Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto dalam wawancaranya dengan BeritasatuTV di Dealing Room Bank BNI di Jakarta, Senin (26/8/2019) .

Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto dalam wawancaranya dengan BeritasatuTV di Dealing Room Bank BNI di Jakarta, Senin (26/8/2019) .

LAPORAN DARI DEALING ROOM BANK BNI

Rupiah Senin Pagi Melemah 50 Poin di 14.265

Senin, 26 Agustus 2019 | 10:08 WIB

JAKARTA, investor.id - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi, bergerak melemah 50 poin atau 0,35% menjadi Rp14.265 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.215 per dolar AS.

Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto dalam wawancaranya dengan BeritasatuTV di Dealing Room Bank BNI di Jakarta, Senin (26/8/2019) mengatakan, pelemahan rupiah pagi ini merupakan rangkaian perjalanan rupiah pekan lalu dimana tekanan terhadap rupiah sudah terjadi.

“Pelemahan rupiah pagi ini sebetulnya merupakan carry over dari kejadian sepekan yang lalu di mana rupiah kita yang sebetulnya sempat hinggap di level 14.000-an  kemudian melemah ke arah 14.250 per dolar AS, ya memang karena sentimen eksternalnya sangat besar,” katanya.

Ryan menambahkan bahwa setiap kali Presiden Trump melakukan tekanan terhadap Tiongkok kemudian direspon negatif global currency market maupun global capital market. Apalagi setiap tweet Trump itu lalu direspon atau diretaliasi oleh petinggi-petinggi Tiongkok, ini semakin memberikan dampak yang lebih besar di pasar uang global.

“Nah itu yang membuat kenapa mata uang Asia di luar Yen Jepang itu mengalami tekanan. Dan sentimen itu makin membesar karena di luar dugaan muncul tudingan Trump bahwa bank sentral Tiongkok sengaja melemahkan nilau mata uangnya, sampai Trump menuduh Tiongkok sebagai manipulator kurs, ini pengaruhnya dominan terhadap pasar,” ujarnya.

Pada saat yang sama, lanjut Ryan, di dalam negeri tidak ada guyuran sentimen yang positif. Beberapa waktu lalu keluar rilis data mengenai PDB ternyata hasilnya relatif mengeceewakan pasar, sangat jauh di bawah ekspektasi.

“Sebagian pasar mem-forcast jelek-jeleknya pertumbuhan ekonomi kita bisa 5,1% ternyata rilis BPS hanya menhasilkan angka 5,05%. Hal lain, misalnya trade balance, lagi-lagi kita mengalami defisit untuk neraca perdagangan, walaupun secara absolut defisitnya berkurang. Tapi tetap akumulasi trade balance kita dari Januari hingga Juli kemarin masih defisit di posisi Indonesia,” ucapnya.

Menuirut Ryan, hal itulah yang membuat kombinasi antara ekternal dan internal relative kurang mensupport kondisi rupiah. (gr)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN