Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Djoko Tata Ibrahim, Deputy CEO Smartfren

Djoko Tata Ibrahim, Deputy CEO Smartfren

Smartfren Berhasil Tekan Rugi 38,59% Sepanjang 2019

Senin, 23 Maret 2020 | 15:33 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) membukukan pendapatan sebesar Rp 6,98 triliun sepanjang 2019 atau naik 27,14% dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 5,49 triliun. Naiknya pendapatan berhasil menekan rugi tahun berjalan menjadi Rp 2,18 triliun atau turun 38,59% dari tahun sebelumnyaRp 3,55 triliun.

 “Jasa telekomunikasi melalui penjualan data masih menjadi penopang utama pendapatan perseroan dengan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 6,60 triliun atau naik 26,19% dibanding periode sama tahun 2018 sebesar Rp 5,23 triliun,” jelas manajemen Smartfren dalam laporan keuangannya, Senin (23/3).

Sedangkan pendapatan dari lini bisnis non-data membukukan nilai sebesar Rp 311,90 miliar hingga akhir tahun lalu, meningkat 47,17% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 211,92 miliar.

Selain itu, jasa interkoneksi berkontribusi sebesar Rp 51,05 miliar bagi total pendapatan perseroan, naik 78,24% dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 28,64 miliar. Pendapatan dari lain – lain menyumbang sebesar Rp 18,28 miliar naik tipis 4,69% dari periode 2018 sebesar Rp 17,46 miliar.

Kendati demikian, beban usaha perseroan mengalami kenaikan 14,26% menjadi Rp 9,29 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 8,13 triliun hingga akhir tahun 2018. "Adapun, beban usaha terbesar di keluarkan oleh biaya operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi sebesar Rp 3,68 triliun," ungkap manajemen.

Penyusutan dan amortisasi tercatat sebesar Rp 3,68 triliun, biaya penjualan dan pemasaran berkontribusi sebesar Rp 939,36 miliar. Sementara, biaya karyawan sebesar Rp 778,34 miliar, serta umum dan administrasi sebesar Rp 205,86 miliar.

Dari sisi neraca, total aset perseroan tercatat sebesar Rp 27,65 triliun naik 9,67% dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 25,21 triliun. Total aset terdiri atas aset lancar sebesar Rp 1,77 triliun dan aset tak lancar sebesar Rp 25,87 triliun.

"Sedangkan, total liabilitas naik 16,84% menjadi sebesar Rp 14,91 triliun, dari sebelumnya Rp 12,76 triliun per Desember 2018," tandasnya. 

Kredit CDB 

Adapun sebelumnya, melalui PT Smart Telecom, perseroan meraih kredit dari China Development Bank (CDB) cabang Shenzhen senilai 1,58 miliar renminbi (RMB) atau setara Rp 3,10 triliun. Kucuran tersebut merupakan pinjaman fase IV dari bank asal Tiongkok tersebut

Di sisi lain, pinjaman tersebut juga akan digunakan Smartfren untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 250 juta untuk tahun ini. Sebelumnya, CDB secara konsisten menjadi kreditur emiten di bawah kendali Sinarmas Grup ini.

 

Editor : Elly Rahmawati (ely_rahmawati@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN