Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Zooming with Primus - SWF Effect bagi Ekonomi live  BeritasatuTV, Kamis (14/1/2021). Sumber: BSTV

Zooming with Primus - SWF Effect bagi Ekonomi live BeritasatuTV, Kamis (14/1/2021). Sumber: BSTV

LPI April Beroperasi

Jumat, 15 Januari 2021 | 09:26 WIB
Kunradus Aliandu (kunradus@investor.co.id) ,Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id) ,Ester Nuky

JAKARTA, investor.id – Lembaga Pengelola Investasi (LPI) mulai beroperasi April 2021, untuk berinvestasi pada aset komersial infrastruktur seperti jalan tol, terminal peti kemas, bandara, dan proyek lain dengan revenue stream tinggi. Solusi pendanaan pembangunan ini menjadi sentimen positif yang mengangkat saham emiten BUMN karya dari posisi terendah, meski belum pulih sepenuhnya. Komitmen investasi asing di sovereign wealth fund tersebut sudah mencapai US$ 8 miliar atau Rp 112,95 triliun.

LPI atau Indonesia Investment Authority (sovereign wealth fund/SWF) ini akan membeli proyek-proyek jalan tol BUMN karya yang sudah rampung, sehingga emiten pelat merah mendapatkan dana untuk kembali beroperasi menggarap berbagai proyek infrastruktur yang lain. Dengan demikian pembangunan proyek bisa dilanjutkan sesuai target, sehingga bisa membukukan kembali pendapatan dan laba yang meningkat.

Demikian rangkuman diskusi Zoom With Primus bertajuk “SWF Effect bagi Ekonomiyang disiarkan langsung BeritaSatu TV, Kamis (14/1/2021). Tiga narasumber yang hadir adalah Staf Khusus Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal dan Makro Ekonomi Kementerian Keuangan Masyita Crystallin, Dirut PT Waskita Karya Tbk Destiawan Soewarjono, serta ekonom dan praktisi pasar modal Lucky Bayu Purnomo. Sedangkan sebagai moderator adalah Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu.

Masyita Crystallin mengatakan, suntikan dana awal dari pemerintah ke LPI sekitar Rp 75 triliun, yaitu terdiri atas Rp 15 triliun cash dan sisanya berupa barang milik negara (BMN), saham BUMN, atau piutang pemerintah di BUMN. “Dengan (modal awal) LPI Rp 75 triliun ini, kami berharap kalau average leverage 3 kali, maka sudah mendapat (investasi) Rp 225 triliun untuk tahap awal. Kami berharap cepat berkembang dan bergulir dana investasinya, karena projek-projek yang ada di pipeline yang kami siapkan untuk bisa masuk dalam SWF jumlahnya cukup banyak dan prospeknya baik,” ujarnya.

Masyita mengatakan, dari hasil pembicaraan dengan beberapa mitra strategis, banyak investor yang tertarik berinvestasi di Indonesia. Ini karena Indonesia mempunyai demografi yang masih muda. Kemudian, memiliki middle class dan advanced middle-class yang jumlahnya bisa mencapai 170 juta orang. “Jadi, pertumbuhan ekonomi ke depan menjadi satu hal yang menarik. Akan tetapi concern dari investor global adalah kalau berinvestasi di Indonesia, ke mana kami harus pergi,” papar dia.

Dia juga menegaskan, bahwa pemilik LPI 100% adalah Republik Indonesia. Sedangkan investor bisa fleksibel sebagai investor strategis dengan memasukkan modal ke dana kelolaan, atau hanya masuk ke proyek yang diinginkan.

“Kita punya mitra investor strategis, mereka bisa masuk ke fund utamanya. Investor juga bisa masuk di fund tematik, yang kecil-kecil, misalnya khusus masuk di toll road atau airport di daerah tertentu. Jadi, akan terbentuk banyak joint venture untuk jenis-jenis aset yang berbeda,” ujarnya.

Masyita juga mengungkapkan sudah ada beberapa Peraturan Pemerintah (PP) pelaksana UU Cipta Kerja yang mengamanatkan pembentukan LPI. Ini seperti PP No 73/2020 mengenai Modal Awal LPI, yang menjelaskan bahwa modal awal LPI sebesar Rp 15 triliun bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2020, sebagaimana ditetapkan dalam Perubahan Postur dan Rincian APBN Tahun Anggaran 2020. Selain itu, PP No 74/2020 tentang LPI, yang mengatur modal LPI ditetapkan Rp 75 triliun, dengan penyetoran modal awal Rp 15 triliun.

“PP ini mengenai modal, dan dewan pengawas LPI sudah disiapkan. Dewan pengawas terdiri dari 5 orang, dua orang di antaranya adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai ketua dan Menteri BUMN Erick Thohir, sementara 3 dari unsur profesional yang namanya sudah diserahkan ke Presiden Joko Widodo dan selanjutnya juga sudah diserahkan Presiden ke DPR untuk didiskusikan bersama DPR,” paparnya.

Nama tersebut, lanjut dia, sedang mendapatkan sambutan yang baik dan kemungkinan segera diumumkan. “Dewas ini, Insya Allah minggu depan akan diumumkan dan langsung membentuk komite-komite. Ini termasuk komite untuk memilih dewan direktur. Dewan direktur akan dipilih dari kalangan profesional, jumlahnya juga 5 orang,” kata dia.

Ia mengatakan, di antara dewas dan dewan direktur ini akan ada satu komite yang berisi para profesional, yang bisa juga merupakan gabungan dari perwakilan mitra-mitra investasi strategis LPI, yang masuk ke dalam fund utama SWF. Tim ini bisa memberikan masukan kepada dewan direktur.

“Akan tetapi, pengambilan keputusannya base on business, dan dilakukan secara profesional. Mudah-udahan sebelum kuartal I-2021 berakhir kita sudah mendapatkan SWF ini up running,” ujarnya.

Integrasi
Pada kesempatan terpisah, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Muhammad Sarmuji menyatakan, pembentukan LPI harus disambut baik, karena mampu membawa peningkatan perekonomian Indonesia. Di negara-negara maju, lembaga seperti LPI sudah lazim berdiri untuk menjadi salah motor perekonomian.

“Kami, di DPR, tentu menyambut baik LPI, di negara-negara yang lebih berkembang ekonominya dari Indonesia, keberadaan LPI itu juga ada. Lembaga seperti LPI ini bisa memberi daya dukung bagi perekonomian kita,” kata Sarmuji.

Sarmuji juga berharap operasional LPI bisa sesuai target, di mana pemerintah mengharapkan LPI terbentuk dan tuntas pada kuartal I-2021 dan mulai beroperasi awal kuartal II-2021 atau April 2021. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga telah menyerahkan tiga nama calon Dewas LPI kepada DPR.

“Yang lebih penting juga, pendirian LPI harus dibarengi integrasi atau harmonisasi dengan lembaga-lembaga yang serupa atau ada kemiripan. Hal itu mengingat saat ini terdapat juga lembaga mirip LPI yakni PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) dan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII). Ini yang perlu diperhatikan dan dibahas, tinggal mengatur lembaga yang tugasnya mirip LPI itu, bagaimana nanti kedudukannya kalau LPI sudah berjalan. Karena, PT SMI dan PT PII ini sudah eksis,” kata Sarmuji saat dihubungi Investor Daily dari Jakarta, Kamis (14/1) malam.

Komitmen dari AS hingga Jepang
Sementara itu, Staf Khusus III Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan sebelumnya, SWF merupakan perkembangan positif untuk sektor infrastruktur. SWF berpotensi memicu perubahan haluan untuk sektor infrastruktur dalam dua cara.

“Pertama, neraca deleveraging melalui aset mendaur ulang, membebaskan ruang neraca untuk menyerap proyek baru dan menghidupkan kembali proyek baru. Kedua, mengurangi risiko belanja modal besar lainnya siklus pada 2021-2024, karena SWF juga dapat bertindak sebagai sumber pendanaan baru untuk greenfield projects. SWF adalah perkembangan positif untuk infrastruktur, terutama dalam mengurangi masalah pendanaan,” paparnya.

Ia mengatakan, pendanaan SWF ditetapkan dengan modal awal pemerintah sebesar US$ 5 miliar. Sedangkan rencana investasi sudah dikomitmenkan dari sejumlah investor asing dan lokal.

Dari total komitmen investasi asing US$ 8 miliar ke INA, rinciannya adalah investasi dari United States International Development Finance Corporation (US IDFC) asal Amerika Serikat sebesar US$ 2 miliar dan dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar US$ 4 miliar. Yang terakhir dari Kanada yang telah berkomitmen ikut menanamkan modal sebesar US$ 2 miliar di LPI.

“Negara memberikan modal Rp 75 triliun untuk membeli proyek-proyek infrastrukur tol, bandara, dan pelabuhan. Selain itu, sektor lain yang potensial seperti pariwisata, hotel, rumah sakit, dan teknologi,” ungkapnya.

Deal Waskita dengan LPI
Sedangkan Direktur Utama PT Waskita Karya Destiawan Soewarjono mengatakan, BUMN ini memiliki 18 ruas tol, dengan 2 yang sudah didivestasi. Pihaknya siap menawarkan 11 proyek tol yang potensial kepada LPI.

"Pertengahan semester I ini diharapkan kami sudah bisa deal dengan LPI. Di luar itu, perseroan sudah menawarkan lima ruas tol kepada investor strategis dan kini dalam tahap negosiasi final," kata dia.

Bayu mengatakan lebih lanjut, kondisi saham infrastruktur dan konstruksi saat ini yang harganya jatuh karena laba menurun. Hal ini akibat pendapatan menurun karena dampak terjadinya pandemi Covid-19 mulai Maret lalu di Tanah Air, sehingga pembangunan tidak sesuai target.

Namun, tahun ini dengan adanya SWF yang memberi solusi pendanaan, maka akan bisa mengejar target kembali, sehingga laba bisa meningkat. Proyek-proyek yang sudah dibangun dapat dijual ke LPI.

Bayu juga mengatakan kendati harga saham BUMN konstruksi sudah mulai naik kembali, namun belum mencapai harga puncak. Sebut saja pada Kamis (14/1), saham Waskita Karya di harga Rp 1.685 atau rebound dari level terendahnya tahun ini Rp 394 pada sekitar 24 Maret lalu, namun belum sampai di harga tertingginya sekitar Rp 3.110 pada 19 Februari 2018.

Demikian pula indeks harga saham gabungan (IHSG) kenaikannya saat ini masih terbatas, karena belum mencapai indeks tertingginya di 6.689 pada 19 Februari 2018. Indeks di Bursa Efek Indoensia ini diperkirakan masih bisa menembus level psikologis 7.000 dengan didukung sejumlah sentimen positif seperti berjalannya LPI.

LPI ini diharapkan juga sudah ikut terlibat saat proyek dibangun, sehingga begitu selesai langsung bila dibeli dulu oleh SWF. Dengan demikian BUMN karya langsung mendapat dana setelah proyek rampung dan bisa digunakan untuk membangun infrastruktur yang lain.

Bisa Menjadi Rp 500 T
LPI ini juga diyakini mampu meningkatkan pengelolaan investasi dari sasaran awal Rp 225 triliun menjadi Rp 500 triliun dalam waktu cepat, untuk berbagai proyek infrastruktur strategis nasional. INA ini akan menjadi solusi untuk membantu memenuhi kebutuhan dana pembangunan infrastruktur yang bisa menembus Rp 9.800 triliun dalam lima tahun mendatang.

“SWF bisa meraup aset dana kelolaan hingga Rp 500 triliun dalam waktu yang tidak terlalu lama, seiring banyaknya minat investor untuk masuk ke SWF. Yang perlu dilakukan saat ini adalah perapian pipeline proyek yang akan ditawarkan kepada investor, terutama ruas tol, bandara, dan pelabuhan,” tandas Masyita Crystallin

Harapan Besar
Dirut PT Waskita Karya Tbk Destiawan Soewarjono berharap SWF bisa segera direalisasikan di Indonesia agar bisa membantu pendanaan bagi perusahaan infrastruktur di Indonesia. “Kami melihat kebutuhan infrastruktur di Indonesia ini masih sangat besar, APBN kita untuk infrastruktur itu setiap tahun trennya meningkat. Tapi, untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur nasional itu masih belum mencukupi pendanaannya. Dengan adanya SWF ini menjadi harapan sehingga kami lebih leluasa untuk mendapatkan pendanaan, selain commercial loan yang kami dapatkan melalui perbankan. Dengan SWF ini akan menjadi lebih terbuka, dan kesempatan bagi kami menjadi lebih lebar untuk mendapatkan financing-nya,” ujarnya.

Ia berharap adanya SWF dapat membantu financing yang bersifat long term. Dengan demikian, proses bisnis khususnya investasi di jalan tol bisa terus berputar.

“Saat ini kami menghadapi kendala pada saat selesai dan kemudian menawarkan direct kepada investor, nah itu prosesnya agak panjang. Apalagi dengan adanya Covid-19 menghambat proses transaksi tersebut. Adanya SWF ini harapannya proses menjadi lebih cepat, karena SWF mempunyai kapasitas financing yang besar,”kata dia.

Ia juga menjelaskan lebih lanjut mengenai perkembangan 18 jalan tolnya, setelah 2 ruas sudah didivestasi (dijual) tahun 2019. Dari sisanya 16 ruas, ada 5 ruas yang sudah 100% beroperasi.

“Sehingga sisanya 11 ruas, kira-kira 60% sudah beroperasi dan sisanya 40% diharapkan beroperasi di 2021. Secara keseluruhan, di akhir 2021 sebagian besar sudah beroperasi 100%, hanya sebagian kecil yang baru rampung dan beroperasi 100% akhir 2022. Inilah yang sedang kami siapkan untuk ditawarkan ke SWF yang diharapkan pertengahan semester sudah ada deal dengan investor di SWF, di luar agreement yang kami lakukan dengan investor dari luar yang sekarang tengah dalam proses negosiasi,” ujarnya.

Sementara itu, sebelumnya, Waskita Karya pernah memperkirakan beban utang perseroan bisa berkurang 40-50% tahun ini bila divestasi ruas jalan tolnya sukses. Ini akan sangat memangkas beban bunga yang ditanggung perusahaan.

Destiawan optimistis, kehadiran SWF dapat mendorong kinerja Waskita Karya dan perusahaan konstruksi ataupun infrastruktur yang lain. “Infrastruktur yang dibangun dari 2010 hingga 2019, kalau dari gambaran yang ada hingga 2019, kebutuhannya sekitar Rp 4.900 triliun. Itu baru bisa dipenuhi 40% dari anggaran pemerintah. Sisanya dari BUMN dan swasta. Nanti SWF berperan di situ. Ke depan, dengan adanya ketersediaan dana itu akan mempercepat. Lima tahun ke depan saya perkirakan akan berlipat. Apalagi kebutuhan akses tol di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi masih banyak,” ujarnya.

Potensi Sektoral
Lucky Bayu Purnomo menambahkan, yang perlu diperhatikan ke depan adalah kemampuan membaca potensi saham sektoral. “Pertama, harus mengacu pada potensi sektoral itu sendiri. Kalau kita melihat dalam struktur indeks, terdiri dari beberapa sektor strategis. Sektor-sektor tersebut masih menjadi perhatian, karena beberapa di antaranya masih memiliki kinerja di bawah indeks harga saham gabungan (IHSG),”ujarnya.

Faktor kedua, perlu penempatan horizon waktu, apakah jangka pendek, menengah, atau panjang. Kemudian kinerja sektor tersebut perlu benar-benar menjadi perhatian.

“Sebut saja kondisi saat ini, ketika indeks naik mencapai sekitar 6.445, tapi kenyataannya (indeks sektor) hanya menguat 0,17% misalnya. Itu artinya memang ada sentimen positif, tapi belum signifikan, karena pertama, menguat terbatas dan kedua, IHSG juga belum mencapai indeks yang pernah dicapai sebelumnya sekitar 6.600. Harapannya dengan ada SWF, IHSG bisa mencapai level psikologis 7.000,” lanjut dia.

Untuk utilisasi sentimen positif LPI, lanjut dia, maka perlu ada kerja sama lintaskementerian dan lembaga. Perlu ada program-program yang diakselerasi.

“Model pendanaan melalui SWF itu sangat baik. SWF dengan langkah prudent, memperhatikan aspek fundemental emiten yang memang memiliki langkah-langkah strategis. Kan ada beberapa emiten barangkali saling bersaing menawarkan return, sehingga untuk jangka panjang, perlu dukungan stimulus, perlu dibuat beberapa paket secara partial atau terstruktur, tidak perlu terburu-buru, jangan dulu mengejar pemerataan,” papar dia.

Sementara itu, Victoria Sekuritas pada Kamis (14/1) merekomendasikan buy sejumlah saham di sektor konstruksi seperti WSKT. “Buy WSKT dengan target price (TP) Rp 1.775, PTBA (TP Rp 3.170), INDY (TP Rp 2.020), TBIG (TP Rp 1.730), dan PWON (TP Rp 610),” paparnya. (eli/ns/hg/tl)

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN