Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
KPR BTN. Foto: UTHAN A RACHIM

KPR BTN. Foto: UTHAN A RACHIM

Saham BTN Masih Layak Beli, Meski Lonjakan Kinerja Telah Diapresiasi

Selasa, 2 Maret 2021 | 04:46 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Realisasi kinerja keuangan tahun 2020 yang melampaui ekspektasi dan potensi berlanjutnya peningkatan kinerja pada 2021 menjadikan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) layak beli. Bahkan, sejumlah analis merevisi naik target harga BBTN.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengungkapkan, BTN berhasil membukukan lonjakan laba bersih sebesar 665,7% menjadi Rp 1,6 triliun pada 2020 dibandingkan 2019 yang sebesar Rp 209 miliar.

Pendapatan bunga turun tipis menjadi Rp 25,16 triliun dari Rp 25,67 triliun. Realisasi laba bersih tersebut melampaui ekspektasi atau setara dengan 115%.

Perseroan juga menunjukkan perbaikan sejumlah indikator sepanjang 2020, seperti kredit naik tipis 1,7% dan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 23,8%. Likuiditas perseroan juga tergolong sangat baik dengan LDR sebesar 93,2%.

BTN telah merestrukturisasi kredit nasabah sebesar Rp 57,5 triliun hingga akhir 2020 akibat pandemi Covid-19. Total kredit yang direstrukturisasi diperkirakan telah mencapai puncak. Sebagian besar atau mencapai 69,4% berasal dari segmen konsumer. Sisanya 24,2% dari segmen komersial dan 6,6% dari pendanaan syariah.

“Dari total restrukturisasi tersebut, kemungkinan 5,9% berpotensi downgrade (lebih rendah dari perkiraan sebelumnya antara 7-8%). Sebanyak 5% dari segmen konsumer berpotensi turun kualitas kreditnya.

Nasabah sedang menunggu antrian di teller Bank BTN di Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi:  Beritasatu Photo/Uthan
Nasabah sedang menunggu antrian di teller Bank BTN di Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan

Sementara, segmen komersial dan pendanaan syariah sekitar 8% berpotensi turun kualitasnya,” tulis Suria Dharma dalam risetnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga direvisi naik dari Rp 1.750 menjadi Rp 2.300. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PBV tahun ini 1,1 kali.

Target tersebut juga mempertimbangkan proyeksi berlanjutnya pertumbuhan BTN tahun ini, dengan kenaikan laba bersih hingga 60% menjadi Rp 2,56 triliun. Pendapatan bunga bersih diharapkan naik menjadi Rp 10,31 triliun dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 9,12 triliun.

Pandangan senada juga diungkapkan analis Trimegah Sekuritas Willinoy Sitorus dan Rifina Rahisa. Menurut mereka, realisasi kinerja keuangan BTN sepanjang 2020 telah melampaui target yang ditetapkan Trimegah Sekuritas. Laba bersih perseroan setara dengan 103,3% dan pendapata bunga bersih merefleksikan 99,5% dari target.

Harga BBTN satu dekade terakhir, prospek BBTN, kinerja keuangan BBTN
Harga BBTN satu dekade terakhir, prospek BBTN, kinerja keuangan BBTN

Adapun berdasarkan konsensus analis, laba bersih dan pendapatanbunga BTN setara dengan 114% dan 100,9%. “Sebab itu, kami menaikkan target harga saham BBTN dari Rp 1.900 menjadi Rp 2.300. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan ROE 2021-2023 sekitar 13,2% dan PBV tahun 2021 sekitar 1,1 kali,” tulis Willinoy dan Rifina dalam risetnya.

Tahun ini, laba bersih BTN diperkirakan kembali meningkat menjadi Rp 2,33 triliun dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 1,6 triliun. Pada 2022, laba bersih diproyeksi kembali meningkat menjadi Rp 3,22 triliun.

Berlanjutnya peningkatan laba bersih BTN bakal didukung oleh biaya pendanaan yang diperkirakan turun sekitar 50 bps tahun ini.

Bank Tabungan Negara (BTN) rayakan HUT ke-71
Bank Tabungan Negara (BTN) rayakan HUT ke-71

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) berpeluang memangkas suku bunga acuan sekitar 25 bps tahun ini. Peningkatan kinerja BTN juga bakal ditopang oleh berlanjutnya rasionalisasi cost to income ratio (CIR) yang telah berjalan sejak 2019 dengan memanfaatkan transformasi digital. Siklus kenaikan provisi pun diprediksi telah mencapai puncak dan permintaan restrukturisasi kredit diperkirakan mereda.

Ekspektasi tersebut juga bakal didukung oleh peningkatan kredit. Perbaikan permintaan kredit telah terlihat sejak kuartal terakhir tahun 2020. Berbagai faktor pendukung tersebut diharapkan membuat laba operasional BTN sebelum provisi meningkat sekitar 22% tahun ini.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN