Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi:  Investor Daily/David Gita Roza

Galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Mau Tahu Kinerja Pasar Modal Selama 1 Tahun Pandemi?

Kamis, 25 Maret 2021 | 05:45 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja pasar modal yang positif setahun sejak pandemi Covid-19 meletus pada 15 Maret 2020 di Indonesia. Kinerja yang positif ini terlihat dari peningkatan indeks harga saham gabungan (IHSG), kapitalisasi pasar modal, dan dana kelolaan industri reksa dana.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen menjelaskan, sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada 2020 lalu, pasar modal Indonesia mulai menunjukkan peningkatan, meski sempat mendapat tekanan berat pada kuartal I-2020. Hal ini bisa terlihat dari IHSG yang menguat ke level 6.324,25 pada 15 Maret 2021, meningkat 5,8% dari akhir 2020 yang mencapai 5.979,07.

"Kondisi ini lebih baik dibandingkan negara peers country seperti Malaysia dan Filipina yang masih mencatatkan minus masing-masing -0,84% dan -8,2% secara year to date," jelas dia dalam keterangan tertulis.

Peningkatan juga terjadi dari sisi kapitalisasi pasar modal, Hoesen menjelaskan, kapitalisasi pasar modal Indonesia mencapai Rp 7.401,46 triliun pada 15 Maret 2021. Nilai ini meningkat 6,2% dibandingkan akhir 2020 yang mencapai Rp 6.968,94 triliun.

Pertumbuhan kapitalisasi pasar modal ini seiring dengan banyaknya penawaran umum pada 2021. Hoesen mengungkapkan, selama 2021 terdapat penawaran umum sebesar Rp 30,53 triliun. Penawaran umum ini berasal dari 27 emisi, baik berupa saham maupun efek bersifat utang.

Kemudian dari sisi industri reksa dana, OJK juga mencatatkan dana kelolaan sebesar Rp 582,17 triliun hingga 15 Maret 2021. Nilai ini meningkat 1,53% dibandingkan akhir 2020 yang mencapai Rp 573,54 triliun. Pertumbuhan dana kelolaan ini ditopang oleh produk reksa dana yang mencapai 2.237 produk.

Selain jumlah produk, investor ritel juga turut menopang industri reksa dana dan juga segmen pasar modal lainnya. Per akhir Februari 2021, jumlah investor ritel mencapai 4,51 juta orang atau bertambah dari akhir 2020 yang mencapai 3,88 juta orang.

Penetrasi Reksa Dana

Sementara itu, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai, penetrasi reksa dana di Indonesia masih sangat rendah. Berkembangnya investor ritel bisa menjadi jalan untuk meningkatkan penetrasi tersebut.

Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia Afifa menjelaskan, berdasarkan data yang diolah Manulife dari berbagai sumber, tingkat penetrasi reksa dana di Indonesia baru mencapai 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2020. Sementara negara lain di kawasan Asia Tenggara mencatat tingkat penetrasi yang cukup tinggi, yakni Filipina dengan 5%, Singapura 21%, Thailand 31% dan Malaysia 31%.

"Kekayaan rumah tangga di kebanyakan keluarga Indonesia masih sekedar disimpan di alternatif tradisional seperti tabungan dan deposito, belum dikembangkan melalui alternatif investasi seperti instrumen pasar modal termasuk reksa dana," ujar Afifa.

Padahal Indonesia merupakan negara  ekonomi terbesar di ASEAN dengan rata-rata pertumbuhan tingkat PDB sebesar 7% hingga akhir 2019. Indonesia juga sudah memasuki kelas menengah atas dengan pendapatan rata-rata per kapita yang terus meningkat.

Untuk meningkatkan tingkat penetrasi tersebut, Afifa menilai ada dua peluang yang bisa digarap oleh pelaku industri. Pertama adalah dengan memanfaatkan pertumbuhan segmen ritel dari milenial.

Afifa menyebutkan, jumlah investor pasar modal pada 2020 meningkat 56% dari tahun 2019. Investor tersebut terdiri dari investor saham sebanyak 1,38 juta orang dan investor reksa dana sebanyak 2,58 juta orang sehingga total investor pasar modal pada 2020 mencapai 3,88 juta orang. "Namun sayangnya, jumlah investor tersebut baru mencapai 1,4% dari total jumlah penduduk di Indonesia," papar dia.

Pengembangan teknologi digital, menurut Afifa bisa menjadi salah satu jalan untuk menambah jumlah investor di pasar modal, terutama dari segmen milenial. Pasalnya, segmen masyarakat ini bisa merupakan segmen masyarakat yang paling banyak menggunakan teknologi komunikasi.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN