Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah sedang mengantri untuk menarik uang di ATM BCA Sentul, Bogor, Jawa Barat.  Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Nasabah sedang mengantri untuk menarik uang di ATM BCA Sentul, Bogor, Jawa Barat. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Meneropong Kinerja Tangguh BCA di 2022

Rabu, 5 Januari 2022 | 15:52 WIB
Ely Rahmawati

JAKARTA, investor.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil mempertahankan kinerja yang solid sepanjang pandemi Covid-19. Bank swasta terbesar di Indonesia ini mampu mencatatkan laba bersih kumulatif sebesar Rp 23,2 triliun hingga September 2021, naik 15,8% dibanding periode sama 2020, yang didukung oleh beban bunga, opex, dan provisi lebih rendah.

Sinarmas Sekuritas mempertahankan peringkat ADD atas saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp 8.390 untuk sepanjang 2022. Ini berarti, sekitar 4,5 kali dari prediksi untuk book value dengan potensi kenaikan 11,9%.

Kinerja BCA diuntungkan dari franchise deposito yang kuat dan rasio Current Account Saving Account (CASA), yang merupakan rasio simpanan dalam bentuk giro dan tabungan.

Meskipun rasio deposit industri (terutama di rekening CASA) mulai melambat, posisi CASA BCA akan tetap solid karena perusahaan telah memanfaatkan aplikasi mobile banking Blu.

“BCA juga merupakan bank yang paling tangguh dalam cakupan kami karena mempertahankan biaya dan kualitas asetnya dengan cukup konservatif,” kata Equity Analyst Sinarmas Sekuritas Aryana Paramita dalam risetnya di Jakarta, baru-baru ini.

Harga saham BBCA dalam satu dekade terakhir
Harga saham BBCA dalam satu dekade terakhir

Harga saham BBCA telah mengungguli level sebelum Covid-19, yang menunjukkan ketahanan di satu sisi, tetapi potensi kenaikan yang lebih terbatas di sisi lain. Risiko penurunan kemungkinan berasal dari pemulihan ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan, dan lambatnya peningkatan pencairan pinjaman.

Pada 21 September 2021, BCA memiliki rasio cakupan kredit berisiko (loan at risk/LAR) tertinggi, namun proporsi pinjaman, biaya kredit (cost of credit/CoC), dan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) terendah.

Ini menetapkan BBCA sebagai pilihan berkualitas untuk sektor perbankan.

“Tidak seperti perbankan lainnya, kami memperkirakan pinjaman BCA tumbuh lebih lambat sekitar 8,4% pada 2022, mempertahankan angka di bawah level sepanjang 2019,” ujar Aryana.

Sisi baiknya, lanjut dia, Sinarmas Sekuritas memperkirakan biaya kredit akan normal pada kisaran 0,7%, bahkan lebih baik dari target manajemen. Ini karena melihat tren penurunan penyediaan pinjaman sementara margin bunga bersih tetap datar di sekitar 5,4%.

Meskipun kenaikan BI rate tidak menguntungkan bagi sebagian besar bank karena akan meningkatkan biaya dana, tidak terlihat dampak yang signifikan bagi BBCA, karena deposito terkonsentrasi di CASA, dengan rasio CASA terhadap pinjaman tetap di atas 100%.

Bahkan, perseroan telah menempatkan sebagian besar asetnya di surat berharga Bank Indonesia dan karenanya dapat menjadi sumber pendapatan, sementara pinjaman masih tumbuh perlahan. Namun, implementasi BI-Fast mungkin akan menjaga pertumbuhan pendapatan lain-lain (fee and commission income) dari sebelumnya rata-rata 10% YoY.

Karyawan melintas di depan kantor BCA di Jakarta.  Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR
Karyawan melintas di depan kantor BCA di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Tahun ini, BCA fokus pada digitalisasi melalui aplikasi Blu. Tujuan perseroan meluncurkan Blu untuk segmen mass market dan milenial adalah untuk melengkapi franchise CASA. Meskipun aplikasi Blu pada awalnya dinilai paling rendah di antara aplikasi perbankan lainnya, manajemen mengalokasikan anggaran untuk perbaikan berkelanjutan aplikasi yang tampaknya telah berhasil menaikkan peringkat.

Manajemen BCA telah menyuntikkan modal tambahan setara dengan Rp 2,7 triliun ke BCA digital untuk memperkuat struktur permodalan bank digitalnya. Pada 21 November 2021 (4 bulan sejak soft launching pada 21 Juli 2021), Blu memiliki 370 ribu pelanggan, mengumpulkan deposit Rp 970 miliar, dan jumlah transaksi harian rata-rata lebih dari Rp 100 ribu.

Namun, persaingan digitalisasi semakin memanas karena semakin banyak bank mini yang bertransformasi menjadi bank digital, dan semakin banyak bank yang menawarkan suku bunga tinggi untuk akuisisi nasabah baru.

Manajemen saat ini sedang menjajaki peluang BNPL (buy now pay later/beli sekarang bayar nanti) dan kemungkinan penyaluran pinjaman digital melalui Blu di masa mendatang.

Kinerja Solid

Prospek BBCA
Prospek BBCA

Sementara itu, Research Analyst MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan, pendapatan solid BCA didorong oleh penurunan beban bunga, opex, dan provisi. Perseroan membukukan laba bersih Rp 8,74 triliun pada kuartal III-2021, menyiratkan pertumbuhan 17,9% dibanding kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan double digit dari bottom line BCA disebabkan oleh penurunan provisi yang signifikan, meskipun pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) lebih rendah.

“Laba bersih BCA secara kumulatif berada pada Rp 23,2 triliun hingga September 2021, naik 15,8% dibanding periode sama tahun sebelumnya, didukung oleh beban bunga, opex, dan provisi, yang lebih rendah,” jelas Victoria dalam risetnya.

Dia menuturkan, laba bersih tersebut sedikit di atas ekspektasi analis dan perkiraan consensus yang mencerminkan 77% dari run rate. NII tumbuh moderat sebesar 3,3% YoY di Sembilan bulan 2021, terutama didorong oleh penurunan CoF BBCA, yang didukung oleh pertumbuhan CASA yang kuat meningkat 170 bps menjadi 78,1% per 21 September 2021.

“Pada saat yang sama, earning on yielding asset juga turun lebih dari 85 bps periode ini, menyebabkan penurunan NIM 63 bps menjadi 5,2%, namun masih sejalan dengan pedoman konservatif manajemen di 5,1%-5,3%,” papar Victoria.

Pertumbuhan fee dan komisi sejalan dengan peningkatan nilai transaksi mobile dan internet banking yang masing-masing tumbuh 50,8% dan 33,7%.

Di sisi pengeluaran, penurunan Opex didorong oleh pandemi Covid-19, namun manajemen BBCA mengharapkan cost income ratio/CIR untuk bangkit kembali ke 39-40% didukung oleh membaiknya kondisi pandemi.

Salah satu kantor BCA. Foto: InvestorDaily/David
Salah satu kantor BCA. Foto: InvestorDaily/David

Selain itu, penurunan provisi juga sejalan dengan penurunan kredit yang direstrukturisasi. BCA juga berhasil menjaga rasio cakupan yang cukup besar. Pertumbuhan kredit positif tumbuh 2,1% secara kurabu artalan atau 4,1% secara tahunan di segmen kredit korporasi.

Portofolio kredit korporasi yang menyumbang 44,54% dari total outstanding tumbuh 7,1%. Di sisi lain, segmen kredit komersial & UKM serta konsumsi tumbuh masing-masing sebesar 1,5% dan 2,1%.

Menurut Victoria, BCA mencoba memonetisasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif yang dilakukan Bank Indonesia (BI) di sektor properti dan otomotif dengan menggelar virtual expo untuk menggenjot kredit pemilikan rumah dan kendaraan bermotor. Hasilnya, total pinjaman yang direstrukturisasi turun 2% hingga 21 September tahun lalu, sementara NPL tetap terkendali sebesar 2,4% sesuai arahan manajemen.

“Kami berharap BCA dapat mencapai panduan manajemen tentang target pertumbuhan pinjaman pada 4-6% sepanjang 2021, mengingat pelonggaran pembatasan sosial dan peluncuran cepat vaksinasi Covid-19 di kuartal IV- 2021,” tandas dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN