Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Krakatau Tirta Industri. Foto: Perseroan.

PT Krakatau Tirta Industri. Foto: Perseroan.

Krakatau Steel Prioritaskan IPO Saham Krakatau Tirta Industri

Jumat, 29 Januari 2021 | 05:21 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) memprioritaskan anak usahanya, PT Krakatau Tirta Industri (KTI), untuk menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada tahun ini. Jika kondisi pasar modal mendukung, perseroan juga berniat mengantarkan PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, pihaknya telah melakukan diskusi singkat dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada pekan lalu terkait persiapan IPO anak usaha. Akhirnya, diskusi mengerucut kepada KTI, yang terbilang menarik jika dilihat dari sisi kinerja.

“Menurut kami, KTI sangat-sangat siap untuk IPO, KBS juga sebenarnya siap, tapi KTI bisa lebih menarik karena secara profitability sangat baik,” kata dia dalam sebuah webinar, Kamis (28/1).

KTI dan KBS merupakan dua dari empat anak usaha Krakatau Steel yang disiapkan untuk IPO. Dua lainnya adalah PT Krakatau Daya Listrik dan PT Krakatau Industrial Estate Cilegon.

Adapun KTI bergerak pada bisnis penyediaan air bersih yang dihasilkan, serta digunakan untuk kebutuhan industri dan sebagian lain untuk masyarakat di Cilegon, Banten. Sementara itu, KBS mengelola pelabuhan Cigading, dan merupakan salah satu pelabuhan curah kering terbesar di Indonesia.

“Kami harus mencari timing yang tepat untuk IPO, dalam situasi seperti ini, kita tidak bisa membabi-buta mendorong semuanya, tahun ini satu atau dua yang bisa kita IPO-kan,” jelas Silmy.

Rangkaian aksi IPO tersebut akan menambah aksi korporasi yang dilakukan anak-anak usaha Krakatau Steel. Semisal, perseroan diperkirakan kian dekat melepas aset anak usaha atau spin-off pabrik baja bertanur tinggi (blast furnace) kepada mitra strategis yang berpengalaman.

Menurut Silmy, kesepakatan dengan mitra strategis tersebut bisa terjadi dalam waktu yang tak lama lagi. Aksi ini akan berpengaruh positif terhadap laba bersih perseroan tahun ini. Pasalnya, selain ada faktor gain, aksi spin-off ini juga ada kaitannya dengan pengurangan beban utang.

Seperti diketahui, Krakatau Steel sebelumnya menghentikan operasional blast furnace sejak 5 Desember 2019 lantaran dinilai tidak mampu menghasilkan baja dengan harga bersaing atau tidak efisien.

Raih Laba

Pada 2020, kata Silmy, perseroan akhirnya membuat anak-anak usaha mengantongi keuntungan, setelah sebelumnya sebagian anak usaha menderita kerugian dalam waktu yang lama. Berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit, total laba dari seluruh anak perusahaan pada 2020 sebesar US$ 36,55 juta, berbalik dari posisi rugi US$ 169,32 juta pada 2019.

Rinciannya, entitas usaha PT KH Pipe Industries yang tercatat rugi US$ 34,03 juta pada 2019, berbalik membukukan laba US$ 7,55 juta pada 2020. Selain itu, PT Krakatau Wajatama yang sebelumnya rugi US$ 28,85 juta akhirnya mengantongi laba US$ 1,76 juta pada 2020. Selain itu, sub-total 5 entitas usaha lainnya yang merugi US$ 141,67 juta pada 2019 mampu membukukan laba US$ 1,2 juta pada 2020.

“Bocorannya laba bersih konsolidasi perseroan pada 2020 sekitar US$ 40 juta-50 juta. Saat ini, laporan keuangan masih proses audit,” kata Silmy.

Lebih lanjut, secara konsolidasi pendapatan Krakatau Steel itu diproyeksi turun 4,4% menjadi US$ 1,35 miliar pada 2020 dibandingkan dengan pencapaian 2019 sebesar US$ 1,42 miliar. Meski demikian, perseroan berhasil memangkas biaya operasional sebesar 41% menjadi US$ 200,8 juta pada 2020 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 337,4 juta. Penurunan biaya tersebut tercapai setelah perseroan menjalankan program transformasi dan restrukturisasi.

Tahun ini, perseroan optimistis terus meraih laba. Hal ini salah satunya terlihat dari permintaan baja yang meningkat dari pasar luar negeri seperti Eropa. Permintaan ini disebabkan banyak pabrik-pabrik baja di Eropa yang tutup ataupun berhenti operasi lantaran pandemi Covid-19. Karena itu, sejumlah negara Eropa mencari pasokan baja dari negara lain, termasuk Indonesia. “Tahun lalu, saat pandemi saja penjualan baja Kraktau Steel naik 20% dalam tonase. Tahun ini kami harapkan bisa lebih tinggi lagi sampai naik 40%,” ujar Silmy.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN