Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melihat monitor pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi: B1/UTHAN A RACHIM

Karyawan melihat monitor pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi: B1/UTHAN A RACHIM

Saham Publik Minim Pasca Emiten Aksi Korporasi

Jumat, 30 Oktober 2020 | 16:27 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id –  Porsi saham publik sejumlah emiten menjadi minim setelah mereka menggelar aksi korporasi, seperti akuisisi. PT Bank Permata Tbk (BNLI), misalnya, kepemilikan publik terhadap saham Bank Permata per 7 Oktober hanya tersisa 1,29% setelah Bangkok Bank Pcl mengakuisisi perseroan dan melakukan tender wajib saham bank tersebut.

“Setelah penawaran tender wajib, total saham yang dimiliki Bangkok Bank di Bank Permata menjadi 27,68 miliar saham yang mewakili 98,71% dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh perseroan,” demikian manajemen perseroan dalam keterangan resminya, belum lama ini.

Manajemen Bank Permata menyatakan, Bank Permata bersama Bangkok Bank berupaya memastikan ketentuan kewajiban melepas saham yang diperoleh dari tender wajib (tender offer) dalam jangka waktu dua tahun ke depan.

Di pihak lain, kepemilikan publik atas saham PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) bakal terdilusi hingga menjadi 4,4% dari saat ini 18,47% setelah aksi penggabungan atau merger bank Syariah BUMN. Merger bank syariah ini dijadwalkan efektif pada 1 Februari 2021. Kementerian BUMN memutuskan memerger PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah agar Indonesia memiliki bank syariah berkekuatan besar dan kompetiti di level global.

Perjanjian merger bersyarat (conditional merger agreement/ CMA) ketiga bank anak perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk itu ditandatangani pada Senin (12/10).

Pada bagian lain, PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN) berupaya menggelar rights issue guna memenuhi ketentuan free float 7,5% dengan target realisasi paling lambat akhir tahun ini. Plaza Indonesia Realty telah meraih persetujuan pemegang saham pada Maret 2020 dan sempat menargetkan rights issue terealisasi paling lambat 30 Juni 2020, namun kemudian diundur.

Direktur Plaza Indonesia Realty Evy Tirtasudira mengatakan, perseroan telah melakukan persiapan right issue, seperti menunjuk lembaga dan profesi penunjang pasar modal.

“Kami berterima kasih kepada BEI yang telah memberikan perpanjangan waktu hingga 31 Desember 2020 untuk perseroan memenuhi persyaratan free float,” tutur Evy.

Hal senada terjadi pada PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS). Emiten grup Sinar Mas ini telah meraih restu pemegang saham sejak Agustus 2020. Namun, perseroan baru berniat melaksanakan rights issue untuk memenuhi ketentuan free float pada semester I-2021. (az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN