Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Joko Widodo membuka Silaturahmi Nasional (Silatnas) Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD) Tahun 2022 yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat, 5 Agustus 2022. (Foto: BPMI Setpres)

Presiden Joko Widodo membuka Silaturahmi Nasional (Silatnas) Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD) Tahun 2022 yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat, 5 Agustus 2022. (Foto: BPMI Setpres)

Dongkrak Daya Saing RI, Jokowi Sebut Tiga Fondasi Utama

Jumat, 5 Agustus 2022 | 16:44 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

BOGOR, investor.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan tiga fondasi utama yang akan mendongkrak daya saing Indonesia di pentas global. Tiga fondasi utama itu terdiri atas infrastruktur, hilirisasi dan industrialisasi, serta digitalisasi.

“Satu, infrastruktur. Ini mungkin baru akan terasa nanti lima tahun atau sepuluh tahun yang akan datang, tidak bisa instan kita rasakan sekarang. Tetapi, begitu kita berkompetisi dengan negara-negara lain, kalau infrastruktur kita baik, akan kelihatan kita bisa bersaing atau tidak bisa bersaing," kata Presiden Jokowi pada pembukaan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD) Tahun 2022 di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/8/2022).

Hadir pada kesempatan itu, Wakil Presiden RI ke-6 Try Sutrisno, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri BUMN Erick Thohir, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Dudung Abdurachman, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Ketua UMUM PPAD Letnan Jenderal (Purn) Doni Monardo.

Baca juga: Doni Monardo Minta Presiden Naikkan Tunjangan Purnawirawan AD 

Kepala Negara mengungkapkan, dalam tujuh tahun terakhir, pemerintah berhasil membangun jalan tol sepanjang 2.042 km. Selain itu, jalan non tol sepanjang 5.500 km, 16 bandar udara baru, 18 pelabuhan baru, 38 bendungan baru, dan irigasi seluas 1,1 juta hektare.

“Inilah fondasi kita untuk nanti berkompetisi dengan negara-negara lain. Mungkin tidak bisa kita rasakan instan sekarang, dan nanti efeknya akan ke APBN," kata Kepala Negara.

Ia menyebutkan, fondasi kedua adalah hilirisasi dan industrialisasi.

Jokowi secara khusus menyoroti ekspor bahan mentah yang telah dilakukan sejak lama, misalnya nikel. Dikatakan, nilai ekspor nikel dalam bentuk bahan mentah pada 2014 hanya mencapai US$ 1 miliar atau Rp 15 triliun dan melompat berkali-kali lipat setelah ekspor tersebut dihentikan.

“Begitu kita stop. Tahun 2017 distop ekspor bahan mentah nikel, ekspor di 2021 mencapai Rp 300 triliun lebih. Dari Rp 15 triliun, melompat menjadi Rp 300 triliun. Itu baru satu komoditas," kata Jokowi.

Ia mengatakan, dengan melakukan hilirisasi dan industrialisasi, pemerintah mendapatkan banyak keuntungan. Pertama, penerimaan pajak akan meningkat. Kedua, membuka lapangan pekerjaan yang sangat banyak. Untuk itu, pemerintah berencana menghentikan ekspor dalam bentuk bahan mentah untuk komoditas lainnya.

"Setelah nikel inilah, meskipun belum rampung gugatan di WTO, akan kita stop lagi tahun ini mungkin timah atau bauksit. Kerjakan oleh BUMN, bekerja sama dengan swasta. Kalau BUMN dan swasta belum siap teknologinya, mengambil partner, enggak apa-apa. Partner asing untuk transfer teknologi, enggak apa-apa," jelasnya.

Baca juga: Diminta Naikkan Tunjangan  PPAD, Jokowi Akan Minta Menkeu Kalkulasi

Fondasi ketiga, kata Jokowi, adalah digitalisasi, utamanya untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurut Presiden, ada 65,4 juta UMKM di Indonesia, yang semuanya berkontribusi bagi 61% ekonomi Indonesia.

"Jangan lupakan mereka yang kecil-kecil ini. Oleh sebab itu, kita terus mendorong mereka untuk masuk pada ekosistem digital. Ini nanti yang akan menjadi fondasi kuat ekonomi Indonesia, yaitu usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, bukan yang gede-gede," ujarnya.

Ia meyakini, apabila hilirisasi dan industrialisasi dilakukan secara konsisten, produk domestik bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP) ekonomi Indonesia yang saat ini berada pada ranking 15 di dunia akan dapat melompat ke urutan ketujuh di dunia pada 2030 nanti, dan urutan keempat pada tahun 2045.

"Kalau pertumbuhan ekonomi kita baik, GDP kita baik, nanti di 2030 perkiraan kita sudah tiga kali yang sekarang, dari yang sekarang US$ 1,2-1,3 triliun menjadi di atas US$ 3 triliun. Akhirnya apa? APBN kita menjadi menggembung lebih besar," ujar Jokowi.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com