraan terjadinya penurunan di pasar saham.

Para investor juga akan mencermati laporan ketenagakerjaan Desember 2019 di AS. Perusahaan penyedia data Refinitiv memperkirakan sektor swasta non-pertanian AS diperkirakan menambah 160.000 lapangan kerja dan rata-rata upah naik 3,1% dibandingkan tahun sebelumnya.

Laporan ketenagakerjaan terbaru itu juga menjadi penting karena data manufaktur AS untuk bulan yang sama di luar dugaan negatif. Bahkan turun ke level terendah dalam 10 tahun lebih.

“Secara teoretis akan terjadi aksi ambil untung, tapi saya pikir tidak akan dramatis. Pertanyaannya adalah kapan para investor akan masuk danitu akan bergantung pada perkembangan dari Gedung Putih maupun Iran,” ujar Quincy Krosby, kepala strategi pasar Prudential Financial, seperti dilansir Reuters akhir pekan lalu.

Sebagian analis memperkirakan sedikit aksi jual di indeks S&P 500, setelah gain mencapai 8,5% sepanjang kuartal IV 2019. Tapi, belum dapat dipastikan apakah penurunan padaakhir perdagangan pekan lalu adalah awalnya.

“Bisa jadi itu, tapi untuk pastinya harus melihat lagi nanti. Jika Iran mengambil sedikit tindakan, pasar tidak akan menghiraukannya, harga minyak akan menurun, dan saham dapat menguat lagi,” ujar Peter Boockvar, direktur investasi Bleakley Advisory Group.

Data Lebih Dicermati

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat berbicara kepada wartawan setelah mengumumkan kesepakatan awal dengan Tiongkok di South Lawn, Gedung Putih, di Washington, DC pada 11 Oktober 2019. ( Foto: AFP / Nicholas Kamm )
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Foto: AFP / Nicholas Kamm

Krosby menambahkan, untuk sementara obligasi pemerintah AS akan diuntungkan. Begitu pula dengan emas dan mata uang-mata uang safe haven. Tapi pada akhirnya, pasar akan mencermati data-data ekonomi.

CNBC dalam laporannya akhir pekan lalu menyatakan, hasil-hasil analisis historis menunjukkan bahwa harga minyak cenderung terus naik menyusul kejadian-kejadian krisis di Timteng. Harga saham pada akhirnya akan menguat. Sedangkan aset-aset safe haven seperti emas dan obligasi akan melemah setelah sempat menguat. Jika pasar finansial mengikuti preseden historisnya, kata CNBC, perubahan akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.

CNBC menggunakan alat analitik lindung nilai Kensho untuk menganalisis pasar finansial setelah 20 peristiwa krisis di Timteng dalam 30 tahun terakhir. Termasuk serangan terhadap dua fasilitas minyak Saudi pada September 2019.

Analisisnya memperlihatkan bahwa harga minyak mentah menunjukkan perubahan positif hampir sepanjang bulan sesudah terjadinya krisis tersebut. Emas dan saham menyusul di belakangnya.

Dalam jangka waktu tiga bulan, harga saham dan minyak terus menguat. Sedangkan aset-aset safe haven lain melemah. Pelemahan dalam periode ini juga dicatatkan oleh obligasi pemerintah dan dolar AS.

Emas batangan. Foto ilustrasi: ISTIMEWA
Emas batangan. Foto ilustrasi: ISTIMEWA

Sedangkan harga emas mendatar. Pandangan para analis juga beragam terkait harga minyak mentah dalam jangka pendek usai serangan AS terhadap jenderal Iran. UBS memperkirakan reli harga minyak tidak berkelanjutan. Sedangkan SunTrust menyebut insiden ini akan menghasilkan level harga tinggi yang baru bagi minyak mentah.

Tapi terhadap harga saham ada sedikit kekhawatiran. Karena belum diketahui seberapa besar dan seberapa jauh Iran akan melancarkan responsnya. “Kecuali terjadi eskalasi (konflik), situasinya akan tetap menguntungkan bagi saham,” kata Evercore ISI, kepada para kliennya.

Sementara UBS menyarankan para investor untuk mempertimbangkan strategi-strategi proteksi. (afp/sumber/sumber lain)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN