Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Joko Widodo (Jokowi)  menyatakan, penurunan jumlah kasus Covid-19 di berbagai negara harus dimanfaatkan  untuk meluncurkan pukulan terakhir terhadap pandemi mematikan itu.
Sumber: Istimewa

Presiden Joko Widodo (Jokowi)  menyatakan, penurunan jumlah kasus Covid-19 di berbagai negara harus dimanfaatkan  untuk meluncurkan pukulan terakhir terhadap pandemi mematikan itu. Sumber: Istimewa

Global Covid-19 Summit

Jokowi: Penurunan Jumlah Kasus Covid-19,Momentum Luncurkan Pukulan Terakhir

Jumat, 13 Mei 2022 | 05:37 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id  – Presiden Joko Widodo (Jokowi)  menyatakan, penurunan jumlah kasus Covid-19 di berbagai negara harus dimanfaatkan  untuk meluncurkan pukulan terakhir terhadap pandemi mematikan itu.

Kepala Negara juga mengajak para pemimpin dunia untuk  bekerja sama mengatasi pandemi serta membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat. Sebab untuk mengatasi pandemi, percepatan vaksinasi harus dilakukan untuk menjangkau 70% penduduk setiap negara.

“Momentum turunnya jumlah kasus saat ini harus dimanfaatkan untuk meluncurkan pukulan terakhir terhadap Covid-19. Vaksin harus secepatnya menjadi vaksinasi. Kolaborasi kita harus menjembatani tantangan vaksinasi, mulai dari pembiayaan, logistik, dan sumber daya manusia,” kata Presiden Jokowi saat  berpidato secara virtual pada Global Covid-19 Summit  di Washington DC, Amerika Serikat (AS), pada Kamis (12/5/2022).

Ia mengatakan, pandemi Covid-19  memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi dunia, yakni ketahanan kesehatan dan kesiapsiagaan dunia terhadap pandemi ternyata tidak cukup kuat. Akibatnya, harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Jutaan orang yang kehilangan nyawanya dan perekonomian dunia pun mengalami keterpurukan.

Baca juga: Air Products Investasi US$ 15 Miliar, Jokowi Perintahkan Menteri Bahlil Tindak Lanjuti

“Oleh karenanya, kita harus bekerja sama mengatasi pandemi serta membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat. Untuk mengatasi pandemi, percepatan vaksinasi harus dilakukan untuk menjangkau 70% penduduk setiap negara,” jelas Kepala Negara.

Ia mengatakan, momentum turunnya jumlah kasus  saat ini harus dimanfaatkan untuk meluncurkan pukulan terakhir terhadap Covid-19. Vaksin harus secepatnya menjadi vaksinasi. “Kolaborasi kita harus menjembatani tantangan vaksinasi, mulai dari pembiayaan, logistik, dan sumber daya manusia,” kata Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi mengatakan, untuk membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat, paling tidak diperlukan tiga hal.

Pertama, akses kesehatan yang inklusif. Disebutkan, seluruh masyarakat tanpa terkecuali harus memiliki akses terhadap layanan kesehatan dasar.

Baca juga:  Presiden Jokowi: Indonesia Siap Jadi Hub Produksi dan Distribusi Vaksin   

"Infrastruktur kesehatan dasar harus memadai dan siap menghadapi pandemi. Di tingkat global, setiap negara besar maupun kecil, kaya maupun miskin, harus memiliki akses yang setara terhadap solusi kesehatan," kata Presiden Jokowi.

Kedua, akses pembiayaan yang memadai. Terkait hal itu, Presiden Jokowi mendorong perlunya mekanisme pembiayaan kesehatan baru yang melibatkan negara donor dan bank pembiayaan multilateral karena tidak semua negara memiliki sumber daya untuk memperbaiki infrastruktur kesehatannya.

"Dukungan pembiayaan kesehatan harus dilihat sebagai sebuah investasi dan tanggung jawab bersama mencegah pandemi," lanjutnya.

Baca juga: Wapres: Target Prevalensi Stunting 14% Harus Dicapai  pada 2024

Ketiga, pemberdayaan. Presiden Jokowi memandang bahwa kapasitas kolektif harus diupayakan dan kerja sama antarnegara menjadi kuncinya. Menurutnya, kerja sama riset, kerja sama transfer teknologi, dan akses ke bahan mentah harus diperkuat.

"Tidak boleh ada monopoli rantai pasok industri kesehatan. Diversifikasi pusat produksi obat, vaksin, alat diagnostik dan terapeutik harus dilakukan. Dengan kapasitasnya, Indonesia siap menjadi hub produksi dan distribusi vaksin di kawasan," kata Presiden Jokowi.

Di akhir pidatonya, Presiden Jokowi menegaskan bahwa presidensi Indonesia di G20 memberikan perhatian besar terhadap kerja sama kesehatan secara inklusif. Untuk itu diperlukan peran dan keterlibatan semua negara, serta penguatan peran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan multilateralisme.

"Tidak boleh ada yang tertinggal dalam upaya kita membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat. Recover together, recover stronger," katanya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com