Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu gerai Smartfren. Foto: IST

Salah satu gerai Smartfren. Foto: IST

Smartfren Segera 'Rights Issue' Rp 700 Miliar

Senin, 8 Maret 2021 | 05:55 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) segera mengeksekusi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMTED) atau rights issue dengan target dana maksimal Rp 700 miliar. Emiten Grup Sinarmas ini akan menyerap emisi tersebut untuk kebutuhan pelunasan utang.

Direktur Keuangan Smartfren Telecom Antony Susilo mengatakan, perseroan telah meraih persetujuan pemegang saham atas rencana rights issue pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 2 Maret. Harga pelaksanaan rights issue akan disampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Senin (8/3).

“Dana rights issue rencananya akan kami pakai untuk pembayaran pinjaman bank serta modal kerja. Pinjaman bank yang akan jatuh tempo di semester I ini adalah pinjaman dari CDB,” jelas dia kepada Investor Daily, Minggu (7/3).

Berdasarkan prospektus, Smartfren akan menerbitkan saham baru maksimal 7 miliar saham. Pada aksi ini, perseroan juga akan menerbitkan waran hingga 91,99 miliar waran atau sekitar 34,9% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh. Waran tersebut memberikan hak kepada pemegangnya untuk memesan saham dari perseroan pada harga tertentu setelah enam bulan sejak waran diterbitkan.

Jika terdapat pemegang saham yang tidak mengesekusi haknya pada rights issue Smartfren kali ini, maka persentase kepemilikan sahamnya akan terdilusi maksimal 37,6%. Per 9 Februari, struktur pemegang saham Smartfren antara lain PT Global Nusa Data sebanyak 30,30%, PT Wahana Inti Nusantara sebanyak 18,49%, PT Bali Media Telekomunikasi sebanyak 12,26%, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebanyak 12,15%, dan masyarakat menguasai 26,7% saham.

Tahun ini, Smartfren menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 200-300 juta pada tahun ini. perseroan diperkirakan akan bergantung pada pendanaan eksternal untuk kebutuhan ekspansi maupun membayar utang jatuh tempo sepanjang 2021.

Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings menilai, industri telekomunikasi Indonesia membutuhkan investasi yang tinggi secara terus menerus agar tetap kompetitif, terutama karena jangkauan jaringan Smartfren masih tergolong terbatas dibandingkan tiga operator besar lain.

Fitch menilai, pengurangan investasi dapat mengakibatkan Smartfren menjadi tertinggal lebih jauh dibanding dengan kompetitor-kompetitornya yang lebih besar dan berdampak pada momentum pertumbuhannya, walaupun belanja modal pada dasarnya bersifat fleksibel.

Pada 10 Desember, Fitch mengafirmasi peringkat nasional jangka panjang Smartfren, yakni CCC+, dan menarik peringkat tersebut secara bersamaan dengan alasan komersial. Fitch menilai, peringkat Smartfren tetap dibatasi lantaran perseroan mendanai kegiatan operasional dan belanja modal dalam jangka menengah dengan bergantung pada pendanaan eksternal. “Kami memperkirakan Smartfren akan tetap bergantung terhadap pembiayaan eksternal untuk membayar utang perusahaan yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat,” tulis Fitch.

Fitch mencatat, perseroan memiliki utang jatuh tempo sebesar US$ 37,5 juta pada semester I-2021, dan US$ 37,5 juta pada semester II-2021. Kemudian, arus kas bebas negatif Smartfren diprediksi akan bertahan dalam jangka menengah. Hal ini karena perusahaan berencana untuk mempertahankan belanja modal yang signifikan untuk memperkuat cakupan 4G long-term evolution (LTE).

“Kami memperkirakan arus kas dari operasi (cash flow from operation/CFO) Smartfren akan tetap tidak mencukupi untuk menutupi belanja modal tahunan yang diproyeksikan sekitar Rp2-4,5 triliun untuk 2021-2023, meskipun Smartfren telah menunjukan perbaikan CFO,” kata Fitch.

Secara historis, Fitch mencatat, defisit free cash flow (FCF) Smartfren tetap tinggi di atas Rp 3,8 triliun pada tahun 2018 dan 2019 karena belanja modal yang signifikan di atas Rp 2,7 triliun.

Rugi Berkurang

Smartfren Telecom membukukan pendapatan Rp 9,40 triliun pada 2020, atau melonjak 34,63% dibanding 2019 sebesar Rp 6,98 triliun. Pendapatan jasa telekomunikasi data berkontribusi Rp 8,62 triliun, non-data Rp 345,78 miliar, jasa interkoneksi Rp 170,09 miliar, dan lain-lain Rp 265,53 miliar.

Seiring lonjakan pendapatan, perseroan mampu menekan rugi usaha 65,9% menjadi Rp 784,67 miliar pada 2020, dibanding Rp 2,30 triliun pada 2019. Perseroan pun meraih keuntungan dari perubahan nilai wajar opsi konversi sebesar Rp 36,82 miliar, dari sebelumnya membukukan kerugian Rp 28,72 miliar. Alhasil, rugi bersih perseroan menurun 30,3% menjadi Rp 1,52 triliun, dari sebelumnya Rp 2,18 triliun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN