Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Dibanjiri Pendatang, Jakarta Dekati Titik Kritis

Selasa, 4 Juli 2017 | 12:11 WIB

JAKARTA - Kondisi kependudukan di DKI Jakarta sudah mendekati titik kritis. Dengan daya dukung yang ada saat ini, Jakarta hingga 2030 idealnya hanya mampu menampung maksimal 12,5 juta penduduk.


Kenyataannya sekarang saja sudah ada 14,5 juta warga yang beraktivitas di Jakarta pada siang hari. Jumlah penduduk Jakarta sendiri saat ini mencapai 10,2 juta jiwa,” ujar Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat di Jakarta, Senin (3/7).


Itu sebabnya, menurut Djarot, arus urbanisasi yang selalu terjadi seusai Idul Fitri menjadi perhatian Pemprov DKI. Setiap tahun, sedikitnya 65 ribu pendatang baru datang ke Jakarta memanfaatkan momentum arus balik Lebaran. Sedangkan secara keseluruhan, jumlah pendatang ke Jakarta setiap tahun rata-rata mencapai 100 ribu orang.


Bahkan tahun kemarin jumlah pendatang baru mencapai 135 ribu orang. Pernah juga sekitar 140 ribu orang,” tutur dia.


Dia berharap tahun ini semakin sedikit pendatang baru yang menetap di Jakarta. “Kota ini sudah sangat padat, tidak mampu lagi menampung warga daerah lain yang ingin mengadu nasib di sini,” tandas mantan wagub DKI Jakarta itu.


Djarot menjelaskan, dengan luas wilayah sekitar 740 km2, idealnya Jakarta hanya menampung 7,5 juta jiwa. Namun, tahun ini jumlah penduduk Jakarta sudah mencapai 10,2 juta jiwa.


Itu jumlah pada malam hari. Kalau di siang hari, jumlah penduduk di Jakarta bisa mencapai 14,5 juta jiwa. Ini menjadi beban Jakarta. Karena setiap orang yang datang ke Jakarta membutuhkan ruang, tempat, pijakan untuk bisa hidup. Jadi, bukan hanya menyangkut masalah tempat tinggal, tetapi persoalannya macam-macam,” papar dia.


Bila pendatang baru tidak dibatasi, kata Djarot Saiful Hidayat, lama kelamaan Jakarta tidak akan mampu menampung lagi kedatangan warga daerah lain. Akibatnya, perkampungan padat penduduk serta perkampungan kumuh dan miskin akan semakin marak. Itu bakal memicu angka kemiskinan dan kriminalitas.


Karena itu, menurut Gubernur DKI, Pemprov berupaya membatasi pertambahan penduduk DKI Jakarta akibat urbanisasi. Soalnya, batas penduduk di Jakarta pada 2030 maksimal 12,5 juta orang. Batas itu sudah terlampaui bila melihat data penduduk Jakarta di siang hari yang mencapai 14,5 juta jiwa.


Beberapa negara yang kota-kotanya sangat padat penduduk telah menjadi kota yang tertutup. Di Tiongkok, misalnya, Kota Beijing, Guangzhou, dan Shanghai, sekarang sangat ketat bagi pendatang. Tetapi Jakarta belum bisa seperti itu,” ucap dia. (bersambung)


Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/jakarta-tetap-jadi-kota-terbuka/162165

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN