Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca. ( Foto: JOEL SAGET / AFP )

Vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca. ( Foto: JOEL SAGET / AFP )

BPOM Evaluasi Vaksin Astrazeneca Produksi Thailand

Senin, 15 Maret 2021 | 21:09 WIB
Natasia Christy Wahyuni

JAKARTA, investor.id   – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengatakan pihaknya masih melakukan proses evaluasi atas vaksin AstraZeneca yang diperoleh Indonesia dari jalur kerja sama bilateral. BPOM sejauh ini baru mengeluarkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) atas vaksin AstraZeneca dari jalur multilateral yaitu vaksin gratis dari aliansi vaksin GAVI (Covax Facility).

“AstraZeneca yang bilateral masih berproses karena diproduksi di fasilitas berbeda di Thailand sehingga perlu tambahan analisis yang masih harus diberikan pada April 2021,” kata Penny dalam rapat kerja dengan anggota Komisi IX DPR, Senin (15/3/2021).

Penny mengatakan analisis tersebut berupa studi perbandingan atas data-data vaksin AstraZeneca yang sebelumnya diterima oleh Indonesia.

“Apakah sesuai data sebelumnya dengan produksi vaksin di Thailand yang akan masuk ke Indonesia,” ujarnya.

Penny menambahkan vaksin yang sudah mendapatkan izin penggunaan darurat dari BPOM adalah CoronaVac (Sinovac), vaksin Covid-19 dari Bio Farma, dan vaksin Covid-19 Astrazeneca (AstraZeneca/SK-Bio Korea).

Sedangkan, vaksin yang masih proses evaluasi adalah vaksin Covid-19 AstraZeneca (IDT Biologika Jerman), vaksin SARS-CoV-2 (vero cell) inactivated (Sinopharm, Tiongkok), Sputnik V (Gamaleya, Rusia), dan vaksin Covovax (Novavax, Amerika Serikat).

Untuk vaksin AstraZeneca dari jalur multilateral, Penny menyebut meskipun sudah mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA), namun implementasinya ditunda karena ditemukan laporan efek samping pada vaksin tersebut. Menurutnya, pihaknya masih menunggu konfirmasi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dan The Strategic Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE) terkait keamanan vaksin dari Inggris tersebut.

Namun, Penny menyebut vaksin AstraZeneca dari jalur multilateral yang diterima Indonesia pada 8 Maret 2021 memiliki nomor batch yang berbeda dengan vaksin AstraZeneca yang ditangguhkan penggunaannya oleh sejumlah negara UE. Indonesia telah menerima 1,1 juta dosis vaksin AstraZeneca dari inisiatif WHO dan GAVI.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN