Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tangki penyimpanan terlihat di Kilang Los Angeles Marathon Petroleum, yang memproses minyak mentah domestik dan impor di Carson, California, AS pada 11 Maret 2022. (FOTO: REUTERS/Bing Guan/File Photo)

Tangki penyimpanan terlihat di Kilang Los Angeles Marathon Petroleum, yang memproses minyak mentah domestik dan impor di Carson, California, AS pada 11 Maret 2022. (FOTO: REUTERS/Bing Guan/File Photo)

Lesunya Sinyal Ekonomi AS Buat Minyak Ikut Terpuruk

Kamis, 23 Juni 2022 | 10:54 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Tim riset ICDX menyebut harga minyak pagi ini terpantau masih melanjutkan tren bearish pasca rilisnya data negatif pasar energi AS dan kekhawatiran resesi ekonomi AS. Meski demikian, potensi terhambatnya kembali barel Iran ke pasar minyak global serta semakin ketatnya pasokan energi di Eropa membatasi penurunan harga lebih lanjut.

Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh grup industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah dan stok bensin di AS dalam sepekan melonjak naik masing-masing sebesar 5.61 juta barel dan 1.22 juta barel untuk pekan yang berakhir 17 Juni. Laporan API tersebut mengindikasikan kondisi permintaan yang sedang lesu di pasar energi AS.

Advertisement

“Meski demikian, pasar masih menantikan angka resmi versi pemerintah yang akan dirilis malam nanti oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA),” tulis Tim riset ICDX dalam risetnya, Kamis (23/6/2022).

Turut membebani pergerakan harga minyak, Ketua Fed Jerome Powell pada hari Rabu mengisyaratkan kenaikan kembali suku bunga sebesar 75 basis poin pada bulan Juli, diikuti kenaikan 50 basis poin pada bulan September. “Isyarat kenaikan suku bunga AS secara agresif telah memicu kekhawatiran akan mendorong ekonomi AS menuju resesi,” tambah Tim riset ICDX.

Baca juga: Putin: Rusia Alihkan Rute Perdagangan dan Minyak ke Negara-Negara BRICS

Masih dari AS, Presiden Joe Biden pada hari Rabu menyerukan agar Kongres dapat menyetujui untuk menangguhkan pajak gas federal AS sebesar US$ 18,4 per galon untuk bensin selama tiga bulan kedepan hingga bulan September. Biden juga mendesak dilakukannya penangguhan sementara pajak bahan bakar di tiap negara bagian, yang nilainya seringkali lebih tinggi.

Selain itu, Menteri Energi Jennifer Granholm dijadwalkan akan bertemu dengan kepala eksekutif dari tujuh produsen minyak AS pada hari Kamis guna membahas cara-cara untuk meningkatkan kapasitas produksi dan mengurangi harga bensin sekitar US$ 5 per galon.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian dijadwalkan akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada hari Kamis untuk melakukan pembahasan terkait perluasan kerja sama dengan kawasan Eurasia dan Kaukasus. Bulan lalu, Iran dan Rusia telah membahas rencana pertukaran pasokan untuk minyak dan gas serta membangun pusat logistik.

Baca juga: Rupiah Diproyeksikan Melemah Jelang Pengumuman Bank Sentral

Hubungan Rusia dan Iran yang semakin erat berpotensi memicu penerapan sanksi baru dari negara barat terhadap kedua negara tersebut, yang saat ini tengah berada di bawah sanksi AS dan sekaligus berpotensi membuat negosiasi nuklir antara Iran dan kekuatan dunia kembali terhambat, yang artinya potensi kembalinya barel Iran ke pasar minyak global juga akan ikut terganjal.

Dari Eropa, baru-baru ini Rusia terlihat meningkatkan penjualan bahan bakar ke wilayah Afrika dan Timur Tengah pasca Uni Eropa (UE) secara perlahan-lahan mengurangi impor minyak mentah dan bahan bakar Rusia sejak Maret dan menyetujui embargo penuh yang akan berlaku pada akhir 2022. Secara keseluruhan pasokan bulanan bahan bakar dari Rusia ke wilayah Afrika telah mencapai sekitar 200 ribu ton selama beberapa bulan terakhir dan hampir 500 ribu ton untuk tujuan ke Oman dan UEA.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 110 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 95 per barel,” tutup Tim riset ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN