Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
foto dok. PGN

foto dok. PGN

PGN bakal Agresif di Luar Negeri

Minggu, 11 April 2021 | 22:23 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN bakal agresif mengembangkan bisnis gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) di luar negeri pada tahun ini. Perseroan mulai menyasar Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Tiongkok, kawasan Asia Tenggara, Pakistan, Turki, dan beberapa negara di Eropa.

Untuk ekspansi di luar negeri, PGN akan melakukan pendekatan dengan pelaku bisnis LNG di negara-negara yang menjadi target, yaitu Filipina, Myanmar, Vietnam, dan Thailand. Perusahaan secara intensif berdiskusi dengan Kementerian BUMN serta Kedutaan Besar Indonesia.

Tahun ini, PGN lebih optimistis perihal kinerja keuangan lantaran faktor pemulihan ekonomi. Hal ini tercermin dari target operasional yang dinaikkan. Perseroan mematok target volume niaga gas naik 10,14% menjadi 912 billion british thermal unit per day (Bbtud) pada 2020 dibandingkan realisasi 2020 yang sebesar 828 Bbtud. Volume transmisi gas ditargetkan naik 8,36% menjadi 1.360 million standard cubic feet per day (Mmscfd) dari sebelumnya 1.255 Mmscfd. Volume lifting minyak dan gas ditargetkan meningkat 26,6% menjadi 9,5 million barrels of oil equivalent per day (Mmboed) dari sebelumnya 7,5 Mmboed.

Kemudian, perseroan menargetkan volume operasi pemrosesan gas menjadi 162 TPD pada 2021 dibandingkan realisasi 2021 yang sebanyak 128 TPD dan transmisi minyak diharapkan naik menjadi 11,2 Mmboe dari sebelumnya 3,7 Mmboe. Sedangkan regasifikasi diturunkan menjadi 53 Bbtud dari sebelumnya 95 Bbtud dan pengelolaan LNG menjadi 55 Bbtud dari sebelumnya nihil.

“Target pendapatan dan laba pada 2021 diproyeksikan dapat selaras dengan peningkatan volume operasi. Untuk mendukung kinerja bisnis, selain berfokus pada bisnis inti, PGN juga terus menguatkan diversifikasi usaha di luar bisnis gas bumi yang masih sejalan dengan bisnis utama,” ungkap manajemen dalam laporan tahunan yang dikutip Investor Daily, Minggu (11/4).

Diversifikasi usaha di luar gas bumi antara lain melakukan ekspansi bisnis di bidang telekomunikasi, konstruksi dan enjinering, serta properti melalui entitas anak dan afiliasi dengan tujuan tercapainya proyeksi pendapatan dan laba perusahaan.

Manajemen PGN menilai, transformasi PT Pertamina sebagai holding migas memberikan peran kepada PGN sebagai operating subholding gas. Hal ini menyebabkan PGN secara langsung mengelola bisnis gas bumi termasuk LNG secara end to end. Untuk mengemban amanah tersebut, PGN akan fokus pada hal strategis dan menumbuhkan segmen bisnis.

Kinerja 2020

Pandemi Covid-19 memukul kinerja keuangan PGN pada tahun lalu. Perseroan membukukan rugi bersih US$ 264,7 juta, berbanding terbalik dari 2019 yang mencetak laba bersih US$ 67,58 juta. Sejalan dengan itu, pendapatan perseroan terpangkas 25% menjadi sebesar US$ 2,88 miliar pada 2020 dibandingkan 2019 sebesar US$ 3,84 miliar.

Manajemen menjelaskan, faktor pertama yang menyebabkan perusahaan harus membukukan rugi adalah penurunan kinerja dari segmen usaha niaga gas terutama disebabkan adanya penurunan permintaan gas bumi dari pasar sebagai dampak pandemi Covid-19.

“Banyak pelanggan PGN terutama dari pelanggan industri yang menurunkan kapasitas produksinya untuk beradaptasi dengan kondisi pandemi tersebut. Penurunan kapasitas produksi tersebut menurunkan konsumsi gas bumi,” ungkap manajemen.

Sementara itu, Direktur Keuangan PGN Arie Nobelta Kaban mengakui bahwa tahun 2020 merupakan tahun penuh tantangan, karena ketidakpastian kondisi global dan nasional akibat pandemi Covid-19 yang sangat berdampak pada kinerja PGN.

PGN mengalami kerugian, terutama juga disebabkan oleh faktor eksternal seperti sengketa pajak mengenai PPN pada periode tahun 2012-2013 yang diajukan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melalui upaya hukum peninjauan kembali (PK) dan telah terdapat putusan Mahkamah Agung pada Desember tahun 2020 sebesar US$ 278,4 juta. Selain itu, terdapat penurunan (impairment) aset di sektor minyak dan gas sebesar US$ 78,9 juta.

"Apabila tanpa kedua faktor yang di luar kendali manajemen di atas, kinerja keuangan PGN masih mencatat laba bersih sebesar US$ 92,5 juta. Perolehan laba tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan laba bersih yang distribusikan kepada entitas induk sebesar US$ 67,5 juta pada 2019," ujarnya.

Adapun debt service ratio tercatat sebesar 1,3 kali yang memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi pembayaran bunga dan pokok pinjaman yang masih mencukupi. Debt to equity ratio sebesar 51:49, yang menunjukkan komposisi kapital perusahaan dari debt dan equity masih seimbang dan masih lebih rendah dibandingkan loan covenant 70:30 saat ini, sehingga cukup terbuka ruang pendanaan eksternal untuk pengembangan perusahaan. (lov)

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN