Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana uji coba pembelajaran tatap muka (PTM)  di SDN Kenari 08 pagi, Jakarta, . Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Suasana uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di SDN Kenari 08 pagi, Jakarta, . Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

PTM Terbatas Sebaiknya Digelar Saat Tren Kasus Covid-19 Menurun

Jumat, 27 Agustus 2021 | 15:21 WIB
Fatima Bona (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id  - Pemerintah kembali menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas untuk wilayah  di level 3, 2 dan 1 pada  pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Pakar pendidikan dari Universitas Paramadina, Totok Amin Soefijanto  mengatakan, PTM tersebut  sebagai langkah untuk menghentikan learning loss. Namun, ia menyarankan, PTM terbatas sebaiknya  diselenggarakan ketika tren kasus Covid-19 menurun, sehingga pelaksanaan  PTM terbatas dapat membiasakan guru dan  siswa untuk belajar tatap muka dengan cara baru. Oleh karena itu, perlu adanya simulasi. 

“DKI Jakarta telah melakukan simulasi PTM terbatas  sekitar 600 sekolah. Simulasi ini penting untuk proses observasi dan mencari prosedur yang tepat pelaksanaan PTM terbatas,” ucapnya saat dihubungi Beritasatu.com, Jumat (27/8/2021).

Totok  menuturkan, ada 5 hal penting  yang  harus diperhatikan sekolah sebelum menerapkan PTM terbatas, yakni;

Pertama,  kesiapan sekolah yakni sarana prasarana dan protokol kesehatan (prokes) serta ada tim Satgas Covid-19. 

Kedua, kepala sekolah, guru  dan  tenaga kependidikan lain  harus sudah divaksin dan  terlatih  untuk  menjalankan prokes.

Ketiga, anak didik  harus  paham prokes dan  harus sudah divaksin untuk anak usia 12 tahun ke atas.

Keempat, orang tua dan  orang dewasa yang tinggal dengan  anak didik wajib sudah divaksin.

Kelima, ada prosedur untuk rem darurat bila terjadi kasus positif  Covid-19  di sekolah.

Selain itu, Amin juga menambahkan, terkait prokes  antara rumah dan sekolah, semua pihak harus terlibat. Dalam hal ini, tidak hanya Dinas Pendidikan, tetapi Dinas Perhubungan juga  harus terlibat memastikan siswa  berangkat dan pulang  sekolah dalam kondisi aman.

Ia mencontohkan, untuk di DKI Jakarta, Dinas Perhubungan juga terlibat dalam penyediaan bus sekolah, Satpol PP ikut menjaga anak didik, guru, dan orang tua menjalankan prokes serta Satgas Covid-19 ikut membina satgas tingkat sekolah.

“Semuanya harus waspada dan siap menginjak rem darurat bila terjadi kasus positif di sekolah,” ucapnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN