Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Bank Syariah Perlu Relaksasi FTV

Minggu, 19 April 2015 | 10:37 WIB
ah

JAKARTA – Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) mengharapkan regulator merelaksasi rasio pembiayaan terhadap nilai (financing to value/FTV) pembiayaan perumahan (KPR) dan kendaraan bermotor untuk industri perbankan syariah.

 

Relaksasi tersebut diharapkan dapat menunjang percepatan peningkatan aset dan pembiayaan perbankan syariah yang ditargetkan mencapai 25,8% tahun ini.

 

Ketua Umum Asbisindo Agus Sudiarto mengatakan, untuk mempercepat aset perbankan syariah diharapkan ada relaksasi dari regulator, sehingga ketentuan bank syariah tidak seketat bank konvensional. Tanpa relaksasi, perbankan syariah akan sulit keluar dari jebakan pangsa pasar (market share) yang masih kurang dari 5%.

 

“Kami (Asbisindo) yang mewakili perbankan syariah menginginkan

ada relaksasi terkait FTV pembiayaan KPR dan kendaraan bermotor dari regulator. Jadi Asbisindo berharap, nanti ketentuan FTV kami bisa lebih fleksibel,” ujar dia di Jakarta, Kamis (16/4).

 

Mengenai FTV, Direktur Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Permata Tbk (Bank Permata Syariah) Achmad K Permana menuturkan, bank syariah sempat menikmati keadaan yang menguntungkan saat aturan FTV atau uang muka (down payment/DP) industri ini disesuaikan dengan risk appetite dari masing-masing bank.

 

Kendati saat ini FTV bank syariah dan konvensional hanya berbeda 10%. “Bahkan, ketentuan FTV kami justru lebih besar dari DP perusahaan pembiayaan (multifinance). Hal itu yang membuat pembiayaan kendaraan bermotor bank syariah sangat drop,” papar dia.

 

Sebelumnya, dari sisi industri keuangan nonbank (IKNB) syariah telah ada relaksasi berupa penurunan DP. Pembiayaan murabahah perusahaan multifinance syariah menjadi lebih rendah 5% dari pembiayaan konvensional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menambahkan insentif bagi perusahaan pembiayaan yang menggunakan akad ijarah muntahiyah bittamlik (IMBT) dan musyarakah mutanaqisah (MMQ) dengan tambahan pengurangan DP 10%. Semua relaksasi itu, diberikan guna membuat pangsa pasar IKNB syariah meningkat.

 

Untuk itu, Permana menyatakan, jika relaksasi diberikan tentu dapat menjadi semacam stimulus bagi bank syariah atau roda ekonomi bagi ekonomi Negara Indonesia di masa mendatang. Namun, ia belum dapat menyampaikan besaran penurunan yang diharapkan Asbisindo untuk ketentuan FTV. Menurut dia, regulator yang jauh lebih tepat untuk menentukan FTV tersebut.

 

“Tetapi, Asbisindo sudah memberikan data kepada regulator mengenai FTV. Berdasarkan hal itu, regulator yang akan melakukan analisis mengenai besaran dampak jika FTV ditentukan sampai ke level tertentu. Kalau kami, yang jelas mengharapkan itu (relaksasi) betul-betul akan dieksekusi segera,” ungkap dia.

 

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Otoritas Jasa Keuangan periode Januari 2015, jumlah aset perbankan syariah (bank umum syariah dan unit usaha syariah) tercatat sebesar Rp 263,47 triliun. Sedangkan bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) mencapai Rp 6,58 triliun.

 

Menurut Permana, jumlah aset dan pangsa pasar perbankan syariah masih kecil, bahkan jauh dari bank konvensional. Untuk itu, relaksasi yang diharapkan dapat meningkatkan pembiayaan dan jumlah asset bank syariah tidak akan membuat perbankan syariah menimbulkan dampak sistemik kepada perbankan nasional. (dka)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN