Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Polisi Lalu Lintas mengarahkan sejumlah pesepeda jenis road bike, masuk ke dalam jalur yang ditetapkan di kawasan Jalan Sudirman - Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/6/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

Polisi Lalu Lintas mengarahkan sejumlah pesepeda jenis road bike, masuk ke dalam jalur yang ditetapkan di kawasan Jalan Sudirman - Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/6/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

Pesepeda Tidak Disiplin, Jalur Khusus Mubazir

Jumat, 4 Juni 2021 | 11:12 WIB
Bayu Marhaenjati

JAKARTA, investor.id  - Langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun jalur khusus sepeda di Jalan Sudirman-Thamrin, sebagai bentuk responsif perkembangan atau tren penggemar sepeda yang semakin meningkat patut diapresiasi. Namun kenyataannya kerap ditemui pesepeda tidak disiplin dan melintas di jalur kendaraan bermotor, sehingga jalur khusus sepeda menjadi tidak efektif alias mubazir.

Pemerhati masalah transportasi Budiyanto mengatakan, penyediaan jalur khusus sepeda di samping merupakan tuntutan kebutuhan, juga merupakan amanah Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pada Pasal 25 huruf g, setiap jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum wajib dilengkapi dengan perlengkapan jalan berupa fasilitas untuk sepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat.

Polisi Lalu Lintas mengarahkan sejumlah pesepeda jenis road bike, masuk ke dalam jalur yang ditetapkan di kawasan Jalan Sudirman - Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/6/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao
Polisi Lalu Lintas mengarahkan sejumlah pesepeda jenis road bike, masuk ke dalam jalur yang ditetapkan di kawasan Jalan Sudirman - Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/6/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

"Jalur khusus sepeda yang dibangun menyambung di lima wilayah DKI dengan panjang kurang lebih 63 Km, nampaknya tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh para pesepeda, dalan arti mereka (para pesepeda) masih banyak yang keluar dari jalurnya menggunakan jalur kendaraan bermotor. Sehingga jalur sepeda tidak efektif atau mubazir," ujar Budiyanto, Jumat (4/6/2021).

Padahal, tambahnya, kendaraan tidak bermotor dilarang menggunakan jalur kendaraan bermotor apabila sudah tersedia jalur bagi kendaraan tidak bermotor yang diatur dalam Pasal 122 huruf c, Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

"Kurangnya disiplin para pesepeda dan kurang maksimalnya penegakan hukum terhadap pelanggar pesepeda dapat berakibat pada mindset atau pola pikir para pesepeda bahwa pelanggaran yang dilakukan dianggap seakan-akan dibenarkan," ungkapnya.

Polisi Lalu Lintas mengarahkan sejumlah pesepeda jenis road bike, masuk ke dalam jalur yang ditetapkan di kawasan Jalan Sudirman - Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/6/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao
Polisi Lalu Lintas mengarahkan sejumlah pesepeda jenis road bike, masuk ke dalam jalur yang ditetapkan di kawasan Jalan Sudirman - Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/6/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

Budiyanto menyampaikan, kalau dibiarkan budaya permisif secara perlahan dapat terbangun dan dapat menyulitkan banyak pihak. Sehingga perlu dilakukan langkah penegakan hukum yang dibarengi dengan kegiatan preemtif dan preventif.

"Langkah penegakan hukum tentunya harus dibarengi dengan langkah- langkah preemtif, memberikan pemahaman, sosialisasi, dan kegiatan preventif seperti penjagaan dan pengaturan pada lokasi atau jalur sepeda. Kegiatan preemtif, preventif dan penegakan hukum secara tegas dan konsisten akan mendorong pemanfaatan jalur khusus pesepeda dapat dimaksimalkan," katanya.

Sementara itu, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, menyatakan telah melakukan upaya preemtif dan preventif sambil menunggu keputusan terkait standar operasional prosedur (SOP) penegakan hukum terkait pelanggaran yang dilakukan pesepeda.

Polisi Lalu Lintas mengarahkan sejumlah pesepeda jenis road bike, masuk ke dalam jalur yang ditetapkan di kawasan Jalan Sudirman - Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/6/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao
Polisi Lalu Lintas mengarahkan sejumlah pesepeda jenis road bike, masuk ke dalam jalur yang ditetapkan di kawasan Jalan Sudirman - Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/6/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

"Ada upaya-upaya preemtif dan edukatif yang kita sudah lakukan. Alhamdulillah edukasi sudah cukup berhasil, artinya semua masyarakat sekarang paham bahwa apabila di satu jalur itu ada jalur sepedanya, maka pesepeda wajib menggunakan jalur tersebut. Itu sudah kita lakukan," kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Sambodo Purnomo.

Sambodo menuturkan, sejak tiga hari belakangan, petugas juga telah melakukan upaya preventif berupa patroli.

"Pukul 06.30 WIB, ada anggota yang melaksanakan patroli. Kalau ada pesepeda yang berada di luar jam tersebut keluar dari jalurnya, akan kita imbau untuk masuk ke jalur sepeda yang telah disiapkan. Sambil diimbau, sambil pelan-pelan kita giring masuk ke jalur yang telah disiapkan. Nanti kalau upaya preventif dan preemtif tersebut juga belum berhasil untuk merubah situasi lalu lintas menjadi lebih disiplin, lebih tertib, baru kita melaksanakan penegakan hukum," jelasnya.

Ditlantas Polda Metro Jaya, baru akan melaksanakan rapat koordinasi dengan Kejaksaan dan Pengadilan, terkait bagaimana SOP penindakan hukum kepada pesepeda yang melanggar aturan pada pekan depan. Apakah barang bukti yang disita cukup KTP atau sepedanya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN