Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Penerbitan Surat Utang Korporasi bakal Lebih Ramai

Selasa, 19 Januari 2021 | 23:42 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Penerbitan surat utang korporasi tahun ini diyakini bakal lebih ramai, seiring rendahnya suku bunga dan kebutuhan pendanaan. Nilai emisi tahun ini diperkirakan mencapai Rp 140,7 triliun, meningkat 45% dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebesar Rp 96,6 triliun.

Head of Economic Research PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri Permana mengatakan, hal tersebut juga didorong oleh surat utang yang jatuh tempo sebesar Rp 121 triliun. Katalis lainnya adalah peningkatan minat emiten untuk menerbitkan surat utang korporasi. "Saat perekonomian membaik, permintaan terhadap surat utang juga membaik dan itulah yang mendorong meningkatnya penerbitan surat utang korporasi," kata dia dalam paparan secara virtual, Selasa (19/1).

Fikri belum bersedia memprediksi nilai penerbitan surat utang korporasi pada kuartal I-2021. Namun, Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pefindo Niken Indriarsih menjelaskan, secara historis penerbitan obligasi akan lebih banyak terjadi pada kuartal II. Kemudian, pada kuartal III dan kuartal IV karena banyak obligasi jatuh tempo pada periode tersebut.

Menurut data Pefindo, pada akhir tahun lalu, nilai penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 96,6 triliun. Surat utang ini paling banyak berupa obligasi sebesar Rp 80 triliun. Kemudian, medium term notes (MTN) tercatat sebesar Rp 6,75 triliun, sukuk sebesar Rp 7,89 triliun, dan sisanya instrumen lain.

Dari segi sektor, industri multifinance paling banyak menerbitkan surat utang korporasi sebesar Rp 14,35 triliun. Disusul, lembaga keuangan khusus sebesar Rp 12,28 triliun, industri keuangan sebesar Rp 9,93 triliun, dan industri lainnya.

Sementara itu, per 18 Januari 2021, Pefindo menerima mandat untuk pemeringkatan surat utang korporasi senilai Rp 32,2 triliun. Niken menjelaskan, surat utang tersebut berpotensi untuk diterbitkan tahun ini atau paling lambat tahun depan.

Mandat surat utang korporasi paling banyak berasal dari sektor pembiayaan sebesar Rp 8,9 triliun dan sektor konstruksi sebesar Rp 5,3 triliun. Dari sisi instrumen, paling banyak berbentuk PUB senilai Rp 9,5 triliun, MTN senilai Rp 8,1 triliun, sukuk Rp 7,3 triliun, sekuritisasi Rp 3,5 triliun, obligasi sebesar Rp 3,2 triliun, dan lain-lain.

Sementara itu, Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, penerbitan obligasi korporasi tahun ini bisa menembus Rp 100 triliun atau meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 96,6 triliun.

"Tahun ini penerbitan surat utang korporasi akan lebih banyak karena tahun lalu emiten sempat menghentikan penerbitan obligasi korporasi karena pandemi Covid-19," kata dia.

Dilihat dari segi waktu, penerbitan obligasi korporasi ini akan lebih banyak dilakukan pada semester II-2021 atau sebanyak 65% dari total penerbitan. Pada semester I-2021, emiten diperkirakan masih akan menghadapi risiko dari pandemi Covid-19.

Seiring mulai pulihnya perekonomian, baik dengan distribusi vaksin Covid-19 dan faktor lainnya, emiten juga akan meningkatkan pendanaannya. Surat utang korporasi dalam hal ini akan menjadi pilihan pelaku usaha.

Emiten memilih surat utang korporasi karena dari tingkat suku bunga jauh lebih menarik. Era suku bunga rendah dengan BI 7 days reverse repo rate yang sudah turun beberapa kali membuat beban bunga jauh lebih rendah. "Sehingga tahun ini adalah saatnya untuk menerbitkan obligasi korporasi," ungkap dia.

Emiten dengan peringkat baik akan menikmati beban bunga rendah ini. Sementara, bagi emiten dengan peringkat obligasi yang menurun dan mengalami gagal bayar, menerbitkan obligasi tahun ini justru menambah beban biaya baru.

Investor, menurut Ramdhan, akan selektif memilih instrumen obligasi korporasi. Investor tidak akan memilih obligasi dari emiten yang mengalami gagal bayar. Mereka juga mempertimbangkan imbal hasil dari surat utang negara (SUN) untuk mengoptimalkan keuntungan.

Risiko Gagal Bayar

Lebih lanjut, dengan adanya pandemi Covid-19, risiko gagal bayar surat utang korporasi meningkat. Namun, menurut Fikri Permana, tingkat default rate (tingkat gagal bayar) tahun ini sudah turun menjadi 0,82% dari tahun lalu sebesar 0,87%.

Meski demikian, risiko gagal bayar masih ada, terutama di industri yang memiliki ketergantungan dengan lalu lintas orang dan barang. Industri ini adalah industri yang akan mengalami pemulihan lebih panjang. "Secara umum risiko gagal bayar masih ada. Tetapi dengan ekonomi membaik pada kuartal ketiga dan keempat akan menurunkan tingkat gagal bayar," tutur dia.

Sementara itu, Niken Indriarsih menambahkan, pada tahun lalu, ada beberapa emiten yang tidak bisa melunasi pokok surat utangnya. Seperti Perum Perumnas yang tidak bisa melunasi surat utang jatuh tempo sebesar Rp 200 miliar pada April 2020. Kemudian, PT Barata Indonesia yang tidak bisa melunasi obligasi jatuh tempo pada September 2020 sebesar Rp 100 miliar. “Tapi sekarang sudah settle, Perum Perumnas dan Barata Indonesia melunasi surat utangnya 10-11 hari setelah jatuh tempo," kata dia.

Kemudian, ada juga PT Modernland Realty Tbk (MDLN) yang tidak bisa melunasi pokok obligasi sebesar Rp 150 miliar pada Juli 2020. Pinjaman tersebut sudah direstrukturisasi dan diperpanjang jatuh temponya hingga Juli 2021.

Di lain pihak, PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TEKE) juga tidak bisa melunasi beberapa surat utang jatuh temponya sebesar Rp 841 miliar. Perusahaan saat ini masih proses restrukturisasi dan akan selesai tahun ini.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN