Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan apartemen di Jakarta, Jumat (27/3/2020).  Foto: SP/Ruht Semiono

Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan apartemen di Jakarta, Jumat (27/3/2020). Foto: SP/Ruht Semiono

Menakar Dampak Covid-19 Terhadap Saham Sektor Properti

Jumat, 17 April 2020 | 14:39 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pandemi Covid-19 membawa dampak pada penurunan produktivitas dan perubahan prilaku ekonomi masyarakat yang lebih defensif akibat ekspektasi penurunan pendapatan di masa mendatang. Kondisi ini dipandang akan berpengaruh negatif terhadap penjualan emiten properti maupun perusahaan properti secara umum.

Berdasarkan perhitungan PT Samuel Sekuritas Indonesia, tahun ini marketing sales emiten properti bakal turun hingga 25%. Lebih parah lagi, Samuel melihat secara umum, perbankan akan lebih konservatif dalam pemberian kredit tahun ini, termasuk diantaranya KPR dan KPA, yang berakibat turunnya transmisi pembiayaan konsumen untuk melakukan pembelian properti.

Riset yang ditulis oleh Analis Samuel, Ilham Akbar Muhammad yang dirilis pada 16 April 2020 menyebutkan, emiten dengan porsi penjualan cash installment besar lebih berisiko tersendat dalam segi arus kas konsumen. Hal ini disebabkan besarnya kontribusi profil konsumen yang memiliki pendapatan tidak tetap pada penjualan direct installment.

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) merupakan emiten dengan porsi cash installment terbesar pada marketing sales 2019, dengan total kontribusi 58,0%,” paparnya.

Sementara potensi kontraksi pada penyaluran KPR dan KPA dapat menurunkan indeks properti residensial secara umum. Penyaluran KPR dan KPA yang telah memasuki tren menurun sejak kuartal IV-2018, dapat kembali kontraksi seiring dengan outlook negatif pada penyaluran kredit kedepan.

“Hal ini kami perkirakan dapat berdampak negatif pada pertumbuhan harga aset properti secara umum,” ujar Ilham.

Adapun emiten yang mengandalkan sumber recurring income perhotelan dan pariwisata menjadi yang paling terkena dampak penurunan. Dengan asumsi peak cases Covid-19 pada Juli-Agustus 2020, pendapatan perhotelan dapat turun rerata -50% yoy pada akhir tahun 2020.

Sementara itu, sumber pendapatan berulang shopping malls ditaksir Ilham dapat turun 10%-20% pada akhir tahun 2020 akibat pemotongan tarif sewa kompensasi selama masa social distancing.

Mencermati kondisi itu, bagi investor yang menggandrungi saham properti Ilham menyarankan untuk stay defensive, dengan mengutamakan likuiditas, tingkat leverage moderat dan eksposur terhadap utang USD.

“Kami melihat PWON, BSDE, dan CTRA memiliki tingkat likuiditas yang baik dan leverage yang moderat. Sementara itu, ASRI dan beberapa emiten yang memiliki eksposur utang berdenominasi asing terbesar dibanding peers di tengah pelemahan mata uang Rupiah,” imbuhnya.

Kendati begitu dari sisi harga saham, mayoritas emiten menurutnya sudah berada pada posisi valuasi price-to-book value (PBV) ratio terendah pada historikal PBV saat krisis 2008.

Penggunaan metode valuasi PBV dilakukan untuk mendapatkan kesamaan spektrum valuasi yang lebih luas di pasar, dan menghindari sensitivitas EPS yang dapat terjadi pada kondisi ekstrim.

“Meski mayoritas emiten telah mencapai valuasi historikal PBV yang rendah, kami melihat BSDE, PWON dan CTRA menjadi emiten yang menarik untuk dikoleksi saat ini mempertimbangkan risiko likuiditas dan ketahanan neraca di masa depan,” ujarnya.

 

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN