Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto saat melepas bibit ikan di Danau Bintaro, Sabtu (29/1/2022).

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto saat melepas bibit ikan di Danau Bintaro, Sabtu (29/1/2022).

Kisah "Ikan Soekarno" yang Jadi Santapan Populer di Irak

Sabtu, 29 Januari 2022 | 12:06 WIB
Markus Junianto Sihaloho

JAKARTA, investor.id - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menceritakan soal “Ikan Soekarno” yang menjadi salah satu ikon kuliner populer di Irak dan banyak disantap saat Ramadhan.

Kisah soal ikan ini diceritakan Hasto untuk menekankan bahwa potensi alam Indonesia tak bisa disepelekan. Ketika potensi seperti ikan saja bisa dirawat dengan telaten, bisa menjadi diplomasi negara yang baik.

Hal itu disampaikan Hasto saat memimpin kegiatan Penanaman Pohon dan Penyebaran Benih Ikan di Danau Kampung Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu (29/1/2022). Acara itu merupakan kegiatan DPP Banteng Muda Indonesia (BMI), sayap pemuda PDIP,  dalam rangka turut memeriahkan HUT Ke-49 PDIP dan HUT Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

Hasto bercerita, Bung Karno datang ke Irak pada tahun 1960-an. Irak adalah negara dengan peradaban luar biasa yang berpusat di Sungai Mesopotamia. Pada 1960, Bung Karno datang ke sana untuk menebar bibit ikan sejenis ikan emas ke Sungai Tigris. Ikan ini lah yang berkembang dan kemudian menjadi salah satu menu makanan warga di sana.

Biasanya saat Ramadhan, salah satu makanan khas Irak adalah masgouf atau sejenis ikan bakar yang memanfaatkan ikan tersebut. “Di Irak ada ikan mas Soekarno, dimana restoran di Baghdad kalau menampilkan ikan mas disebut ikan Soekarno,” kata Hasto.

Hasto mengatakan hal itu untuk menunjukkan bagaimana Soekarno memperkenalkan Indonesia ke dunia melalui potensi lokal Indonesia nan sederhana. Ke Mesir, Soekarno membawa mangga yang kemudian dikembangkan di sana. Di Korea, Soekarno membawa anggrek asal Indonesia. Ke Arab Saudi, Bung Karno membawa sejenis pohon mimba demi menghijaukan Padang Arafah.

“Jangan anggap sepele dan remeh dengan apa yang kita punya. Apa yang kita punya itu, kalau kita rawat dengan cinta, kita kelola dengan baik dan penuh dedikasi, pasti akan memberi manfaat,” kata Hasto.

PDIP pun mengajak agar semua orang berusaha mengenali lingkungannya dan merawatnya dengan baik sehingga bermanfaat. Hasto lalu mengapresiasi kegiatan penanaman pohon untuk penghijauan yang diorganisasi oleh BMI.  “Kalau menanam pohon, lakukan dengan penuh cinta. Lakukan kalau menanam pohon ini saudara memberikan oksigen bagi alam raya. Apalagi kalau pohonnya memiliki manfaat,” kata Hasto.

Pohon yang ditanam di kesempatan itu adalah berbagai pohon buah seperti duku, nangka, sukun, dan lain-lain. Terkait itu, Hasto lalu mengingatkan pesan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri soal penenaman pohon sebaiknya bukan pohon homogen.

“Ibu Megawati memiliki pemahaman detail mana buah dan bunga yang mendatangkan kupu-kupu. Mana pohon yang menjadi komoditas agar burung hadir. Ini mohon maaf, di sini saja selama ini asal menanam. Pohonnya harus Heterogen. Kalau mau menghadirkan ekosistem di lingkungan ada burung, ada kupu-kupu, ada tanaman khusus. Itu yang diceritakan Bu mega ke saya,” utai Hasto.

Hasto menekankan PDIP mendorong agar pemahaman terhadap ekosistem harus jadi perhatian kader PDIP di seluruh Indonesia.

Di acara itu, hadir jajaran BMI yang dipimpin Ketua Umumnya Mochamad Herviano, Sekretaris DPD PDIP Jakarta Gembong Warsono, Ketua DPC PDIP Jakarta Selatan Yuke Yurike, Wakil Camat Bintaro Puput PL, dan Lurah Pesanggrahan Jumadi.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN