Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu fasilitas milik PT Widodo Makmur Unggas (WMU). Foto: Perseroan.

Salah satu fasilitas milik PT Widodo Makmur Unggas (WMU). Foto: Perseroan.

Widodo Makmur Unggas Siap Gelar IPO Terbesar Tahun Ini

Minggu, 25 Oktober 2020 | 22:47 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Widodo Makmur Unggas (WMU) bakal melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham terbesar tahun ini atau di atas nilai IPO PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE) yang sebesar Rp 1,03 triliun.

IPO Metro Healthcare terlaksana pada Maret lalu, sedangkan IPO Widodo Makmur Unggas dijadwalkan pada akhir November. Widodo Makmur Unggas adalah satu dari 17 perusahaan yang masuk dalam pipeline Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait rencana IPO calon emiten baru.

IPO Widodo Makmur Unggas juga diyakini bakal melampaui nilai IPO terbesar tahun 2019 yang bukan divestasi saham, yaitu PT Uni-Charm Indonesia Tbk (UCID), senilai Rp 1,2 triliun.

Pendiri Widodo Makmur Unggas Tumiyana mengatakan, pihaknya belum dapat mengungkap detail penawaran, lantaran saat ini proses IPO berada pada registrasi 2 di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, menurut dia, perseroan berencana melepas 35% saham ke publik. “Prospektus akan dirilis pada November. Bisa dibilang IPO terbesar tahun ini, tapi saya belum bisa sebut rinciannya,” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (25/10).

Adapun penjamin emisi atau underwriter yang menangani IPO Widodo Makmur Unggas, antara lain PT CGS-CIMB Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Samuel Sekuritas.

Tumiyana optimistis aksi korporasi ini bisa didukung oleh sentimen positif di pasar modal. Pasalnya, saat ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) sudah membaik atau berada di atas level 5.000. Selanjutnya, pengadaan vaksin Covid-19 berpotensi disambut positif oleh pelaku pasar.

Dia menambahkan, potensi bisnis perunggasan juga menjanjikan mengingat pasar konsumsi protein hewani di Indonesia masih 12 kg per kapitas, sedangkan banyak negara lain sudah di atas itu. Ke depan, adanya potensi peningkatan pendapatan per kapita di Indonesia berpeluang turut mendongkrak konsumsi protein hewani. Pihaknya juga mencermati permintaan yang naik di pasar luar negeri.  “Permintaan dari pasar Timur Tengah dan Afrika terus meningkat,” jelas dia.

Sebagai informasi, Widodo Makmur Unggas menargetkan dalam lima tahun ke depan dapat menjadi perusahaan penyedia produk pangan berbasis hewani dengan serapan pasar sekitar 15%. Saat ini, perseroan tercatat memiliki unit usaha pembibitan, penetasan, budidaya ayam broiler, dan rumah pemotongan ayam internal.

Widodo Makmur Unggas merupakan satu dari lima lini bisnis Widodo Makmur Perkasa Group. Pada Juli silam, Widodo Makmur Unggas menandatangani kerja sama dengan perusahaan asal Jepang, Fuji Electric Group, untuk membangun pabrik pakan ternak di Ngawi, Jawa Timur. Investasi pabrik mencapai Rp 650 miliar. Pabrik itu diharapkan bisa beroperasi pada semester I-2021.

Sebelumnya, perseroan pernah terlibat kolaborasi dengan perusahaan lain dalam melebarkan ekspansinya. Pada Januari 2020, perseroan menandatangani kesepakatan dengan The Sandi Group (TSG) Global bersama PT TSG Utama Indonesia dan Titan Global Capital Pte Ltd dalam rencana ekspansi bisnis ke Kongo, Afrika Tengah.

Antre IPO

BEI tidak menyebut secara rinci mengenai nama 17 perusahaan yang masih berada dalam daftar rencana IPO. Namun, 17 perusahaan tersebut terdiri atas enam perusahaan di sektor perdagangan, jasa, dan investasi, serta tiga perusahaan di sektor properti, real estate, dan konstruksi bangunan.

Selanjutnya, terdapat dua perusahaan dari sektor industri barang konsumsi, dua perusahaan di sektor aneka industri, serta dua perusahaan di sektor perkebunan. Sedangkan satu perusahaan lain dari sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi, serta satu perusahaan di sektor keuangan.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menjelaskan bahwa per 22 Oktober 2020, BEI telah menerima kedatangan 46 emiten baru. Adapun 17 perusahaan yang saat ini masih menjalani proses evaluasi penawaran umum diperkirakan mengeksekusi IPO pada November-Desember.

“Hadirnya sistem e-IPO diharapkan dapat menjalankan proses IPO secara transparan, serta meningkatkan coverage investors dan stakeholders terkait lainnya. Pada akhirnya kami berharap hal tersebut akan meningkatkan kepercayaan stakeholder terhadap pasar modal," kata Nyoman.

Selain penerbitan saham, saat ini juga terdapat sembilan perusahaan yang akan menerbitkan 10 emisi obligasi dan sukuk yang berada dalam pipeline rencana penawaran efek bersifat utang dan sukuk di BEI.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN