Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wika Gedung. Foto ilustrasi: IST

Wika Gedung. Foto ilustrasi: IST

Tiga Pendukung Kinerja Wika Gedung

Selasa, 14 Juli 2020 | 04:28 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) atau Wika Gedung memiliki tiga faktor penguat kinerja keuangan, yaitu likuiditas yang kuat dengan kas positif dan utang rendah, penggunaan teknologi modular, dan perseroan merupakan kontraktor gedung paling berpengalaman.

Tiga faktor tersebut diharapkan mendukung kinerja keuangan perseroan dalam jangka panjang. Faktor tersebut juga akan membuat perseroan bisa pulih lebih cepat dari wabah Covid-19 di Indonesia.

Sedangkan likuiditas yang kuat bakal membuat perseroan ekspansi lebih mudah dan cepat ke depannya.

Analis Sinarmas Sekuritas Kharel Devin Fielim mengungkapkan, Wika Gedung merupakan satu-satunya emiten konstruksi yang bisa mengambil keuntungan di tengah pandemic Covid-19, meskipun realisasi kontrak baru perseroan hingga Juni 2020 baru senilai Rp 999,6 miliar atau setara dengan 6,7% dari proyeksi tahun ini.

“Mayoritas kontrak baru datang dari proyek pembangunan gedung rumah sakit. Perseroan mendapatkan kepercayaan dari pemerintah untuk membangun RSUD didukung oleh performanya dalam penggunaan teknologi modular,” tulis Kharel dalam risetnya, baru-baru ini.

Wika Gedung

Wika Gedung, menurut dia, juga berpeluang besar untuk meraih kontrak baru minimal sebesar 10,9% dari total anggaran pembangunan Ibu Kota baru yang mencapai Rp 51,1 triliun.

“Kami memperkirakan bahwa Wika Gedung akan menjadi perusahaan yang paling diuntungkan atas proyek Ibu Kota baru ini karena didukung oleh kompetensi maupun pengalaman yang baik dalam konstruksi gedung,” jelasnya.

Wika Gedung juga didukung oleh inovasi dan teknologi dengan pengguna teknologi modular. Teknologi ini menawarkan jangka waktu pembangunan gedung lebih cepat, tanpa meninggalkan kualitas. Material yang digunakan juga lebih murah dan ramah lingkungan. Intinya teknologi mudular bisa menekan biaya pembangunan gedung sekaligus mempercepat waktu pembangunan.

“Teknologi baru ini juga menghasilkan margin keuntungan yang besar berkisar 50%, karena lebih efisien dan efektif. Sedangkan dari sisi jangka waktu penggunaan teknologi ini bisa lebih cepat 45% dari metode pembangunan gedung secara tradisional,” ungkap Kharel.

Secara keuangan, Wika Gedung didukung oleh DER dan ICR yang tergolong sehat, yaitu DER 0,1 kali dan ICR mencapai 29,1 kali dalam tiga tahun terakhir. Indikator tersebut menunjukkan bahwa perseroan masih memiliki kemampuan untuk menghadirkan belanja modal besar untuk membidik kontrak baru lebih banyak dalam beberapa tahun mendatang. Perseroan juga memiliki modal kerja yang kuat dan tidak memiliki turnkey proyek.

“Kami memperkirakan likuiditas perseroan tetap kuat dengan DER sekitar 0,1-0,2 kali dan ICR berkisar 30-33 kali pada 2021-2022,” sebut Kharel.

Selain faktor tersebut, Wika Gedung diperkirakan bangkit lebih cepat dari pandemic Covid-19. Peluang tersebut ditunjukkan oleh besarnya kontrak berjalan yang dipegang perseroan dan adanya kolaborasi degan perusahaan di Afrika Barat untuk membangun sejumlah apertemen.

Sebagaimana diketahui, proyek luar negeri tersebut menawarkan margin keuntungan yang relatif bagus. Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham WEGE dengan target harga Rp 350. Target harga tersebut mengimplikasikan PE tahun depan sekitar 7,8 kali.

Target tersebut juga menggambarkan neraca keuangan yang sehat, penggunaan teknologi modular baru, dan tidak memiliki turnkey projets. Target tersebut telah memperhitungkan target penurunan laba bersih menjadi Rp 181 miliar tahun ini dibandingkan perolehan tahun lalu Rp 452 miliar. Namun, laba tersebut diharapkan kembali pulih tahun depan dengan target Rp 454 miliar. Pendapatan perseroan juga diperkirakan turun dari Rp 4,56 triliun menjadi Rp 2,22 triliun tahun ini dan diharapkan naik menjadi Rp 4,83 triliun pada 2021.

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael mengungkapkan, Wika Gedung kemungkinan meraih laba bersih senilai Rp 336 miliar pada 2020 dan Rp 381 miliar pada 2021 atau turun dari perolehan tahun 2019 yang mencapai Rp 452 milia

Target laba tersebut seiring proyeksi peningkatan pendapatan sebesar 5% tahun ini dan 16% tahun depan. Margin kotor diproyeksi stabil sebesar 10% pada 2020-2021. Target itu juga mempertimbangkan bahwa efisiensi biaya perseroan tetap berjalan secara efektif.

Menurut Joshua, Wika Gedung satu-satunya kontraktor yang dimiliki BUMN yang masih memiliki posisi kas positif. Hal ini tentu sangat menguntungkan perseroan di tengah ketatnya likuiditas sektor konstruksi akibat penundaan sejum- lah proyek yang sedang berjalan.

“Perseroan juga hampir tidak memiliki utang, karena rasio utang mendekati nol. Predikat tersebut tentu menjadi sentiment positif bagi perseroan,” tulis Joshua dalam risetnya.

Terkait target kontrak baru, Wika Gedung tergolong konservatif senilai Rp 7,8 triliun atau turun sebesar 19,2% dari realisasi tahun 2019 mencapai Rp 9,7 triliun. Apabila target terealisasi, nilai kontrak yang dipegang perseroan diharapkan meningkat menjadi Rp 20,2 triliun hingga akhir tahun ini.

Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham WEGE dengan target harga Rp 270. Target tersebut mempertimbangkan PE tahun ini sekitar 7,7 kali. Target tersebut juga telah mempertimbangkan peluang perseroan untuk tetap tumbuh ke depannya.

Target tersebut juga memperkirakan penurunan laba bersih menjadi Rp 336 miliar tahun 2020 dibandingkan realisasi tahun 2019 senilai Rp 452 miliar. Hal ini sejalan dengan proyeksi penurunan pendapatan perseroan dari Rp 4,56 triliun menjadi Rp 4,79 triliun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN