Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat pergerakan harga saham melalui monitor di salah satu sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor melihat pergerakan harga saham melalui monitor di salah satu sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

RENCANA IPO GOTO DAN BUKALAPAK TURUT BERI SENTIMEN POSITIF

Saham Teknologi Melejit, Anabatic dan Multipolar Technology Memimpin

Kamis, 17 Juni 2021 | 05:45 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Harga saham sejumlah emiten teknologi melejit pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (16/6). Lonjakan harga dipicu oleh aksi korporasi dan sentimen positif dari rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham GoTo serta Bukalapak.

Berdasarkan data RTI, dari 21 saham teknologi, 6 saham di antaranya membukukan kenaikan harga di atas 17% dibandingkan penutupan perdagangan Selasa (15/6). Kenaikan paling tinggi dicetak oleh saham PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) yang meningkat 24,73% menjadi Rp 1.160 pada penutupan perdagangan Rabu (16/6). Sehari sebelumnya, harga ATIC bertengger di posisi Rp 990.

Kemudian, saham PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) yang melesat 24,71% ke level Rp 5.350 dari Rp 4.290. Peningkatan juga terjadi pada saham PT Indosterling Technomedia Tbk (TECH) sebesar 20,69% dari Rp 2.570 menjadi Rp 3.150.

Selain itu, saham PT Indointernet Tbk (EDGE) juga menjadi salah satu saham teknologi yang mencetak peningkatan harga signifikan, yakni 19,93% ke level Rp 36.250. Peningkatan harga saham ini seiring dengan Digital Edge Ltd yang kini menguasai 59,1% saham Indointernet atau Indonet.

Tak ketinggalan, saham PT Galva Technologies Tbk (GLVA) juga mencetak peningkatan di atas 17%, yakni mencapai 18,35% ke level Rp 374 dari Rp 308. Terakhir, saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang harganya naik 17,41%.

Sebelumnya, BEI sempat menghentikan sementara (suspensi) perdagangan DCII karena adanya lonjakan harga dari Rp 13.750 pada akhir Mei 2021 menjadi Rp 50.250 pada penutupan perdagangan Senin (14/6). BEI akhirnya kembali membuka perdagangan DCII sejak sesi I pada perdagangan Rabu (16/6).

Adapun lonjakan harga DCII terjadi setelah CEO Grup Salim Anthoni Salim memborong saham DCI Indonesia sebanyak 192,74 juta (8,09%), sehingga kepemilikan sahamnya meningkat menjadi 265,03 juta saham (11,12%). Transaksi pembelian ini dilakukan pada 31 Mei 2021 pada harga Rp 5.277. Jumlah saham yang baru dibeli oleh Anthoni Salim sebanyak 192,74 juta saham, sehingga nilai transaksinya mencapai Rp 1,01 triliun.

Investment Information Head PT Mirae Asset Sekuritas Roger mengatakan, sejak pandemi Covid-19, teknologi digital berkembang pesat, sehingga memicu peningkatan harga saham di sektor teknologi.

Selain itu, sumber daya data terus meningkat dan bakal mengerek pendapatan emiten di sektor teknologi. Faktor lainnya adalah era digitalisasi yang bisa membuat emiten teknologi berkembang dan bisa memberikan terobosan dalam bisnis digital.

Peningkatan harga saham teknologi, menurut Roger, juga ditopang oleh aksi korporasi sejumlah emiten. Seperti yang terjadi pada DCI Indonesia dan Indointernet.

"Faktor lain yang tak kalah penting adalah ekspektasi IPO GoTo dan Bukalapak yang makin memberikan sentimen positif untuk sektor teknologi," jelas dia kepada Investor Daily.

Di antara saham teknologi tersebut, Roger melihat saham EDGE dan DCII masih berpeluang meningkat, meski secara valuasi dan tingkat kenaikan sudah terlalu tinggi. Kenaikan harga saham teknologi, menurut dia, akan mulai terbatas saat kenaikan sudah terlalu fantastis dan kemungkinan masuk daftar UMA (Unusual Market Activity).

Kendati harga saham teknologi saat ini meningkat pesat, namun Chief Economist and Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan menjelaskan bahwa eksposur pasar saham Indonesia terhadap sektor teknologi masih sangat rendah. "Belum banyak perusahaan teknologi besar yang IPO,” jelas dia.

Katarina mengungkapkan, bobot sektor teknologi pada indeks harga saham gabungan (IHSG) hanya sekitar 0,8%, jauh lebih kecil dari bobot sektor teknologi di pasar saham Amerika Serikat yang mencapai 27% pada indeks S&P 500 atau mencapai 18% pada indeks MSCI Asia Pacific. Hal ini juga yang menjadi salah satu faktor kinerja pasar saham Indonesia tertinggal (underperform) dibandingkan pasar saham regional dalam beberapa tahun ke belakang.

“Minat investor global sangat tinggi terhadap sektor teknologi, sehingga aliran dana investor ke Asia mengalir ke pasar saham negara-negara yang memiliki eksposur tinggi di sektor teknologi seperti Tiongkok, Taiwan, dan Korea Selatan," ujar dia.

IPO Bukalapak

Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menerima proposal IPO saham dari satu perusahaan e-commerce. Perusahaan itu diyakini adalah Bukalapak.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, sudah terdapat satu e-commerce yang telah menyampaikan dokumen IPO. Namun, dia tidak bersedia menyebutkan namanya hingga OJK menyetujui penerbitan prospektus awal kepada publik sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK No IX.A.2.

Sebelumnya, Bukalapak dikabarkan makin mantap untuk mencatatkan sahamnya di BEI. Bukalapak disebut-sebut menargetkan perolehan dana sebesar US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun dari IPO saham.

Bukalapak sudah mengirimkan proposal terkait rencana IPO kepada BEI. Bukalapak juga mengkaji rencana untuk mencatatkan sahamnya di bursa saham Amerika Serikat (AS) melalui skema special purpose acquisition company (SPAC). Aksi penggabungan usaha (merger) dengan SPAC ini diperkirakan menghasilkan valuasi sekitar US$ 4-5 miliar.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN