Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung melihat harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pengunjung melihat harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Menjadikan Pasar Modal Agen Pertumbuhan Ekonomi di Era New Normal

Senin, 30 November 2020 | 09:32 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - Bank Dunia dalam studi empiris berjudul “Capital Markets Development Causes, Efffects, and Sequencing” yang diterbitkan Desember 2019 menemukan korelasi erat pasar modal dengan pertumbuhan ekonomi. Korelasi tersebut didasarkan besarnya manfaatkanpasar modal untuk membiayai berbagai sektor ekonomi strategis, seperti ekspansi perusahaan, pengembangan infrastruktur, perumahan, usaha kecil dan menengah, dan perubahan iklim.

Studi tersebut juga mengungkap bahwa pasar modal memiliki peran kunci dalam pengembangan teknologi maupun inovasi bisnis yang selama ini tidak bisa dijangkau sektor perbankan akibat risiko bisnis yang tinggi. Selain itu ditemukan bahwa negara yang memiliki pasar obligasi dan saham yang kuat akan lebih cepat pulih dari resesi ekonomi, dibandingkan negara yang didominasi sektor perbankan.

Studi tersebut membuktikan bahwa pasar modal berimbas luar biasa terhadap ekonomi suatu negara. Meski demikian, studi tersebut mengungkap bahwa pasar modal tentu dapat berkembang dengan baik, jika didukung stabilitas makroekonomi yang baik, investor institusional dan ritel yang kuat, serta kelembagaan yang kuat, termasuk mekanisme perlindungan investor yang baik.

Dari studi ini bisa disimbulkan pasar modal yang kuat dan besar tentu akan menghasilkan perekonomian negara yang besar dan kuat pula. Indonesia yang ingin menjadi negara dengan perekonomian cepat pulih pasca Covid-19, maka penguatan pasar modal harus menjadi fokus utama. Saatnya pasar modal menjadi agen utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dari terpaan resesi akibat Covid-19 ini.

Kini menjadi pertanyaan, apakah pasar modal Indonesia bisa menjadi agen pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan baru Covid-19 ini? Adaptasi kebiasaan baru (new normal) ini justru bisa menjadi kesempatan besar bagi dunia pasar modal untuk menjadi agen pendongkrak perekonomian Indonesia, meski penguatan perananan pasar modal bukannlah pekerjaan mudah. Banyak hal yang perlu diperkuat untuk mencapainya, tetapi bukan tidak mungkin.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan investor domestik, baik institusi dan ritel. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memang telah terlihat lonjakan jumlah investor dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan sepesat ini belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data KSEI per 27 Oktober 2020, jumlah investor lokal di pasar modal telah mencapai 3,39 juta orang, dibandingkan sepanjang tahun 2019 mencapai 2,48 juta orang. Dari jumlah tersebut, investor saham mencapai 1,43 juta orang.

Peningkatan jumlah investor domestik mulai mengurangi dominasi investor asing di sejumlah portofolio investasi pasar modal. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 20 November 2020, kepemilikan saham oleh investor asing kini hanya mencapai Rp 1.721 triliun atau 50,12% dari total aset saham. Kendati secara volume, kepemilikan saham asing hanya 1,5 triliun saham atau 34,32% dari total kepemilikan.

Bank Dunia dalam laporan terbarunya “Aspiring Indonesia – Expanding the Middle Class” menyebutkan bahwa populasi kelas menengah Indonesia telah mencpai 52 juta orang atau setara dengan 20% dari jumlah penduduk tahun 2019. Jumlah kelas menengah tersebut diprediksi meningkat menjadi 115 juta orang atau setara dengan 45% dari populasi penduduk Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Artinya setidaknya 52 juta orang saat ini berpotensi untuk ditarik menjadi investor pasar modal, sehingga dapat disimpulkan penambahan jumlah investor masih sangat terbuka lebar.

Jumlah investor pasar modal.
Jumlah investor pasar modal.

Penambahan jumlah investor memang bukan pekerjaan mudah, karena harus dibutuhkan pendekatan holistik, apalagi berdasarkan penuturan Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Djustini Septiana, tingkat literasi dan inklusi pasar modal baru mencapai 4,92% dan 1,55% pada 2019.

Digitalisasi dan Pelindungan Investor

Pendalaman pasar modal, baik dari sisi penambahan jumlah investor, penambahan jumlah produk pasar modal, dan menarik minat lebih banyak perusahaan masuk pasar modal, hanya bisa dipercepat dengan mengoptimalkan teknologi informasi maupun digitalisasi pasar modal. Apalagi setelah dunia dilanda pandemi Covid-19, digitalisasi merupakan metode paling efisien dan efektif untuk memperkuat pasar modal.

Pasar modal bisa belajar dari dunia marketplace yang sudah berhasil mengubah perilaku konsumen dalam berbelanja dari off line menjadi online hanya dalam jangka waktu relatif singkat. Data Wearesocial dan Hootsuite mengungkap bahwa Indonesia kini telah menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara. Sekitar 90% pengguna internet di Indonesia pernah berbelanja online. Nilai kapitalisasi pasar e-commerce di indonesia mencapai US$ 21 miliar. Bahkan, berdasarkan laporan McKinsey, industri e-commerce di Indonesia diprediksi mencapai nilai US$ 40 miliar pada 2022.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa lonjakan nilai transaksi e-commerce tersebut didukung pertumbuhan pesat jumlah kelas menengah Indonesia menjadi 52 juta pada 2019. Faktor lainnya didukung pesatnya pertumbuhan penetrasi pasar internet Indonesia dan penggunaan telepon pintar (smart phone). Selain itu, penguatan infrastruktur yang berjalan cepat, seperti kehadiran bertambahnya jumlah perusahaan teknologi finansial dan jasa pengiriman barang yang memberikan pelayanan yang semakin cepat. Dalam dunia e-commerce ditemukan bahwa pembukaan akun penjual, pembeli, pembayaran, dan pengirman barang dilakukan secara digital. Hal ini sangat mempermudah.

Pengalaman ini tentu bisa menjadi pelajaran penting bagi industri pasar modal untuk membiasakan masyarakat bertransaksi di pasar modal. Pemanfaatkan teknologi informasi juga berdampak langsung terhadap efisiensi dan keterjangkauan bagi seluruh masyarakat. Digitalisasi tentu akan membawa manfaat luar biasa bagi ekosistem pasar modal yang diharapkan menciptakan stabilitasi pasar modal yang berujung terhadap penciptaan pasar modal sebagai agen pertumbuhan ekonomi Indonesia di era new normal ini.

Besarnya manfaat teknologi informasi ini juga diakui oleh Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Djustini Septiana dalam dalam acara Beritasatu Economic Outlook secara virtual di Jakarta, beberapa pekan lalu. Menurut dia, OJK akan mencoba untuk memperbanyak sosialisasi melalui teknologi informasi dan sosial media serta melalui sinergi dengan pihak lain guna mendongkrak jumlah investor ke depan.

Begitu juga dengan SROs, yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Efek Indonesia (KPEI), juga telah melangkah dengan memanfaatkan teknologi informasi. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kebijakan dalam beberapa tahun terakhir. Di antaranya, BEI telah melakukan soft launching Sistem Electronic Indonesia Public Offering (e-IPO) yang diharapkan mempermudah akses investor untuk berpartisipasi dalam pasar perdana dan meluncurkan IDX Virtual Trading. Tahun lalu, SROs telah memeperbolehka pembukaan rekening efek secara online dan telah diimplementasikan hampir seluruh perusahaan efek.

Begitu juga dengan KPEI telah merealisasikan penambahan new data centre. KPEI juga telah meluncurkan layanan aplikasi m-CLEARS, sebuah aplikasi berbasis mobile dengan platform Android dan iOS untuk kebutuhan anggota kliring dalam memperoleh informasi yang mudah, cepat, dan akurat atas layanan kliring dan penjaminan penyelesaian transaksi Bursa. Hal serupa juga dilakukan KSEI dengan mempercepat realisasi penggunaan platform electronic proxy (e-Proxy) yang dinamai eASY sejak 20 April 2020. KSEI juga telah mengimplementasikan fase lanjutan dari C-BEST Next-G yang mencakup modul Corporate Action, serta peningkatan kecepatan pemrosesan dari 20.000 menjadi 80.000 transaksi per menit.

Konsistensi orientasi pemanfaatan teknologi informasi telah mulai membuahkan hasil yang dibuktikan dengan pesatnya penambahan jumlah investor pasar modal. Nilai transaksi harian saham di BEI juga bertumbuh pesat di tengah masih berlanjutnya pandemi Covid-19 dan penjulan bersih (net selling) saham oleh investor asing. Begitu juga nilai penggalangan dana perusahaan melalui pasar modal tergolong masih besar mencapai Rp 100,1 triliun dari 149 aksi penawaran umum berdasarkan data OJK hingga 24 November 2020. Konsistensi mengedepankan digitalisasi pasar akan membuat pendalaman pasar modal bisa terwujud yang berujung pada stabilitasi.

Faktor terpenting lainnya adalah perlindungan investor. Perlindungan investor yang lemah akan menurunkan persepsi investor terhadap pasar modal yang berujung terhadap lemahnya tingkat kepercayaan terhadap industri ini. Tanpa perlindungan yang memadai dari OJK dan SROs niscaya masyarakat beralih dari kebiasaan menabung menjadi investasi. Apalagi berinvestasi di pasar modal memiliki risiko, sehingga dibutuhkan perlindungan yang bisa membuat investor dan pelaku pasar lainnya nyaman bertransaksi di tengah risiko pasar.

Berdasarkan data dari banyak literatur bahwa pasar modal yang memiliki perlindungan investor yang kuat akan berimplikasi langsung terhadap keputusan investasi lebih tepat. Investor akan beroritenasi pada tujuan investasinya dan tidak akan mudah goyah, manakala krisis ekonomi melanda. Hal ini tentu akan membuat stabilitas pasar modal lebih kuat, meski ekonomi dilanda krisis sekalipun. Bahkan, krisis bisa menjadi kesempatan bagi investor ritel domestik untuk mengakumulasi efek pasar modal.

Perlindungan investor yang kuat juga berkorelasi terhadap kemudahan perusahaan untuk menggalang dana dari pasar modal untuk bertumbuh, berinovasi, mendiversifikasi, dan bersaing. Jika regulasi pasar modal tidak memiliki perlindungan yang baik, investor mungkin enggan untuk berinvestasi. Upaya-upaya yang dilakukan OJK dan SRO untuk mengedukasi publik agar berinvestasi di pasar modal bisa saja tidak akan berarti.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Pasar Modal ke-43 di Jakarta, belum lama ini, mengatakan, guna meningkatkan perlindungan investor, OJK akan merealisasikan peraturan disgorgerment atau ketentuan agar pihak-pihak yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di Pasar Modal dapat mengembalikan sejumlah uang dari keuntungan ataupun kerugian yang tidak sah alias melawan hukum.

Tak ketinggalan SROs juga sedang menyiapkan strategi untuk penguatan perlindungan investor. Dirut BEI Inarno Djajadi sebelumnya mengatakan, BEI sedang menyiapkan sistem perdagangan periodic call auction. Papan khusus ini dengan menggunakan sistem perdagangan periodic call auction. Sistem ini nantinya mengumpulkan terlebih dahulu penjual maupun pembeli dan transaksi dilakukan dengan interval tertentu.

Upaya digitalisasi pasar modal dan perlindungan investor, jumlah pemodal domestik akan bertumbuh pesat ke depan. Stabilitas pasar modal juga akan tercapai yang tentu akan bermuara terhadap kemudahan bagi perusahaan maupun pemerintah untuk mendapatkan dana murah melalui pasar modal guna menopang perekonomian dan tingkat kemakmuran masyarakat dalam jangka panjang.

 

 

 

 

 

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN