Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Smartfren Andromax. Investor Daily/DAVID

Smartfren Andromax. Investor Daily/DAVID

Smartfren Jajaki Pinjaman CDB US$ 200 Juta

Jumat, 28 Juni 2019 | 09:10 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) tengah menjajaki pinjaman dari China Development Bank (CDB) senilai lebih dari US$ 200 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk kebutuhan ekspansi jaringan sepanjang tahun ini.

Direktur Keuangan Smartfren Telecom Antony Susilo mengatakan, tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 200 juta. Mayoritas pendanaan atau sekitar 85-90% akan berasal dari pinjaman bank dan sisanya 10-15% dari internal. Sementara itu, selama ini CDB merupakan kreditor utama perseroan.

“Penjajakan pinjaman kali ini merupakan fase keempat. Nilai pastinya belum ditetapkan, kemungkinan lebih dari US$ 200 juta. Kami harapkan bisa diraih pada semester II-2019,” jelas Antony, usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Kamis (27/6).

Menurut Antony, perseroan juga memiliki opsi pendanaan yang lain, yakni penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) IV senilai Rp 1,2 triliun. Perseroan sebelumnya telah mengantongi persetujuan pemegang obligasi (bond holders) pada Desember 2018. Sehingga, perseroan mempunyai periode tenggat waktu hingga Desember 2020 untuk mengekekusi OWK IV tersebut.

Seperti diketahui, perseroan sebelumnya cukup konsisten menerbitkan OWK. Pada 2015, perseroan tercatat telah menerbitkan OWK III senilai Rp 5 triliun, dan OWK II senilai Rp 9 triliun.  

Tahun ini, perseroan akan menggunakan capex untuk membangun 5.000 base transceiver station (BTS) di seluruh Tanah Air. Hingga kuartal I-2019, perseroan telah menyerap capex sebanyak US$ 100 juta.

Pada kesempatan sama, Presiden Direktur Smartfren Telecom Merza Fachys mengatakan, dari 5.000 BTS yang dibangun perseroan sepanjang tahun ini, mayoritas dibangun pada kota-kota utama. Tak ketinggalan, perseroan juga membangun BTS di sejumlah kota-kota lapis dua.

“Tepat hari ini kami meresmikan BTS di kepulauan Anambas, Riau. Bulan lalu, kami sudah bangun di Samarinda dan Balikpapan. Jaringan Smartfren juga sudah sampai ke Natuna,” jelas dia.

Perseroan, lanjut Merza, juga memperluas hingga wilayah Sulawesi Selatan dan mempertimbangkan wilayah lain di Timur Indonesia. Selain melakukan ekspansi jaringan 4G LTE, saat ini perseroan juga telah mengantongi izin untuk melakukan uji coba jaringan 5G.

Sementara itu, Direktur Smartfren Telecom Djoko Tata Ibrahim menjelaskan, pihaknya menyakini dengan berbagai ekspansi jaringan di tahun ini, perseroan dapat menjaring banyak pelanggan. Bahkan, perseroan berani menargetkan total pelanggan tahun ini mampu menembus 30 juta pengguna.

“Hingga saat ini, total pelanggan Smartfren telah mencapai 17 juta. Masih ada setengah tahun lagi, jadi tinggal kerja lebih keras lagi,” kata dia.

Salah satu andalan perseroan untuk menggaet pelanggan adalah menawarkan paket data yang lumayan terjangkau, dibanding operator-operator besar lainnya. Adapun, total BTS 4G LTE  Smartfren saat ini mencapai 19.032 ribu yang tersebar lebih dari 200 kota di Indonesia.

Bakrie Telecom

Seperti diketahui, Smartfren dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sebelumnya pernah bekerjasama dalam pemanfaatan frekuensi bersama. Sejak 2014, Bakrie Telecom mengadakan kontrak kerjasama untuk pemanfaatan salah satu jaringan Smartfren di pita frekeunsi 850 Mhz. Kerjasama tersebut memiliki waktu tiga tahun dan dapat diperpanjang.

Menurut Merza, kerjasama tersebut belum berakhir. Hanya saja, tidak ada trafik di kanal frekuensi miliki Smartfren yang disewa oleh Bakrie Telecom. Sehingga tidak ada pembayaran sewa kapasitas frekuensi dari pihak Bakrie Telecom.

“Dalam kerja sama mereka bayar ke kami sesuai trafik. Namun, karena pemerintah mencabut lisensi Bakrie telecom untuk beberapa layanan. Maka mereka tidak lagi punya trafik,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN