Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah  mendapatkan pelayanan di salah satu perusahaan pembiayaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah mendapatkan pelayanan di salah satu perusahaan pembiayaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

2022, Piutang Pembiayaan Multifinance Diproyeksi Bisa Tumbuh 3%

Jumat, 3 Desember 2021 | 07:05 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Piutang pembiayaan multifinance diproyeksi tumbuh terbatas sekitar 0-3% di tahun 2022. Meski piutang belum tumbuh cepat, multifinance diimbau untuk tetap menjaga kualitas aset agar laba/rugi tidak ikut tergerus demi keberlangsungan bisnis.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaparkan, piutang pembiayaan bergerak fluktuatif dalam tiga bulan belakangan, sebesar Rp 358,78 triliun di Agustus 2021, naik 0,08% (mtm) menjadi Rp Rp 359,1 triliun di September 2021. Nilai itu turun tipis menjadi Rp 359,0 triliun di Oktober 2021, atau masih terkontraksi 5,5% secara tahunan (year on year/yoy).

"Piutang pembiayaan yoy harapannya -1% sampai dengan -5% (di 2021) jadi masih sesuai. Tahun depan (2022) diharapkan kembali ke posisi 0% sampai tumbuh 1%, tidak akan mungkin bisa tumbuh banyak karena toh diasumsikan kenaikan semua penjualan kendaraan juga tidak tumbuh banyak," kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno kepada Investor Daily, Kamis (2/11).

Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV
Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI)  Sumber: BSTV

Dia menyatakan, penjualan mobil tahun ini diperkirakan sampai dengan 750-800 ribu unit. Sedangkan penjualan mobil di tahun 2022 diproyeksi sebanyak 900 ribu. Meski ada peningkatan, jumlah itu masih lebih rendah dari realisasi di tahun 2019. "Karena banyak disrupsi seperti harga mobil naik, carbon tax, itu akan sulit di awal tahun depan setidaknya sampai semester I-2022," kata Suwandi.

Melihat kondisi tersebut, dia menilai, maka piutang pembiayaan multifinance hanya akan bergerak sedikit atau bahkan cenderung datar (flat). Proyeksi penjualan mobil dari Gaikindo itu sama halnya dengan perkiraaan penjualan motor roda dua yang belum tumbuh cepat atau sekitar 5%. Apalagi tingkat daya beli dari masyarakat juga masih sangat menentukan di tahun mendatang.

"Kalau tahun ini piutang pembiayaan ini ditutup -5%, maka tumbuh 0-1% di tahun 2022 itu sudah cukup bagus. Tergantung ditutup berapa di tahun ini? Kalau di tahun ini bisa ditutup -1%, maka ada kemungkinan tahun depan bisa naik sampai 3%. Jadi mungkin 0-3% lah tahun depan," terang Suwandi.

Dia menilai, lini pembiayaan yang bisa digali multifinance saat ini adalah dengan memberikan pinjaman kepada debitur yang sudah lunas atau hampir lunas. Misalnya dengan menawarkan dana tunai atau tukar tambah sebagai salah satu daya dorong, di samping terus mencari nasabah baru. "Jadi eksisting itu juga yang nantinya kita bisa tumbuh secara piutang. Sekarang kita juga sudah diperbolehkan untuk menyalurkan dana tunai," imbuh Suwandi.

Pembiayaan lainnya berdasarkan persetujuan OJK yang didalamnya adalah dana tunai memang mencatatkan pertumbuhan yang signifikan. Lini tersebut tercatat tumbuh 180% (yoy), dari Rp 158 miliar di September 2021 menjadi Rp 443 miliar di September 2021.

Restrukturisasi Pembiayaan

Pengunjung berada di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta, beberapa waktu lalu (Foto: . Investor Daily/David Gita Roza)
Pengunjung berada di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta, beberapa waktu lalu  Foto: . Investor Daily/David Gita Roza


Sementara itu, data OJK juga menerangkan ada 5,19 juta kontrak piutang pembiayaan multifinance restrukturisasi senilai Rp 216,22 triliun per 18 Oktober 2021. OJK menilai, pembiayaan restrukturisasi Covid-19 dan jumlah debitur di Oktober 2021 terus bergerak turun dengan tren melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Peran restrukturisasi sangat besar menekan tingkat NPF dari multifinance sehingga sektor jasa keuangan terjaga dengan baik.

Adapun non performing financing (NPF) multifinance naik tipis dari 3,89% di September 2021 menjadi 3,89% di posisi Oktober 2021. Namun demikian, NPF itu jauh lebih baik jika dibandingkan posisi Oktober 2020 yang tercatat di level 4,71%. Dari sisi permodalan, multifinance mencatatkan penurunan gearing ratio dari 1,95 kali di September 2021 menjadi di level 1,93 kali di Oktober 2021.

Suwandi meyakini, penurunan salah satu rasio kualitas aset itu menggambarkan bahwa banyak portofolio bermasalah sudah berhasil ditangani dengan baik. Pihaknya pun optimistis tren tersebut akan terus berlanjut di sampai akhir tahun ini dan di awal tahun 2022.

"NPF akan tetap stabil di kisaran itu. Harapan kita menjelang selesai resturkturisasi pada Maret 2022 tentu (portofolio restrukturisasi) yang sehat tidak lagi 70% tapi sudah mendekati 90%. Jadi piutang yang direstrukturisasi itu sudah menjadi soft lending, jadi tidak terjadi hard lending," ungkap dia.

Suwandi mengimbau agar multifinance tetap menjaga kualitas pembiayaan, tetap prudent, sehingga kualitas bisa baik.

"Meski pertumbuhan belum cepat, tapi kualitas pembiayaan dan NPF dijaga baik, maka tentu peforma pendapatan sampai rugi/laba juga baik. Kalau itu bisa terjadi, tentu kita akan tumbuh kembali pada saat situasi normal," ujar dia.

Di sisi lain, AAPI juga menyambut baik rencana OJK untuk menberi relaksasi lanjutan bagi industri keuangan non bank (IKNB), termasuk multifinance sampai dengan April 2023. Salah satu rencana kebijakan contercyclical lanjutan yang relevan bagi multifinance adalah mengenai pelaksanaan penilaian kemampuan dan kepatutan yang lebih fleksibel dan disesuaikan dengan penerapan status PPKM.

"Biasanya kalau relaksasi restrukturisasi untuk perbankan dilanjutkan, tentu supaya berkeadilan maka di IKNB khsusunya multifinance juga diperpanjang dan itu bagus. Artinya, restrukturisasi itu berjalan saat pandemi tapi bukan lagi nasabah yang dulu, ada yang sudah membaik, serta sisanya mungkin ada yang belum kembali dan membaik. Hal terpenting adalah kewajiban debitur itu meski ada perpanjangan masa pinjaman, tapi yang penting nanti bisa dibayar," papar Suwandi.

Di samping itu, Suwandi juga menyorot terus menyusutnya jumlah pelaku multifinance karena masalah permodalan. Dia menilai, fenomena multifinance yang berguguran suka atau tidak mesti terjadi karena tekanan pandemi dan berdampak pada permodalan. Catatan OJK, jumlah multifinance terus susut dari setidaknya pada Januari 2021 sebanyak 175 entitas menjadi sebanyak 164 entitas di September 2021.

Selian itu, penguatan modal menjadi bagian untuk mendorong kepercayaan dari perbankan sebagai salah satu sumber pendanaan multifinance. Kepercayaan perbankan secara beratahap mulai kembali, mulanya digambarkan dari multifinance yang dimiliki bank, diikuti multifinance milik dealer, dan akan terus bertahap ke multifinance lainnya.

"Itu akan berlaku bertahap, tapi yang penting adalah bisa bertahan atau tidak, yang selama ini dananya sudah kering? Hal itu menjadi permasalahan sendiri. Mudah-mudahan perusahaan yang sudah kering dana bisa kembali mendapat kucuran dana dari perbankan," demikian kata Suwandi. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN