Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi proyek pembangunan gedung. (Foto: Ruht Semiono)

Ilustrasi proyek pembangunan gedung. (Foto: Ruht Semiono)

Saham Dua Emiten Konstruksi Ini Lagi Murah, Mau?

Selasa, 10 Mei 2022 | 13:54 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Beberapa saham LQ45 saat ini tergolong menarik, yang terlihat dari price to book value (PBV) di bawah 1 kali. Dari saham-saham unggulan tersebut, pengamat pasar modal Wahyu Tri Laksono merekomendasikan dua saham emiten BUMN konstruksi, yaitu PT PP Tbk (PTPP) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

Menurut dia, PBV saham PTPP sekitar 0,53 kali, termurah di sektornya dan di bawah rata-rata PBV lima tahun terakhir.

“Murah bukan berarti fast profit ya. PBV murah tentu wajib didukung fundamental yang bagus. Pendapatan atau laba bersih yang mantap. Namun, kadang kurang didukung oleh sentimen, misalnya pandemi karena sektor bisnisnya kurang support,” papar Wahyu kepada Investor Daily.

Baca juga: Anggaran IKN Dinaikkan di 2023, BUMN Konstruksi Diuntungkan

Meski tergolong memiliki likuiditas baik dan kapitalisasi pasar yang besar karena masuk indeks LQ45, saham PTPP terpantau cenderung turun sejak pertengahan 2016. Padahal, PTPP beroperasi di sektor yang prospektif, karena kegiatan konstruksi dan pembangunan akan selalu ada. “Tetapi tetap bergantung pada orientasi pemerintah terutama terkait anggaran infrastruktur,” imbuhnya.

Secara umum, kinerja keuangan PTPP juga terlihat membaik pada 2021. Perseroan mencatatkan laba bersih hingga Rp 266 miliar atau tumbuh 62,4% secara year on year (yoy). Pendapatan perseroan tumbuh 5,9% menjadi Rp 16,76 triliun.

Adapun tantangan PTPP adalah tekanan terhadap kinerja operasional dan kenaikan beban bunga. “Ini menjadi faktor pemberat kinerja PTPP pada kuartal IV-2021, dengan pendapatan turun 2,7% dan beban bunga naik 75,8%,” jelas Wahyu.

Baca juga: Begini Update Perolehan Kontrak Emiten BUMN Konstruksi pada Kuartal I

Meski demikian, menurut dia, pemodal bisa mempertimbangkan untuk membeli PTPP. “Dalam jangka menengah atau panjang, harga Rp 1.000 sangat wajar,” ungkapnya.

Selanjutnya saham WIKA. PBV BUMN karya ini sekitar 0,65 kali. Perseroan membukukan pertumbuhan kinerja keuangan dengan pendapatan naik 12,2% menjadi Rp 11,64 triliun pada 2021 dibandingkan tahun sebelumnya Rp 10,38 triliun. Laba bersih melonjak 109,1% menjadi Rp 105 miliar dari Rp 50 miliar.

Dibandingkan valuasi PTPP yang termurah di sektornya, saham WIKA sedikit di atas PTPP. “Secara teknikal juga hampir mirip. WIKA sedang membentuk pola triple bottom, yang bila mengalami rebound berpotensi naik signifikan dibandingkan PTPP yang naiknya bertahap,” jelas Wahyu, yang juga founder Traderindo.com.

Lebih lanjut dia mengatakan, jika WIKA bisa lebih cepat naik dan melompat ke harga Rp 1.500, fase bearish pada saham tersebut akan usai. Setelah itu, WIKA bisa langsung menguji level tertinggi Rp 2.400-2.500. “Jika tembus Rp 2.500 artinya bullish, saham WIKA diperkirakan akan menguji level Rp 3.130 dan ATH (all time high) pada Rp 3.600,” ujarnya. (C02)

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN