Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Archi Indonesia. Foto: Perseroan.

PT Archi Indonesia. Foto: Perseroan.

Tetapkan Harga Rp 750, Archi Pangkas Jumlah IPO Saham

Senin, 21 Juni 2021 | 18:15 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) memangkas jumlah saham yang dilepas dalam penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) menjadi 3,72 miliar saham atau setara dengan 15% saham dari ditempatkan dan disetor penuh, dibandingkan rencana semula sebanyak 4,96 miliar saham atau 20%.

Sedangkan harga pelaksanaan IPO ditetapkan di level Rp 750 per saham, sehingga total dana yang diraup dari aksi korporasi ini mencapai Rp 2,79 triliun.

Berdasarkan keterbukaan informasi dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Senin, (21/6), Archi akan melepas sebanyak 3,72 miliar saham ke publik dengan harga penawaran berkisar Rp 750 per saham. Adapun saham yang dilepas ini mewakili 20% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.

Perseroan juga akan mengalokasikan sebesar 0,02% dari saham baru kepada karyawan (employee stock allocation/ESA) dengan harga yang sama dengan harga penawaran. Saham tersebut juga dialokasikan sebesar 1,61% dari modal untuk management and employee stock option program (MESOP) atau setara dengan 400 juta saham.

Sedangkan bertindak sebagai penjamin pelaksana IPO saham perseroan adalah PT Citigroup Sekuritas Indonesia, PT Credit Suisse Sekuritas Indonesia, PT Mandiri Sekuritas, PT BNI Sekuritas, serta PT UOB Kay Hian Sekuritas.

Sedangkan masa penawaran umum ditargetkan pada 22-24 Juni 2021 dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 28 Juni 2021. "Pemesanan menggunakan sistem elektronik melalui website www.e-ipo.co.id," tulis manajemen.

Sementara itu, Direktur Archi Indonesia Adam Jaya Putra mengatakan, perseroan sempat berencana melakukan IPO saham pada 2014. Pasalnya, pemegang saham pengendali, yakni Rajawali Group menginginkan Archi tidak hanya tercatat di bursa London, namun juga bursa Indonesia.

"Pada 2013, Archi Indonesia sudah tercatat di bursa saham London, namun Rajawali Group yang saat itu memiliki 52% saham di Archi menginginkan Archi yang memiliki aset di Indonesia untuk mencatatkan saham di Indonesia," ujar dia.

Guna mendukung hal ini, Rajawali kemudian meningkatkan sahamnya di Archi menjadi 98% dan kemudian 100%. Namun demikian, melihat harga saham yang kurang mendukung, perseroan menunda rencana untuk IPO pada 2014.

Kendati demikian, Wakil Direktur Utama Archi Indonesia Rudy Suhendra menjelaskan, perseroan tetap berkeinginan untuk melakukan IPO saham. Perseroan juga meningkatkan kapasitas untuk bisa mendukung aksi IPO. Salah satunya adalah dengan meningkatkan cadangan emas, dari 2 juta ton pada 2014 menjadi 4 juta ton pada 2020.

Produksi emas, lanjut Rudy juga terus meningkat. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, produksi emas Archi meningkat dari 200 ribu ons per tahun menjadi 270 ribu ons per tahun. "Dengan melihat track record dan kenaikan harga emas, kami melihat 2021 menjadi timing yang tepat untuk melakukan IPO," ungkap dia.

Dengan menjadi perusahaan terbuka, Rudy melanjutkan, perseroan bisa mengembangkan dan mengakselerasi rencana bisnis sekaligus meningkatkan tata kelola perusahaan. Tujuan lainnya adalah untuk mengajak masyarakat berinvestasi di saham Archi karena Archi memiliki eksposur penuh terhadap bisnis pertambangan emas yang merupakan komoditas dengan nilai yang stabil dan sangat menarik bagi investor.

Terkait penggunaan dana IPO, perseroan akan menyerap sebanyak 90% dananya untuk pembayaran sebagian pokok utang bank. Sedangkan sisanya untuk pembiayaan kegiatan operasional dan modal kerja.

Archi memiliki lokasi tambang di provinsi Sulawesi Utara, yakni Tambang Emas Toka Tidung. Produsen emas ini mulai beroperasi sejak 2011 dan telah memproduksi total 1,9 juta ons atau setara dengan 58 ton emas pada 2020. Archi juga memiliki cadangan bijih emas sebanyak 3,9 juta ons atau setara dengan 121 ton per akhir Desember 2020.

Saat ini, Archi memiliki dua kontrak karya yang dikelola oleh anak usaha, PT Meares Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN). Kedua kontrak karya ini berlaku hingga tahun 2041, dan bisa mendapatkan dua kali perpanjangan, masing-masing untuk jangka waktu maksimum 10 tahun.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN