Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Berjuang untuk ASI Eksklusif

Kamis, 23 April 2015 | 12:48 WIB
Oleh Abdul Muslim

Nia Umar memang layak disebut sebagai pejuang Air Susu Ibu (ASI). Tidak hanya mendorong para ibu di Indonesia untuk selalu memberikan ASI ekslusif, ‘Kartini’ ini juga konsisten menerapkan hal tersebut kepada anak-anaknya.

 

Kegigihannya untuk memberikan ASI eksklusif terlihat saat Nia harus memberikan presentasi tentang pentingnya pemenuhan ruang menyusui di perkantoran yang diikuti oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Selasa (21/4).

 

Selama 30 menit memberikan materi, dia tetap menggendong bayi perempuannya yang masih berusia dua bulan sambil menyusui. “Tadi, Nayla (bayi) sudah minta ASI, tapi saya masih harus presentasi. Akhirnya, ya sekalian saja. Karena pakaian yang saya pakai kebetulan memang didesain untuk ibu menyusui, jadi bagian payudaranya tidak akan terlihat walaupun sedang menyusui,” tutur Wakil Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) ini, seusai presentasi.

 

Kepedulian Nia terhadap hak-hak anak untuk mendapatkan ASI ekslusif sebetulnya telah dimulai sejak delapan tahun lalu. Dia pun menjadi salah satu penggagas berdirinya AIMI yang hari ini juga genap berusia delapan tahun. “AIMI awalnya dibentuk karena banyaknya ibu yang mengalami kesulitan untuk menyusui supaya tidak putus di tengah jalan. Karena sebetulnya, ASI merupakan investasi terbaik untuk masa depan anak,” kata ibu tiga anak ini.

 

Nia melanjutkan, keberhasilan seorang ibu dalam memberikan ASI eksklusif salah satunya sangat dipengaruhi oleh peran suami. Karena itu, segala bentuk perhatian dan dukungan yang diberikan suami dapat memunculkan hormon oksitosin yang sangat penting untuk mengalirkan kelancaran ASI.

 

Sebab, keberadaan hormon tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi psikis positif sang ibu. “Suami harus bisa membuat istrinya merasa lebih rileks ketika sedang menyusui. Kepercayaan dirinya juga harus ditumbuhkan kalau dia pasti bisa memberikan ASI eksklusif,” katanya.

 

Bentuk dukungan sederhana yang bisa diberikan suami, antara lain dengan membantu untuk menggendong bayi, membantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, memberikan pijatan lembut, atau menemaninya bergadang ketika anak terbangun di tengah malam.

 

“Dengan perhatian seperti itu, istri akan merasa dicintai, dan itu bisa membuatnya bahagia. Kalau dia bahagia, produksi ASI-nya juga akan lancar,” ujar Nia.

 

Tumbuhkan Kesadaran

Sementara itu, data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013 menunjukkan bahwa cakupan ASI di Indonesia hanya 42%. Angka ini jelas masih berada di bawah target Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang mewajibkan cakupan ASI hingga 50%.

 

Dengan angka kelahiran di Indonesia rata-rata 4,7 juta per tahun, bisa disimpulkan bayi yang memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan hingga dua tahun tidak mencapai dua juta jiwa. Walau mengalami kenaikan dibanding data Riskesdas 2007 dengan cakupan ASI hanya 32%, angka tersebut tetap memprihatinkan.

 

Data tersebut sekaligus menandakan, hanya sedikit anak Indonesia yang memperoleh kecukupan nutrisi dari ASI. Padahal, ASI memiliki peranan penting dalam proses tumbuh-kembang fisik dan mental anak dan akan berdampak jangka panjangnya ketika dewasa.

 

Menanggapi data tersebut, Nia berpendapat bahwa cakupan ASI telah menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan data Riskesdas tahun sebelumnya. Ia pun menyoroti angka cakupan ASI eksklusif pada Riskesdas tahun-tahun sebelumnya yang sempat hanya 15,3%.

 

Meski belum ada data yang menyebutkan cakupan ASI eksklusif pada tahun lalu, Nia mengatakan, gencarnya kampanye menyusui sejak 2007 menunjukkan adanya peningkatan ibu menyusui. Peningkatan cakupan ASI bisa lebih signifikan jika ibu mendapatkan informasi tepat mengenai menyusui.

 

Sementara itu, tantangannya sebenarnya bukan pada kemauan, tapi lebih pada dukungan dari lingkungan sekitarnya. “Ketika mendapat informasi menyusui adalah yang terbaik, semua ibu akan memberikan. Namun seringkali yang terjadi, mereka tidak bisa memberikan ASI karena kurangnya dukungan,” ungkapnya.

 

Nia menjelaskan, ibu bekerja membutuhkan dukungan berupa kesempatan memerah ASI di tempat kerja, fasilitas tempat memerah, dan jam kerja juga semestinya bisa diatur sesuai kebutuhan ibu yang berbeda satu dengan lainnya. “Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam memberikan dukungan kepada ibu bekerja untuk menyusui. Sektor pekerjaan juga turut memengaruhi. Misalnya, teller di bank, saat akan memerah, harus ada yang menggantikan posisinya,” tutur Nia.

 

Dia pun mengidealkan, perusahaan menyediakan daycare, sehingga saat waktunya menyusui, ibu bekerja bisa memberikan ASI langsung kepada bayinya. Fleksibilitas waktu kerja, apalagi jika memberikan kesempatan ibu bisa bekerja di rumah juga bisa menjadi solusi alternatif.

 

Sementara itu, lanjut Nia, solusi jangka panjang, perlunya advokasi cuti melahirkan hingga enam bulan, seperti sudah diterapkan di Vietnam sejak 2012. Dia juga menyampaikan, banyak cara untuk mendukung ibu bekerja menyusui, kuncinya terletak pada komunikasi yang baik. (b1)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN