Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan di pabrik Astra International. Foto: Defrizal

Kegiatan di pabrik Astra International. Foto: Defrizal

Membaiknya Lini Bisnis Astra International

Sabtu, 23 Januari 2021 | 04:39 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Ekspektasi pemulihan ekonomi nasional dan solidnya harga jual komoditas pertanian dan tambang akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan PT Astra International Tbk (ASII). Hampir seluruh bisnis perseroan diharapkan membaik tahun ini dibandingkan tahun 2020.  

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, perbaikan ekonomi tersebut tidak hanya berdampak positif terhadap linibisnis otomotif perseroan, bisnis keuangan serta infrastruktur juga bisa terdongkrak.

“Kami juga memperkirakan harga jual komoditas akan tetap solid tahun ini yangdapat membantu penguatan kinerja keuangan divisi bisnis pertambangan dan agribisnis. Hal ini mendorong kami untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.300,” tulis Stefanus dalam risetnya.

Tahun ini, dia memproyeksikan peningkatan pendapatan Astra International menjadiRp 214,71 triliun dibandingkan perkiraan tahun 2020 senilai Rp 188,66 triliun. Laba bersih perseroan juga diharapkanmeningkat dari estimasi Rp16,17 triliun pada 2020 menjadiRp 17,55 triliun tahun ini.

Astra International. Foto: DEFRIZAL
Astra International. Foto: DEFRIZAL

Terkait perekonomian Indonesia, Stefanus memperkirakan bertumbuh sekitar 3,1-4,2% tahun ini dibandingkan perkiraan tahun 2020 yang minus 1,6%.

Pertumbuha ekonomi tersebut diharapkan menopang peningkatanvolume penjualan mobil nasional menjadi 780 ribu unit tahun ini atau tumbuh sekitar 49% dari perkiraan tahun 2020.

Dia juga menyebutkan bahwa pangsa pasar penjualan mobil oleh Astra International diperkirakan tetap berada di atas 50% atau berkisar 53% tahun 2021. Hingga November 2020, pangsa pasar penjualan mobil perseroan mencapai 51,2%.

Adapun margin keuntungan bisnis otomotif perseroan diharapkan positif sebesar 0,7% tahun ini dibandingkan realisasi hingga kuartal III-2020 dengan margin EBIT minus 2,3%. Perseroan diperkirakan tetap mampu membalikkan margin keuntungan di tengah masih ketatnya pasar penjualan mobil.

Sementara itu, tim riset Sinarmas Sekuritas juga menyebutkan, Astra International memiliki outlook positif tahun ini sejalan dengan ekspektasi pemulihan ekonomi nasional, kuatnya pangsa pasar penjualan mobil perseroan, dan pulihnya harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) dan batu bara.

“Namun, seluruh sentiment positif tersebut sudah tercermin pada saham ASII yang telah mengalami kenaikan signifikan belakangan ini. Sebab itu, kami memangkas rekomendasi saham ASII dari buy menjadi netral dengan targetharga Rp 6.000,” tulis tim riset Sinarmas Sekuritas. Astra International secara bertahap telah berhasil memperkuat bisnis otomotif, finansial, dan infrastruktur. Hal inididukung oleh sentimen positif dari program vaksinasi, peningkatan harga jual komoditas, dan rendahnya tingkat suku bunga perbankan.

Sinarmas Sekuritas memproyeksikan peningkatan pendapatan Astra International menjadi Rp 207,44 triliun tahun ini dibandingkan perkiraan tahun 2020 senilai Rp 164,41 triliun.

Laba bersih perseroan juga diharapkan meningkat dari perkiraan tahun 2020 senilai Rp 17,23 triliun menjadi Rp 18,66 triliun pada 2021.

Ekspansi Infrastruktur

Kegiatan di pabrik Astra International. Foto: DAVID
Kegiatan di pabrik Astra International. Foto: DAVID

Sementara itu, Astra Infra,anak usaha PT Astra International Tbk (ASII), menyiapkan belanja modal (capital expenditure/ capex) sebesar Rp 1,5 triliun pada 2021. Anggaran tersebut untuk pengembangan bisnis serta penambahan kapasitas portofolio jalan tol yang sudah dimiliki perseroan. Group CEO Astra Infra Djap Tet Fa mengatakan, belanja modal 2021 belum memasukkan anggaran akuisisi jalan tol. Sebab, keperluan akuisisi jalan tol tergantung dari kesempatan yang ada. Saat ini, pihaknya belum bisa memastikan jalan tolmana yang akan diakuisisi.

“Semua ruas tol Astra Infra telah beroperasi penuh, sehingga kebutuhan cash deficiency sudahberkurang. Dengan demikian, belanja modal 2021 hanya  untuk pengembangan bisnis,” kata dia kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Djap Tet Fa menegaskan, pengembangan bisnis yang dimaksud antara lain pelebaran jalan tol untuk penambahan kapasitas, pekerjaan pemeliharaan jalan, jembatan, serta fasilitas pendukung untuk alasan keamanan dan memenuhi standar pelayanan minimum.

Sebagai informasi, Astra Infra telah menyelesaikan proses akuisisi 100% saham PT Jakarta Marga Jaya (JMJ) dari PT Jakarta Infrastruktur Propertindo (JIP) dan PT Jaya Sarana Pratama (JSP) pada November lalu. Transaksi ini membuat Astra Infra secara tidak langsung memiliki 35% saham PT Marga Lingkar Jakarta (MLJ) yang merupakan badan usaha jalan tol (BUJT) ruas tol JORR I W2.

Sebelumnya, Djap Tet Fa mengatakan, berinvestasi di JORR I W2N adalah salah satu langkah strategis perseroan dalam mendiversifikasi portofolio bisnis jalan tol terutama area perkotaan.

“Akuisisi ini juga merupakan wujud kontribusi Astra Infra dalam mendukung kemajuan infrastruktur dan mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia di tengah pandemic Covid-19,” kata dia.

Salah satu aktivitas di pabrik Astra International. Foto: dok.
Salah satu aktivitas di pabrik Astra International. Foto: dok.

Jalan Tol JORR I W2N yang dikelola MLJ memiliki panjang 7,67 km dan telah beroperasi mulai 2014. Jalan tol JORR I terhubung dengan tol Jakarta-Cikampek, Jakarta-Bogor, Jakarta-Serpong, Jakarta-Tangerang, Tol Sedyatmo, dan merupakan jalur transportasi penting_yang memperlancar arus distribusi logistik serta mobilitas masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Manajemen Astra Infra berharap, dengan adanya ruas tol JORR I, konektivitas menjadi mudah dan lancer sehingga akan mendorong roda perekonomian nasional dan daerah terutama wilayah sekitar Jakarta. Adapun, akuisisi tol JORRI membuat kontribusi Astra Infra di ruas tol Jawa menjadi sekitar 357,6 km.

Secara rinci, perseroan memiliki konsensi jalan tol Tangerang-Merak (72,5 km), Cikopo-Palimanan (116,8 km), Semarang-Solo (72,6 km), Jombang-Mojokerto (40,5 km), Surabaya-Mojokerto (36,3 km), Kunciran-Serpong (11,2 km), dan JORR I W2N (7,67 km).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN