Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pengunjung berada di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1/2020). Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Seorang pengunjung berada di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1/2020). Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Fokus Pasar: IMF Kurang Optimistis Pada Perekonomian Global

Thereis Love Kalla, Selasa, 21 Januari 2020 | 10:00 WIB

JAKARTA, investor.id - International Monetary Fund (IMF) mengungkapkan kurang optimistis mengenai pertumbuhan global. Hal tersebut disampaikan dalam World Economic Forum di Davos, Swiss, pada Senin (20/1).

Mereka menyampaikan, prospek pertumbuhan global masih akan lambat dan belum ada titik yang lebih jelas mengenai kebangkitan pertumbuhan ekonomi. Tingkat pertumbuhan global akan berada di 3% untuk tahun 2019 dan 3,4% untuk tahun 2020.

Jumlah tersebut, mengalami kenaikan sebesar 0,1% dari sebelumnya yang disampaikan oleh IMF yaitu 2,9% untuk 2019 dan 3,3% untuk 2020.

Kendati demikian, IMF memberikan catatan penting bahwa ketidakpastian ekonomi terbesar yang disoroti pada bulan Oktober lalu telah menghilang. “Sejauh ini beberapa resiko terkait dengan perang dagang antara Amerika dan Tiongkok serta Brexit telah memudar," ujar analis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya Selasa (21/1).

Brexit sendiri akan dilakukan pada tanggal 31 Januari mendatang. Tentu hal ini akan mengurangi ketidakpastian yang telah lama cukup menggantung juga sehingga memberikan tekanan terhadap perekonomian global.

Selain itu, IMF juga menyampaikan bahwa Bank Sentral diharapkan untuk terus mendukung ekonomi masing-masing negara dengan kebijakan moneternya. Sejauh ini tanda-tanda yang muncul dari seluruh dunia memberikan gambar bahwa pertumbuhan global mungkin akan lebih stabil pada tahun ini.

“Tampaknya IMF setuju dengan pendapat kami yang mengatakan bahwa ketegangan mungkin saja akan kembali muncul antara Amerika dan Tiongkok. Oleh sebab itu IMF mengharapkan kesepakatan yang lebih luas dari kedua negara tersebut. Semakin luas kesepakatan, tentunya akan memberikan implikasi positif terhadap pertumbuhan global, begitupun dengan pertumbuhan Amerika dan Tiongkok,” ungkap analis.

Sementara itu Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Presiden AS Donald Trump sepakat untuk tidak akan mengenakan tarif khususnya terkait pajak digital pada tahun ini. Macron menyampaikan bahwa mereka akan bekerja sama pada kesepakatan yang baik untuk menghindari kenaikkan tarif.

“Sejauh ini hal ini tentu saja menjadi berita positif bagi kita dan bagi dunia. Hingga saat ini, Uni Eropa adalah mitra dagang Amerika yang bahkan jauh lebih besar daripada Tiongkok dalam hal rantai pasokan ekonomi di industri otomotif dan jasa keuangan. Apabila ada keributan maka hal tersebut akan memberikan dampak yang lebih berbahaya terhadap perekonomian dunia,” ujar analis Pilarmas Sekuritas.

Perancis dan Amerika akan melanjutkan negosiasi bersama dengan beberapa negara mitra Eropa hingga akhir 2020 untuk menyetujui kerangka kerja global yang memastikan bahwa perusahaan teknologi membayar pajak dengan jumlah yang sesuai.

Selanjutnya Amerika akan diwakilkan oleh Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Perancis akan diwakilkan oleh Bruno Le Maire, yang merupakan Menteri Keuangan Perancis, yang telah dijadwalkan akan bertemu pada hari Rabu (22/1) di Davos, Swiss.

 

Sebagai kilas balik, hubungan perdagangan antara Amerika dan Uni Eropa mulai memburuk pada tahun 2018. Semua itu dimulai ketika pemerintahan Trump meminta pertimbangan terkait pengenaan tarif baja dan aluminium dari Eropa. Hal ini menyebabkan Uni Eropa sebagai sekutu militer Amerika menjadi marah dan tentu saja segera membalas dengan pengenaan tarif yang lebih mahal terhadap beberapa merk seperti Harley Davidson atau Levi Strauss.

 

Sejak saat itulah Amerika menolak untuk memulai negosiasi pemotongan tarif kecuali Eropa memasukkan sektor pertanian di dalamnya syarat negosiasi. Trump sendiri akan menyampaikan beberapa hal di Davos nanti.

 

Sementara itu dari dalam negeri, Perjanjian Karya Pertambangan Batu Bara (PKP2B) industri batubara nasional menjadi fokus pelaku bisnis batubara dalam negeri saat ini. Pasalnya kepastian terkait perpanjangan operasi (PKP2B) dapat mempengaruhi produksi RUU Minerba yang saat ini masih dalam pembahasan di DPR.

 

Adapun, saat ini juga terdapat usulan agar PKP2B yang berakhir kontrak wilayahnya, akan diusahakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), termasuk kepastian perpanjangan dengan izin usaha jangka waktu dan luas wilayah. Sebagai informasi terdapat tujuh PKP2B yang akan habis dalam lima tahun mendatang diantaranya, PT Arutmin Indonesia yang memiliki luas lahan 57.107 ha habis masa kontraknya pada 1 November 2020, PT Kendilo Coal Indonesia dengan luas 1.869 ha yang habis pada 13 September 2021.

 

Kemudian PT Kaltim Prima Coal demgan luas lahan 84.938 ha yang selesai pada 31 Desember 2021. PT Multi Harapan Utama luas lahan 39 972 ha yang habis di 1 Oktober 2022, PT Adaro Indonesia dengan luas lahan 31 380 ha yang kontraknya habis pada 1 Oktober 2022, PT Kideco Jaya Agung yang kontraknya berakhir pada 13 Maret 2023 mendatang luas areanya mencapai 47 500 ha, dan PT Berau Coal luas lahan 108 009 ha habis pada 26 April 2025.

 

 

Kami melihat kepastian terkait Omnibus Law akan memperkuat perekonomian nasional, melalui perbaikan ekosistem investasi dan daya saing Indonesia, khususnya dalam menghadapi ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global.  Sementara terkait dengan adanya RUU Omnibus Law yang membahas PKP2B, diharapkan sangat diapresiasi pelaku usaha. Kebijakan Omnibus Law tersebut diharapkan tersebut tidak melanggar UU Minerba,” ujar Pilarmas Sekuritas.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA